
Tatapan Fatim selalu menunduk, ia merasa malu. Merasa dirinya tidak pantas memandang orang lain dengan tegak. Merasa tidak pantas berada di antara keluarga Akbar.
"Kamu yakin Akbar?" Tanya Pak Fikri.
"Bismillahirrohmanirrohim, Saya yakin, saya ingin Fatim menjadi istri saya, bagaimanapun dengan keadaannya" Jawab Akbar mantap sambil memandang Fatim.
"Ruchan?" Tanya Pak Fikri.
"Aku sih terserah Akbar, kamu tenang saja. Anakmu akan kami sayangi sepenuh hati" Jawab Ruchan menepuk bahu Pak Fikri.
"Lalu Papanya Akbar?" Tanya Pak Fikri.
"Pak Lhek tenang saja, Alhamdullah kita semua bisa terhubung dengan Om Sandy yang ada di Jepang. Ini dia" Kata Kabir menunjukkan ponselnya, Sandy tetap bersama di tengah-tengah mereka walaupun itu hanya melalu video call.
"Keluarga seperti apa mereka ini. Jelas-jelas aku ini sudah......Astaghfirullah hal'adzim, aku harus bagaimana, bersyukur telah memiliki keluarga seperti keluarga Akbar. Atau menangis di atas penghianatanku karena tidak bisa menjaga kehormatanku" Kata Fatim dalam hati.
"Assallamualaikum" Salam seseorang dari belakang
"Waalaikum sallam......."
__ADS_1
"Siapa Bi?" Tanya Aisyah.
"Abi juga nggak tau Kak" Jawab Ruchan.
"Silahkan masuk Pak" Kata Kabir.
"Perkenalkan, saya temannya Pak Camat, saya penghulu dari dusun sebelah. Pak Camat bilang untuk menikahkan anak nya Pak Fikri katanya" Kata seorang laki-laki yang mengaku sebagai penghulu.
Kata Pak Rt Rw pun juga Pak Camat tidak bisa hadir karena sedang ada urusan di luar kota. Sehingga beliau meminta bapak penghulu sebagai penggantinya.
Entah mengapa semua warga juga tau akan kemalangan yang telah terjadi kepada Fatim. Banyak juga yang nyinyir tentangnya. Namun lebih banyak orang yang mendukung dan memberi semangat kepada Fatim.
"Kami disini selalu mendukung Mbak Fatim, semangat ya. Mbak Fatim harus lalui musibah itu dengan hati dan fikiran yang jernih. Kita tuntut sama-sama laki-laki biadap itu" Sorak seorang Ibu-ibu di dari luar rumah.
"Iya Mbak Fatim, kami juga perempuan, siap membela Mbak Fatim, buat Ustad Akbar! Tolong jaga selalu Mbak Fatim untuk kami" Kata Ibu yang lainnya.
Fatim sangat terharu dengan apa yang di lakukan oleh Ibu-ibu itu. Ia tidak tau harus berkata apa lagi, hanya bisa bersyukur dan berterima kasih kepada semua orang yang telah menyayanginya dengan tulus.
"Baik kita mulai ya" Kata Penghulu itu.
__ADS_1
Penghulu
"Bismillahirrohmanirrohim, Ankahtuka Wazawwajtuka makhtubataka Fatimah Jodha Jaelani binti Bapak Fikri Muh Najjat Alal mahri seperangkat alat sholat dan uang tunai Hallan"
Akbar.
"Qobiltu nikaha Fatimah Jodha Jaelani binti Fikri muh Najjat Wa Tazwijaha Alal Mahri Madzkur Wa Radhiitu Bihi, Wallahu Waliya Taufiq"
"SAH!!"
Doa-doa di sematkan oleh penghulu, kini Akbar da Fatim telah menjadi suami istri sah secara agama. Dua bulan lagi resepsi mereka akan di adakan di rumah Fatim. Awalnya Akbar ingin mengadakan resepsi di rumahnya yang berada di Jepang.
Sampai putusan sidang Fatim dan Arfan selesai, baru Fatim akan ikut ke Jepang bersama dengan Akbar dan Sandy. Karena acaranya begitu mendadak, dan suasana hati Fatim tidak baik, maka semua orang akan langsung pulang.
"Eh Pak Rt, Pak Rw dan Ibu bapak mau kemana? Kesini dulu, sebentar lagi makanan akan sampai, masa iya tidak mau selametan dulu sih" Kata Leah.
"Ah kita ndak enak Bu kalau suasana sedang....." Kata Pak Rt.
"Ndak papa kok Pak, sudah terlanjur pesan banyak juga. Ayo duduk lagi semuannya" Kata Kyai Ikhsan.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, makanan yang di pesan Leah pun sudah datang. Semua orang menyantap makanan itu bersama-sama dengan suka cita, karena tidak ingin membebani fikiran Fatim lagi.