Suara Hati

Suara Hati
Bab. 63


__ADS_3

Acara pernikahan Syakir dan Ika telah usai, keluarga Syakir pun berpamitan pulang, setelah para tamu undangan sudah pulang tentunya.


Karena mereka juga memakai adat boyongan, keluarga dan beberapa santri ikut ke pesantren Darussallam, semua barang-barang Ika juga sudah di siapkan oleh Kyai Syaiful dan Solihin, berhubung Ika sudah tidak memiliki seorang ibu, barang pribadi Ika di rapikan oleh santriwati.


Semua rombongan sudah akan berangkat ke pesantren Darussallam, terkecuali Akbar dan Fatim. Mereka sudah pergi berdua terlebih dahulu, mereka hendak membicarakan hal serius masalah masa depan merema di tempat lain.


"Lah, mobil Abang kemana?" Tanya Kabir.


"Udah pergi duluan, tadi aku lihat pergi sama Fatim" Jawab Jamil.


"Wah, kampret!! Terus aku pulangnya gimana dong" Kesal Kabir.


"Bukan kamu aja, tapi kita. Kita berdua di tinggal sama Akbar, santuy bro, kita lihat bagaimana nanti kita membereskan Akbar" Kata Keny.


"Terus kita pulangnya gimana? Mobil Abi penuh, bus rombongan juga penuh noh. Harus ya ngojek?" Tanya Kabir.


"Ya gak papa, biar silir-silir gitu, ac alami" Jawab Keny.

__ADS_1


"Kalian bareng kita aja, di dalam cuma ada anak-anak kok" Kata Rifky.


"Hehehe kebetulan yang menguntungkan ini" Kata Kabir.


"Cus lah, hahaha Naira juga di dalam kan? Tanya Keny.


Keny sangat bahagia bisa melihat Naira seharian, karena tugas ia menjadi Dokter di desa terpencil, maka mau dulu Naira di rawat oleh Aisyah.


Didalam mobil, Airy dan Raihan tak henti-henti nya menggoda Kabir, ini kali pertama si kembar bertemu dengan Kabir sejak perpisahan 6 tahun lalu.


"Muka nya mirip kayak Pak Lhek Ustad deh" Kata Airy.


"Airy juga wajahnya mirip banget sama Abang Raihan" Kata Kabir menoel hidung Airy.


"Itu karena kita anak kembar, jangan pegang-pegang! Bukan muhrim!" Kata Airy menepis tangan Kabir.


"Kalau kalian kembar, berarti Pak Lhek Ustad kembar juga dengan Pak Lhek yang ini. Maaf ya, gak tau kalau kita ini bukan muhrim" Kata Kabir menahan tawa.

__ADS_1


Sejak kecil, Airy dan Raihan sudah di belajari tentang sentuhan. Ada sentuhan yang di perbolehkan, yaitu sentuhan seseorang pada bagian kepala, tangan dan kaki anak. Ada sentuhan yang tidak boleh, yaitu sentuhan pada badan, dada, perut, sekitar celana. Dan siapapun yang menyentuh apabila membuat anak merasa tidak nyaman, termasuk sentuhan tidak boleh. Begitu Aisyah mengajari Airy. Dan Rifky mengajari, apa itu muhrim dan mahrom.


"Oh jadi karena Pak Lhek orang lain gak boleh nih nyentuh hidung, kan Pak Lhek adik Aminya Airy" Kata Kabir.


"Mencurigakan!! Kalau adiknya Ami, kenapa gak pernah Airy lihat di rumah Uti, cuma di foto doang, itu bisa di edit" Kata Airy sinis.


Kabir pun tertawa mendegar kata-kata Airy. Di sisi lain, Akbar dan Fatim sedang berada di suatu tempat yang indah dan sejuk, tempat wisata yang cocok untuk mengungkapkan isi hati mereka berdua.


"Kamu kenapa sih dari tadi diam saja?" Tanya Akbar.


"Jangan gugup, aku sudah membuktikan kan keseriusanku?" Sambung Akbar.


"Yang Abang katakan tadi, apa itu dari isi hati Abang?" Tanya Fatim.


"Iya, aku sudah mempersiapkan hal ini dari tiga bulan lalu, aku serius dengan hubungan ini Fatim. Dan aku ingin, kita melanjutkan perjodohan itu. Apakah kamu bersedia menerima pinanganku?" Tanya Akbar mengeluarkan sebuah cincin.


Fatim hanya bisa terdiam membisu, mulutnya tidak bisa mengatakan sepatah katapun karena terharu oleh apa yang dilakukan Akbar padanya. Fatim hanya bisa meneteskan air mata kebahagiaannya yang di tutupi kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2