Suara Hati

Suara Hati
Bab. 162


__ADS_3

Karena Ceasy maksa minta keluar, akhirnya Kabir tetap menemaninya walau dengan mulut yang seperti bisa di kuncir seribu. Sepanjang jalan hanya memasang wajah suram.


"Kak, senyum ngapa?" Tanya Ceasy.


"Hufft, udah ah yuk pulang. Panas banget gini, sebentar lagi itu maghrib tau, kenapa nggak nanti malam aja sih jalan-jalannya" Kesal Kabir.


"Emang mau nanti malam ngajak aku keliling, mau kak!" Kata Ceasy manja.


"Iya, iya. Tapi sekarang kita pulang dulu, aku mau ngabari Nisa" Kata Kabir berjalan di depan.


"Teros, teros, teros aja sebut. Biar orangnya muncul, kesel deh aku" Kata Ceasy merapikan jilbabnya yang sudah mulai longgar.


Malam yang di tunggu Ceasy telah tiba, ia menagih janji Kabir yang katanya ingin mengajaknya jalan-jalan. Karena Balqis juga mengajak Syakir dan Aminah jalan-jalan bersama, maka Ceasy pun mengikuti mereka.

__ADS_1


"Kalian mau kemana? Boleh ikut?" Tanya Ceasy sambil menarik lengan Balqis.


"Boleh dong, lebih rame lebih asyik. Kak Kabir mau ikut juga?" Tanya Balqis.


Kabir hanya diam dan acuh kepada Ceasy. Selama dua hari mereka di Singapura, setelah itu mereka pulang dan segera mendiskusikan pernikahan Syakir dan Balqis, yang ingin di adakan secara sederhana saja, karena itu permintaan Balqis.


Di Jepang, Akbar sudah siap mengantar Fatim ke Jogja, ia harus tugas ke luar kota dengan waktu yang tidak bisa di tentukan. Karena itu Fatim dan Falih harus pulang ke Jogja. Setelah sampai di Jogja pun Akbar juga langsung pamit untuk berangkat lagi.


"Aku langsung aja ya, salam buat Ayah nanti, maaf nggak bisa nunggu Ayah pulang" Kata Akbar mencium kening Fatim, lalu mencium Falih.


Akbar kembali mencium kening istrinya itu, lalu pergi dengan senyuman. Berat meninggalkan keluarga, namun itu sudah menjadi tugasnya. Fatim juga memberikan senyuman hangat kepada Akbar, agar Akbar bisa tenang meninggalkannya beserta dengan Falih.


Selama hampir empat tahun pernikahan, Fatim belum pernah terpisah jauh dan lama dengan Akbar, ini kali pertamanya ia harus menjalankan kehidupan sehari-harinya berdua dengan sang putra.

__ADS_1


Malam itu, Fatim tidak bisa tidur, bukan hanya sekali dua kali Fatim tidur malam sendirian, ia juga sering tidur malam sendiri di saat Akbar shift malam, namun ini karena ia sedang jauh dengan Akbar, Falih juga malam itu tidur dengan kakeknya.


"Kok Abang belum kasih kabar ya? Ya Allah, lancarkanlah pekerjaan suami hamba, jaga dia untuk kami Ya Allah, sehatkan jiwa dan raganya, agar bisa kembali pulang bersamaku. Amin amin ya rabb" Do'a Fatim.


Setelah berdoa dan memandang potret suaminya, Fatim bisa tidur dengan tenang. Sampai menjelang subuh, Fatim tertidur sangat nyenyak, sampai Akbar menelfonnya ia tidak mendengarnya.


"Nyenyaknya Mama Falih ini bobok, sampai-sampai telfonku nggak diangkat. Aku sudah sampai yang, mungkin kita akan jarang komunikasi, karena disini sinyalnya susah sekali, aku akan berusaha selalu kasih kabar untukmu. Wassallamualaikum, aku mencintaimu"


"Waalaikum sallam, maaf ya Bang. Aku ketiduran" Kata Fatim dalam hati.


Pagi ini, Fatim mengajak Falih mengunjungi Aisyah, ia juga membawakan beberapa oleh-oleh yang dibawanya dari Jepang untuk Yusuf. Sesampainya di rumah Aisyah, tiba-tiba Fatim pingsan. Kabar gembira yang Aisyah ucapkan.


"Wow Fatim, selamat ya. Bang Falih akan memiliki adik hihihihi" Kata Aisyah.

__ADS_1


"Alhamdulillahirobbil 'alamin. Tapi Abang belum bisa aku hubungi lagi Kak" Kata Fatim mengusap-usap perutnya.


Aisyah pun memeberinya semangat dan pengertian, siapa yang menyangka, empat tahun lalu, ia divonis akan sulit hamil, karena kekerasan dan pelecehan yang telah di lakukan oleh teman pesantren kilatnya. Tetapi kini, ia bisa hamil dan bahkan hamil lagi.


__ADS_2