
Di rumah Fatim, Pak Fikri meminta Fatim dan Akbar untuk segera tidur dan melupakan kejadian yang sudah berlalu. Sedikit demi sedikit Pak Fikri sudah bisa tidur nyenyak, berbeda dengan hari sebelumnya yang membuat dirinya jatuh sakit juga. Dengan apa yang telah menimpa putrinya itu.
Di kamar,
"Aku mandi dulu ya, kebetulan aku bawa baju ganti di tasku. Kamar mandi nya dimana?" Tanya Akbar.
"Itu sebelah kiri dapur, Abang mau minum sesuatu? Biar aku buatkan!" Tanya Fatim.
"Boleh deh, teh anget aja ya" Kata Akbar.
Akbar pun masuk ke kamar mandi, dan Fatim sedang membuatkan teh hangat untuk Akbar. Sambil menunggu Akbar selesai mandi, Fatim merapikan dapur dan memasukkan sisa makanan tadi ke kulkas agar tidak busuk.
Setelah selesai dengan dapur, Fatim masuk ke kamar dan merapikan kamarnya. Dengan sangat hati-hati Fatim merapikan ranjang yang tidak terlalu besar itu. Setelah selasai, ia duduk termenung di sudut kasur dan menatap ke jendela.
"Andai saja waktu bisa terulang kembali, aku tidak akan pulang telat sore itu. Aku menjadi tidak enak hati dengan Akbar kalau kayak gini" Batin Fatim.
__ADS_1
"Assallamualaikum" Salam Akbar yang baru saja selesai mandi.
Namun Fatim tidak menjawab salam Akbar, ia sedang melamun duduk di sudut kasur. Akbar berusaha mendekati dan bertanya kepadanya.
"Assallamuailaikum ya zawjati" Kata Akbar mencolek pipi Fatim.
"Jangan!" Teriak Fatim kaget.
Akbar yakin jika Fatim masih mengalami trauma berat. Buktinya saat ia colek, Fatim langsung menghindar dan berkata 'jangan'.
"Abang! Maaf Bang, aku bisa belum bisa....... " Mata Fatim mulai berkaca-kaca.
Awalnya Fatim ingin melepaskan pelukan Akbar karena belum terbiasa di peluk oleh laki-laki lain kecuali Ayahnya. Namun Fatim masih bisa berfikir jernih, kalau Akbar sudah menjadi suaminya, dan pelukan Akbar juga memberi kenyamanan untuk Fatim.
Fatim mulai menangis di peluakan Akbar. Akhirnya, malam itu, malam dimana Fatim bisa mencurahkan semua bebannya kepada Akbar, ia merasa nyaman dala pelukan Akbar, bisa mengatakan semuannya telah membuat hati dan fikiran Fatim merasa lega.
__ADS_1
"Duduk dulu, aku pegel nih. Boleh minta pijat nggak?" Tanya Akbar.
Fatim hanya duduk terdiam memandang ke arah Akbar.
"Bercanda, sekarang kamu tidur dulu. Aku harus chek laporan dan mengirimkannya ke Yasha sahabatku. Aku sudah memutuskan untuk mendaftarkan nama kita ke KUA besok juga, dan pernikahan kita bisa sah secara Negara juga" Kata Akbar.
"Tapi bagaiman bisa? Waktunya juga tidak sedikit kan? Abang harus pulang ke Jepang" Kata Fatim.
"Itulah gunanya punya banyak saudara Fatim. Tadi Abi telfon, penghulu yang tadi menyuruh, kita ke KUA besok, dia bakal bantu kita mengurus surat nikah kita. Sebelum kerumah sakit tapi" Jelas Akbar.
"Dan masalah tiket penerbangan, udah di batalin sama Kabir, dan di pesankan lagi penerbangan jam 11 siang. Dan soal paspor, visa dan kebutuhan kamu nanti di Jepang, udah Jamil yang siapkan. Kenal Jamilkan? Jadi setelah 1 bulan sidang putusan selesai, kamu sudah bisa terbang ke Jepang, Kak Clara yang akan menemanimu. Aku jemput nanti, kalau nggak, aku akan meminta Abi dan Mama yang mengantarmu" Sambung Akbar.
"Lah nangis lagi, jelek tau ah nangis terus. Senyum dong" Kata Akbar melebarkan bibir Fatim.
"Umm, sakit. Aku terharu sama keluarga Abang, kalian semua kompak. Dan bisa menerima aku apa adanya. Aku sudah nggak pera....." Kata-kata Fatim terpotong.
__ADS_1
"Kalau sudah tidak perawan kenapa? Mungkin sedikit kecewa karena yang buat kamu seperti ini laki-laki brengsek itu. Tapi aku sayang sama kamu, dan yang terpenting kamu juga sayang sama aku. Dann Ana Uhibbuka Fillah, kita basuh hitam hidup kita bersama-sama" Kata Akbar seraya mencium kening Fatim.
Hati wanita mana yang tidak meleleh dengan keromantisan Akbar, begitu sangat mencintai Allah dan Fatim, ia bisa menerima Fatim apa adanya. Karena apa yang menimpa Fatim itu adalah musibah, bukan atas dasar suka sama suka.