
Isi chat dari Fatim dan Akbar yang tidak sengaja di baca oleh Sandy pagi itu.
Akbar :"Assallamualaikum, Fatim udah tidur?"
Fatim :"Waalikum sallam, belum kok. Katanya minta ditungguin!"
Kabar :"Ah iya, hehehe. Aku jadi gak enak gini deh ganggu kamu, tapi pengen aja hubungan gini sama kamu"
Fatim :"Emm emang kenapa? Apakah Abang udah timbul rasa?"
Akbar :"Jujur!! Iya, rasa kangen"
Fatim :"Astaghfirullah hal'adzim, sejak kapan jadi kangen-kangenan gini?"
Akbar :"Ya sejak kita berpisah, ahh bucinya. Mana sudah bukan ABG lagi, malu-maluin ya aku"
Fatim :"Gak juga kok, masih tahap wajar itu. Oh ya, arti dari gelang ini apa ya?"
Akbar :"Mau ngikat kamu, agar saat aku jauh darimu, jika ada laki-laki yang mau mendekatimu langsung ingat aku nanti kamunya"
Fatim :"Mubeng Bang, yang jelas lah. Perempuan butuh kepastian.
Akbar :"Aku ingin cinta yang akan berkata: "Bahkan kematian pun tidak akan memisahkan kita karena kelak kita akan dipertemukan kembali di surga, Insya Allah."
__ADS_1
Fatim :"Masya Allah, tapi aku takut Bang"
Akbat :"Kenapa takut?"
Fatim :"Laki-laki yang baik tidak akan bermain-main dengan cinta. Sebab dia tahu kata 'cinta' menuntut tanggung jawab."
Akbar :"Hanya sekali membuat kecewa, diingat terus sih"
Fatim :"Makanya buktikan"
Akbar :"Tunggu aku tiga bulan lagi, aku merasakan kehilanganmu sekarang saat kita berjauhan. Apakah itu rasa cinta atau bukan. Yang pasti aku sangat menginginkan kebersamaan bersamamu"
Tapi Fatim tak juga membalas pesan dari Akbar yang terakhir, Sandy hanya tersenyum membaca semua itu. Ia mengingat saat awal pendekatan diam-diam dengan Sindi waktu lalu, mereka juga harus diam-diam karena takut Leah akan mengetahui hubungan mareka, walau akhirnya Leah dan Ruchan mengetahui hubungan mereka sebelum Sandy mengatakannya.
"Lamaran??" Kata Ruchan, Leah, dan Aisyah bersamaan.
"Kenapa ekspresinya gitu? Katanya lebih cepat lebih baik. Satu bulan lagi Kabir pulang, dan 3 bulan lagi aku harus kembali ke Kairo untuk kelulusan. Aku harus bagaimana kalau tidak lamaran sekarang?" Tanya Syakir.
"Rifky!! Akhir-akhir ini Syakir nempel terus bersamamu, apa yang kamu katakan??" Kata Leah sinis.
"Aa, gak ada kok Ma, Rifky cuma kasih semangat aja, ya kan Ustad Syakir" Kata Rifky menginjak kaki Syakir.
Syakir hanya mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Tapi Abi hanya bilang jika nanti malam cuma pertemuan biasa, dan kita belum membeli mahar bukan?" Tanya Ruchan.
"Itu tugas Mama sama kak Ais, kalian pergi ke pasar atau toko mana aja, beli mahar sesuai adat. Dan dibawa nanti malam, jangan lupa bawa beberapa Ustad, Mas Ilham sama Pak Dhe juga. Dan lagi, jangan lupa bawa RT, Rw setempat. Baiklah, aku mau ngajar dulu ke pesantren. Assallamualaikum" Kata Syakir memberikan sebuah kertas yang bertelusikan
"Kali ini semua biaya di tanggung Kak Rifky dan Abiku yang paling ganteng"
"Waalaikum sallam"
"Apa!!" Teriak Leah dan Aisyah.
"Kenapa Mi?" Tanya Rifky.
"Ada apa Ma? Kertas apa itu?" Tanya Ruchan.
"Kalian berdua ya? Kalian yang terus saja mendesak Syakir menikah, sekarang mana kartu atm kalian!!" Kata Leah galak, lebih galak saat dia muda dulu.
"Kenapa bisa gini sih Bro, kesepakatan kita kan semalam harusnya di bagi tiga, kenapa Syakir curang gitu sih?" Bisik Ruchan kepada Rifky.
"Mana Rifky tau Bi, tadi pagi udah Rifky suruh Syakir itu bersandiwara agar dua wanita cantik ini tidak curiga" Bisik Rifky.
"Sudah bisik-bisiknya sayang" Kata Aisyah menepuk-nepuk bahu Rifky.
Pagi itu Leah dan Aisyah di buat sibuk dengan permintaan mahar Syakir, banyak barang yang harua di beli secara mendadak, belum lagi mereka juga harus membeli bahan makanan untuk acara slametan se pesantren yang memerlukan waktu sangat banyak.
__ADS_1
"Hufft, jangan remehkan orang pendiam hahha, mulai hari ini sampai menikah, aku adalah rajanya Hahahha. Kapan juga ngerjain Kak Ais, Kak Rifky dan kedua orang tua tercintaku itu. Akhirnya aku bisa menakhlukan si Kakak Singa haha" Kata Syakir cengir-cengir sendiri