
Tangisan Fatim mulai mereda, Akbar menuntunya dengan penuh senyuman. Walau hatinya juga sakit melihat wanita yang di cintaninya di nodai oleh laki-laki lain.
"Udah mandinya? Pakai baju ini?" Tanya Akbar.
"Abang di sini, mana mungkin aku ganti baju juga disini" Kata Fatim terus menundukkan kepalanya.
"Oh iya, Aku keluar dulu ya. Cepat ganti baju, aku tunggu kamu di luar, kita makan sama-sama ya" Kata Akbar.
Saat Akbar keluar dari kamar Fatim, semua orang sudah menunggunya di luar. Akbat mengatakan kondisi Fatim saat itu sudah membaik. Akbar mulai mengatakan tujuannya mengundang keluarganya ke rumah Pak Fikri.
"Bang?" Tanya Aisyah.
"Jangan masuk, aku sudah susah payah membujuk dia" Kata Akbar.
"Nak Akbar, semua keputusan ada di tanganmu. Saya dan keluarga Nak Akbar sudah berunding, jika Nak Akbar mau membatalkan pernikahan ini, saya dan Fatim akan menerimanya denga lapang dada" Kata Pak Fikri.
__ADS_1
Akbar memandang semua orang satu-satu. Dari rau wajah Pak Fikri, beliau sudah tidak lagi bisa menegakkan kepalanya. Namun, saat Akbar melihat semua keluarganya, mereka menggelengkan kapalanya. Mengode, jika Akbar tidak seharusnya meninggalkan Fatim dalam keadaan seperti ini.
"Pak Fikri ini ngomong apa sih? Saya tetap akan menikah dengan Fatim, ini tujuan saya menyuruh keluarga kemari. Hanya nikah secara agama dulu, boleh dong? Dan sampai dua bulan mendatang, kita akan hadir di KUA sesuai dengan jadwal. Aku percayakan semua itu kepada Abi dan Pak Dhe" Kata Akbar dengan senyuman.
"Kamu yakin dengan kondisi Fatim yang sekarang?" Tanya Pak Fikri.
"Syakir kamu panggil ketua Rt, Rw, Camat dan Kadus di desa ini, kalau mereka tidak ada di rumah, paatikan salah satu bisa datang kesini ya. Kamu bisa tanya ke warga rumah mereka" Kata Ruchan.
"Siap Bi" Kata Syakir langsung berangkat.
Pak Fikri masih diam terpaku mendengar apa yang di katakan oleh Akbar. Ikhsan, Ilham dan Ruchan menjelaskan semuannya. Sedangkan Rifky dan Kabir merapikan tempat yang akan di gunakan untuk ijab qobul Akbar dan Fatim. Sedangkan Leah dan Aisyah berusaha bicara lagi dengan Fatim sebagai sesama perempuan.
"Assallamualaikum" Salam Leah dan Aisyah.
Fatim mulai menangis lagi, sehingga Aisyah harus menahan air mata Fatim jatuh lagi dengan mengusap air matanya.
__ADS_1
"Jangan lagi! Allah tidak suka dengan hambanya yang patah semangat. Nangis boleh, tapi cukup untuk merenungkan dosa apa yang telah kita lakukan. Itu semua memang bukan semua dosamu, tapi kamu harus kuat menjalani ini. Tenang saja, ada aku dan Mama di sini" Kata Aisyah memegang bahu Fatim.
"Tapi dengan keadaanku......" Kata Fatim.
"Sstttt, Akbar tidak menolakmu kan? Dia tetap melanjutkan hubungan kalian kan?. Hari ini juga kamu dan Akbar akan mengadakan Ijab qobul. Soal kasusmu itu, serahkan semua kepada Clara, berdoa kepada Allah, agar semua keadilan di tegakkan. Kamu harus bangkit nak. Kami tetap menerimamu dengan tangan terbuka" Kata Leah.
"Tangan terbuka? Yang benar aja Ma?" Kata Aisyah.
" Ya gini, kan tangan terbuka" Kata Leah melebarkan tangannya ke kanan kiri.
"Itu namanya melebarkan tangan ya? Artinya peluk gitu? Kurang tepat deh Ma kayaknya" Kata Aisyah heran.
"Bener kayak gini kak, nggak salah kok" Kata Leah ngeyel.
"Salah itu Ma" Kesal Aisyah.
__ADS_1
Dengan sikap nggak jelasnya Aisyah dan Leah itu, Fatim menjadi tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Benar calon mertua dan ipar yang Fatim idam-idamkan. Keluarga Ruchan tidak memandang apa yang telah terjadi kepada Fatim, malah mereka menyambut Fatim dengan ikhlas hati dan penuh kasih sayang.
Dan semoga Arfan mendapat hukuman yang berat yang akan menjeratnya, karen ia telah melakukan pelecehan terhadap Fatim.