
Sesampainya di rumah, bukan hanya Sandy yang Leah marahi. Namun, Ruchan pun ikut kena marah oleh Leah karena penyebab pertama kekacauan itu karena hukuman yang Ruchan buat.
"Astaghfirullah hal'adzim. Kakak! Abi! Kalian ini udah berumur, udah di sebut Kakek juga sama si Airy dan Raihan. Masa iya kelakuan kek bocah gitu sih? Mana di depan semua santri lagi. Di mana wibawa kalian hah?" Kesal Leah.
Kabir, Akbar dan Ceasy malah menyaksikan para bapak itu di marahi sambil memakan pisang goreng buatan Ika.
"Ada apa sih? Tanya Syakir.
"Biasa, kita nikmati saja pemandangan ini" Bisik Akbar.
"Sanaan dikit dong, aku juga mau lihat!" Kata Syakir ikut-ikutan duduk di sofa.
"Ma udah dong, di depan anak-anak juga. Ini semua salah Mas Sandy, masa dia nglempar sandal kena pipi mulus nya Abi. Padahal Abi gak salah loh Ma, Abi jalan lempeng aja, tiba-tiba di lempar sandal" Kata Ruchan mengelus-elus pipinya.
"Gak sengaja itu Le, bener deh" Kata Sandy membela diri.
"Bohong Ma. Itu di sengaja karena Mas Sandy kesal Abang lebih sayang kita Ma" Kata Ruchan.
__ADS_1
"Woo kampret!" Kata Sandy.
Kabir, Akbar, Ceasy dan Syakir pun tertawa melihat tingkah Abi dan Omnya mereka. Hingga tidak sadar bahwa pisang goreng yang ada di depan mereka sudah habis.
"Kalian juga ngapain disini? Masuk kamar!" Kata Leah galak.
Mereka pun masuk ke kamar dengan cepat. Bahkan Kabir sampai terjatuh karena sarungnya keinjak oleh Ceasy saat berlari. Membuat Sandy dan Ruchan tertawa karena Kabir memakai kolor sponge bob pemberian Aisyah.
"Apa yang lucu? Kalian berdua aku hukum tidur di ruang keluarga, gak mau tau!!" Kata Leah.
Akbar dan Kabir masuk di kamar mereka. Kali ini mereka tidur di kamar tamu, karena malam itu Syakir dan Ika menempati kamar dimana mereka bertiga tempati dulu.
"Huh huh huh, Mama kalau tatapannya udah kayak sekertaris kelas serem banget. Matanya itu loh, udah kayak lihat penjahat aja" Kata Syakir dengan nafas terengah-engah.
"Aaaa Astaghfirullah hal'adzim" Teriak Ika langsung berbalik, karena Syakir tidak sengaja melihatnya tanpa mengenakan hijab.
"Maaf!" Kata Syakir juga berbalik ke arah pintu.
__ADS_1
"Tapi, kita kan sudah sah menjadi suami istri. Gak dosa dong jika lihat kamu tidak mengenakan jilbab?" Tanya Syakir gugup.
"Iya juga sih. Tapi Ika belum siap Ustad" Jawab Ika cepat-cepat mengenakan hijabnya.
Syakir masih saja menghadap ke pintu, hingga Ika bilang bahwa dirinya sudah berhijab.
"Ika sudah pakai jilbab Ustad" Kata Ika.
"Hufft, maaf ya" Kata Syakir berbalik.
Syakir mulai berjalan mendekati Ika. Ini kali pertama bagi mereka berdekatan seperti itu. Ika telah salah faham, ia memejamkan matanya. Ia fikir Syakir akan melakukan sesuatu terhadapnya.
"Ya Allah, apa Ustad Syakir mau melakukan malam ini juga ya? Tapi aku belum siap Ya Allah. Bagaimana ini" Kata Ika dalam hati.
"Ika! Kamu kenapa tutup mata? Maaf ya, aku mau ambil handuk yang sudah kamu siapkan itu, aku mau mandi" Kata Syakir di telinga Ika.
Ika langsung melompat menjauh ketika Syakir bernafas di telanganya. Entah perasaan apa, tapi hal itu membuat Ika takut, malu dan salah tingkah. Di tambah lagi, ketika Syakir hendak masuk ke kamar mandi, ia mengedipkan matanya kepada Ika.
__ADS_1
Ika semakin gugup dengan apa yang di lakukan Syakir. Hal itu di ajarkan oleh Akbar sebelum mereka menyaksikan Leah marah-marah dengan Ruchan dan Sandy waktu itu.
Akbar menyuruh Syakir agar ia bisa nakal sedikit dengan Ika. Itulah cara meredakan rasa gugup di hati Syakir ketika berdua di kamar dengan Ika.