Suara Hati

Suara Hati
Bab. 65


__ADS_3

Di malam yang dingin itu. Sandy sedang berjalan-jalan bersama Irene di taman pesantren setelah sholat Isya'. Mereka berdua memanfaatkan waktu bisa bertemu setelah sebulan lamanya berpisah. Karena ini pernikahan putra bungsu pesantren, Irene tentunya datang karena yang menikah juga keponakan dari Sandy.


"Dingin gak sih? Kamu cantik deh pakai mukena gitu" Kata Sandy.


"Haih, jarang banget aku sholat. Kalau gak di pesantren, aku juga gak tau bisa sholat atau enggaknya" Kata Irene melipat sajadahnya.


"Tapi cantik loh, lebih alami gitu. Apalagi tanpa make up gini" Kata Sandy mengangkat jempolnya.


"Iyalah, gue gitu. Janda semakin di depan" Kata Irene dengan menegakkan kepalanya.


"Iya jendes dua kali. Hahaha hebat kau Maemunah" Kata Sandy.


"Iya dong, Irene gitu Hahaha" Kata Irene.


"Sampai lupa kalau udah Nenek-nenek ya, hhmmm warbiyasahh" Kata Sandy.


Pertengkaran kecil Irene dan Sandy dimulai. Mereka bertengkar seperti ABG yang baru melakukan pendekatan. Hingga Seto dan Farhan lewat menggodanya.


"Wooo wes tuo, ingat udah kakek nenek, ini pesantren bukan tempat pacaran!!" Sorak Farhan.


"Tau nih, Tante sama Om malah bikin contoh minus" Kata Seto.


"Wehh emang hp second harus tanya minusnya! Ehh mereka kan emang second haha" Ejek Farhan.

__ADS_1


"Paijo!!" Kata Sandy melempar sendal ke arah Farhan.


Namun sendal itu malah melayang mengenai wajah Ruchan yang juga sedang melintas di taman pesantren. Di belakangnya juga ada Kabir dan Syakir yang baru saja pulang dari masjid.


"Astaghfirullah hal'adzim" Ucap Ruchan.


"Wah parah ini Mas Sandy. Ruchan yang ndak tau apa-apa saja di lempar pakai sendal loh!. Ckckck" Kata Farhan.


Ruchan menatap Sandy dengan tatapan dingin. Sementara Farhan, Akbar, Kabir dan Seto malah semakin memanas-manasi Ruchan agar marah kepada Sandy.


"Wah parah! Sandal loh Bir, ckckck. Bi, pipi Abi jadi ada lumpurnya itu" Kata Akbar.


"Hayo lo Mas Sandy, hayo lo, hayo lo!" Kata Farhan sambil teput tangan.


"Itu kotor loh Bi. Om Sandy, bersihin dong pipi Abi. Kotor nih kena lumpur" Kata Kabir.


Sandy dan Irene pun mendekati Ruchan dengan wajah tanpa dosa. Melihat tatapan Ruchan yang dingin dan hanya diam. Sandy berusaha mengelak dari perbuatannya.


"Assallamualaikum Pak Ustadku yang ganteng, eh pipinya kotor ya. Aku lap dulu ya, adikku yang baik" Kata Sandy mengelap pipi Ruchan menggunakan sarungnya.


"Haccchuuuu, alhamdulillahirobbil'alamin" Ucap Ruchan ketika bersin mencium bau sarung milik Sandy.


"Sandy! Sarung kamu gak kamu cuci? Lihat sahabatku yang ganteng ini jadi bersin kan?" Kata Irene cengar-cengir.

__ADS_1


"Kalian berdua aku hukum. Mas Sandy bersihin toilet, yang akan di awasi oleh Farhan. Dan Irene, kamu harus setor satu surah Al kautzar. Itu gampang banget. Setor nanti subuh!!" Kata Ruchan.


"Apa?" Tanya Sandy dan Irene bersamaan.


"Ruchan jangan gitu dong, terakhir aku baca itu di Kairo saat sama si Ipin. Jangan ya, yang lain lah ya. Pliss" Pinta Irene.


"Gak ada! Mas Sandy ingat!! Malam ini juga. Awasi dia Han!" Kata Ruchan sambil membersihkan lumpur di pipinya.


"Assallamualaikum" Salam Ruchan.


"Waalaikum sallam"


"Kamu sih San, cari perkara aja deh ah" Kesal Irene.


"Hahahaha bersihin toilet. Selamat menikmati Papaku yang comel, coro melet" Goda Akbar.


"Anak gemblung! Pergi sana!" Kata Sandy menendang kaki Kabar.


"Assallamualaikum Om Sandy, Tante Irene" Ucap Kabir dengan menahan tawanya.


"Waalaikum sallam"


"Makanya jangan pacaran, ayo Mas! Aku antar ke toilet hahaha" Kata Farhan sengaja mengejek Sandy.

__ADS_1


Ruchan, Kabir dan Akbar tertawa dengan apa yang malam itu terjadi. Mereka tidak menyangka jika Sandy akan menurut dengan hukuman yang di berikan kepadanya.


Dan kenapa surah Al-Kautsar? Karena dulu ketika Ruchan, Farhan, Arifin dan Irene di Kairo, mereka memiliki kenangan yang lucu akan surah itu. Bahkan membuat Irene menyerah jika dipinta untuk menghafal surah itu.


__ADS_2