Suara Hati

Suara Hati
Bab.69


__ADS_3

Ketika Jamil dan Kabir sibuk memasak, Akbar malah sedang berbaring di bawah langit yang di hiasi bintang-bintang di malam yang dingin itu.Terbayang akan senyuman manis Fatim.


"Nih selesai, yuk makan. Mana tadi baksonya Mil" Kata Kabir menyiapkan hasil masakannya.


"Ada nih, tetap anget. Aku deketin tungku soale. Untung ora kobong (terbakar)" Kata Jamil cengigisan.


"Bang! Abang ayo sini. Senyum-senyum sendiri kayak orang G gitu deh" Kata Kabir mengambilkan nasi untuk Akbar.


"G? Gila maksut mu?" Tanya Akbar.


"Hahahaha baru tau lu Bir. Nih Abang lu dari dulu memang gila ini" Kata Jamil.


Setelah menikmati makan malam bertiga, mereka bercanda ria, dan berceria tentang kehidupannya masing-masing.


"Bir, di kemiliteran itu, enak ya?" Tanya Jamil.


"Tergantung sih!" Kata Kabir.


"Mati dong, tergantung. Dosa tau" Kata Jamil.


"Receh lu!" Sorak Akbar menepuk bahu Jamil menggunakan buku yang sedang di bacanya.


"Iya tergantung, jika kita masuk militer karena cita-cita dan keinginan sendiri. Ya semua itu akan menjadi mudah, lebih ikhlas gitu. Berbeda dengan mereka yang masuk militer karena desakan keluarga. Yaa pasti tau sendiri lah maksut aku" Kata Kabir menyandarkan tubuhnya di pohon.

__ADS_1


"Kalau Akbar mah sebagian aku dah tau. Ada yang mau denger ceritaku gak?" Tanya Jamil.


"Gak!" Kata Akbar.


"Akbar!" Teriak Jamil.


"Abang ah, cerita aja Mil. Kan kita juga baru akrab gini, siapa tau kalau kamu cerita akan meringankan beban fikiranmu" Kata Kabir.


Jamil pun bercerita tentang kehidupan masa kecilnya, hingga masa-masa kuliah bersama dengan Ilham. Menyaksikan cinta Sera dan Ilham, sampai menjadi sahabat-sahabat para santri di pesantren.


"Sabar ya bro" Kata Kabir.


"Eh Bar, kalau di Jepang itu......" Tanya Jamil yang membuat Akbar menunjukan wajah datarnya.


"Opo? Hah! Jepang itu apa?" Tanya Akbar.


"Abang ah. Biarin Jamil bertanya dulu dong, jangan pasang muka galak gitu dong" Kata Kabir.


"Ah kamu gak tau dia sih, aku sama Syakir udah males kalau dia ngomongin Jepang. Bawaannya nafsu dia. Dia kan mesum banget, masa iya ngajarin Ceasy tentang kakek legend sih. Kan gak lucu" Kata Akbar.


"Lha aku mung meh ngasih teka-teki loh Bar" Kata Jamil.


"Teka-teki apa! Sini biar aku jawab" Kata Kabir.

__ADS_1


"Hehe ndak jadi" Kata Jamil.


"Aku bilang juga apa, dia ini orangnya ndak jelas. Jomblo lagi" Kata Akbar.


"Lambene Akbar lemes koyo ibu-ibu tukang ghibah" Kata Jamil.


Suasana malam itu semakin hangat karena Jamil menyalakan api di tungku, walaupun bukan api unggun. Tapi itu sudah lebih hangat karena Jamil memetik gitarnya dan mulai bersenandung.


"Bang, emang Abang udah bulet tuh tentang lamaran itu?" Tanya Kabir.


"La la la la, bulet tapi bukan tekad. Apa tuu" Kata Jamil bersenandung.


"Dan tegak tapi bukan keadilan, itulah sifat Akbar" Goda Jamil.


"Wah, wah, wah, parah nih bocah. Efek jomblonya udah karatan. Bahaya yakin bahaya" Kata Kabir.


"Apa ku bilang, dia ini otaknya ngeres mesum gitu. Butuh ruqiyah Bir nih bocah!" Kata Akbar.


Jamil tertawa terbahak-bahak. Kabir dan Akbar yang gemas pun langsung menyerang Jamil. Mereka seperti tiga kucing yang sedang berkelahi memperebutkan ikan asin. Akbar melepas baju Jamil, dan Kabir pun mepelepas celana panjang Jamil.


Kini Jamil hanya mengenakan kolor dan kaos dalam saja. Tubuh Jamil kalah kuat dengan Akbar dan Kabir, karen tubuhnya kecil tak berisi. Di ikatlah dia menggunakan sarung dan di ikat juga tubuhnya di pohon dekat kursi milik Ilham di taman itu.


"Kampret, pret, pret. Asyem koe Akbir! Akbar Kabir! Dasar jomblo" Teriak Jamil.

__ADS_1


"Jamil, mil, mil. Karma is real" Bisik Akbar.


Akbar dan Kabir pun tertawa, mereka puas membuat Jamil menjadi bahan candaannya. Hanya bercanda, bukan bully an ya. Karena membully itu tidak baik, dan berakibat fatal jika sudah mempengaruhi mental.


__ADS_2