Suara Hati

Suara Hati
Bab. 155


__ADS_3

"Assallamualaikum, ada Ma? Tumben telfon malam-malam?" Tanya Aisyah.


Leah pun menceritakan semua yang terjadi dengan Ceasy, karena Aisyah sangat menyayangi kedua adiknya itu, maka ia memutuskan untuk berbicara dengan Kabir esok hari. Agar semuanya jelas, dan tidak.ada yang tersakiti lagi.


Malam dirumah Syakir, ia kesal jika Kabir dagang dengan tiba-tiba, karena gegara Kabir, Aminah sekarang jadi malas belajar mengaji lagi.


"Assallamualaikum Am......" Salam Kabir dengan penuk suka cita.


"Sssttt Waalaikum sallam, masuk nggak usah pakai teriak-teriak" Kata Syakir menutup mulut Kabir dengan tangannya.


"Wuih tanganmu mambu trasi Kir" Kata Kabir menepis tangan Syakir.


Syakir hanya menyengir, ia baru saja membuat makan malam, ia membuat sambel tempe trasi. Syakir pandai sekali memasak, walaupun sudah tidak ada lagi yang memasakannya, ia bisa masak sendiri. Tetapi, sering kali Leah maupun Aisyah sering mengantar makanan untuk Syakir dan Aminah.


"Nih dari Mama! Makanya nikah biar ada yang masakin" Kata Kabir duduk santai di sofa.


"Wuidih, apa ini. Makasih yaa ganteng deh" Kata Syakir mencolek dagu Kabir.

__ADS_1


"Geli" Kata Kabir.


Malam itu Kabir baru merasa bersalah sudah bersikap buruk terhadap Ceasy siang tadi. Tapi itu yang bisa Kabir lakukan, ia tidak bisa lembut dengan perempuan, karena dia juga belum pernah jatuh cinta kepada perempuan mana pun. Kabir pun berusaha untuk meminta maaf kepada Ceasy melalui pesan.


"Assallamlaikum" Salam Kabir.


Ceasy yang masih berfikir tentang siapa Nisa sebenarnya, dan ia juga masih bertanya-tanya tentang hubungan Kabir dengan Bonna, karena sampai sekarang Ceasy masih belum tahu hubungan yang sebenarnya antara Kabir dan Bonna.


"Sebenarnya....." Kata Ceasy.


Kling.....


"Hah? Kak Kabir, otewe buka" Kata Ceasy bahagia.


"Yahh salam doang, jawab aja dah" Kata Ceasy.


"Waalaikum sallam, ada apa Kak?" Balas Ceasy.

__ADS_1


"Belum tidur?


"Belum" Jawab Ceasy.


"Maaf masapah sore tadi, aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi ini sudah keputusanku Ces, Nisa adalah pilihanku, dan semoga kamu bisa mendapatkan pasangan hidup yang sholeh, dan bisa membimbingmu"


"Baiklah, aku ikhlas kok Kak Kabir dengan yang lain. Lagian kan setelah lulus aku ke Korea, akan dengan mudah aku bisa melupakan perasaan ini" Balas Ceasy.


"Baguslah, tidurlah sudah malam. Assallamualaikum"


"Pura-pura tabah itu menyakitkan. Iki ati dudu cor-coran Kak, huhuhuhu nyeseke" Kata Ceasy mengelus dadanya.


Hari ini hari minggu, sudah setelah subuh tadi Ceasy olahraga di alun-alun dengan Leah dan Ruchan. Dan ternyata Kabir juga sedang lari-lari kecil bersama teman-teman priannya. Mereka terlihat sangat akrab sekali. Ini kali pertama Ceasy melihat senyum dan tawa lepas di wajah Kabir.


"Ces, Mama harap nanti keputusan kamu itu yang terbaik ya. Kak Aisyah akan datang jam 10 an nanti, buat membahas kuliahmu di Korea" Kata Leah menyentuh paha Ceasy.


"Iya Ma, Ceasy juga sudah mantap kok" Kata Ceasy dengan senyuman.

__ADS_1


Ceasy pura-pura tidak melihat Kabir, agar ia bisa melirik senyum Kabir yang begitu indah di matanya. Ceasy yakin, jika suatu hari nanti, jika mereka berjodoh, Allah akan menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang di ridhai Allah. Kini Ceasy hanya akan membuktikan, bahwa dirinya mampu menerima kenyataan perasaan Kabir, karena laki-laki yang ia cinta memilih cinta yang lain, maka ia juga akan memilih jalan lain untuk mengejar apa yang ia cita-citakan, yaitu membanggakan Ruchan dan Leah, selaku orang tua sambung baginya.


__ADS_2