
Pulang dari belanja, di rumah sudah ramai sedang masak-masak. Leah, Aisyah dan Ika sedang memasak bersama, dan Kabir sedang merapikan tempat untuk makan.
"Ini si Jamil kenapa ikutan sih?" Tanya Akbar.
"Opo se Bar? Suka-suka ku lah!" Kata Jamil sensi.
"Kabir!" Kata Akbar.
Kabir menunjuk Ceasy,
"Kok aku sih? Aku nggak ajak Kak Jamil kok" Kata Ceasy memebela diri.
Padahal memang Ceasy dan Jamil bersekongkol untuk bisa ikut ke Jepang. Bertengkar lucu lah mereka ber empat. Leah sangat bahagia melihat semua anak-anaknya berkumpul seperti itu.
"Om Abang, Airy mau punya adek loh. Om Abang kapan punya adek? Kata Pak Lhek Syakir, dia lagi otw bikin adek" Kata Airy polos.
Semua orang pun tertawa, malam tanpa Ruchan waktu itu sangatlah menggembirakan. Terlihat senyum lebar di bibir Fatim, dan terpancar kebahagiaan di wajah Akbar.
Malam semakin larut, anak-anak kali ini tidur dengan Leah dan Ceasy. Sedangkan Kabir dan Jamil masih menikmati pemandangan Jepang. Syakir dan Ika juga sudah masuk kamar, begitupun dengan Aisyah, Rifky, Akbar dan Fatim.
Dikamar Aisyah.
__ADS_1
"Mas, jangan gini dong. Nih di dalam ada anaknya loh" Kata Aisyah.
"Peluk dikit masa iya nggak boleh sih. Kalau nggak boleh peluk kiss dong. Dingin banget di sini, bisa dong anget-anget" Goda Rifky.
"Aku lagi hamil sayang, masa iya kita mau melakukan sih? Bahaya tau, baru trimester awal" Kata Aisyah.
"Yahhhh kecewa, kalau gitu bobok peluk yaa. Nggak boleh nolak!" Kata Rifky langsung memeluk Aisyah.
"Aw, sakit. Pelan-pelan dong" Jerit Aisyah.
Di kamar Syakir,
Syakir dan Ika hanya diam saja, ternyata masih malu-malu. Sambil berselimut berdua, mereka berdua hanya cerita saja, dan tidak melakukan hal yang mengarah ke sana.
"Belum Ustad, dingin juga ya di sini?" Jawab Ika.
"Sini, kita tidur saja ya" Kata Syakir memeluk Ika.
Jantung Ika berdetak sangat kencang hingga Syakir pun bisa mendengarnya. Syakir hanya tersenyum dan memeluk Ika dengan erat.
"Ustad" Kata Ika.
__ADS_1
"Iya sayang?" Jawab Syakir.
"Sayang? Hmm mau nanya boleh?" Kata Ika.
"Tanya saja" Kata Syakir sambil memejamkan matannya dan masih memeluk Ika.
"Ustad nggak terburu-buru soal anak kan?" Tanya Ika.
"Aku terserah kamu saja Dek, kalau kamu ingin cepat ya hayuk program, ikhtiar. Kalau Mas sih sepemberian Allah aja sih. Kenapa tanya gitu?" Kata Syakir.
"Aku takut Ustad nggak sabar aja" Kata Ika.
Syakir memeluk Ika dan tertidur, Ika yang menyadari bahwa Syakir tertidurpun akhirnya juga ikut terlelap dalam pelukan Syakir.
Di kamar Akbar,
Kali ini, Akbar dan Fatim sedang sibung merapikan barang-barang miliknya. Karena mulai malam ini, kamar Akbar juga akan menjadi kamar Fatim.
"Ah, rapi sudah. Mari kita tid....." Ketika Akbar menoleh, ia melihat Fatim tertidur di sofa kamar. Akbar pun mendekat dan menggendong Fatim, memindahkan ke tempat tidur dengan pelan.
"Maaf" Fatim mengigau.
__ADS_1
"Hmm sampai ngigau segala, pasti kecapekkan. Tidur yang nyenyak ya sayang" Kata Akbar mengecup kening Fatim.
Saat Akbar berbaring di samping Fatim, ia terus saja memandangi wajah istrinya itu. Betapa malang nasibnya, kenapa harus Fatim yang mengalami hal buruk itu. Akbar membelai pipi Fatim yang putih bersih itu dengan sangat lembut.