
Hari ini Akbar pulang lebih awal, ia membeli sebuket bunga dan bebrapa hadiah untuk Fatim. Dirumah juga Fatim sudah memebereskan seluruh rumah dan menyiapkan makan malam, karena ia tahu bahwa Akbar akan pulang cepat hari itu.
"Semua sudah siap, aku mau mandi dulu lah, setelah itu sholat maghrib" Kata Fatim.
"Assallamualaikum sayang" Salam Akbar sudah masuk ke dalam rumah.
"Wa-waalikum sallam, kok Abang udah pulang saja sih?" Tanya Fatim gugup.
"Emang nggak boleh? Ya udah deh aku kerumah sakit lagi" Kata Akbar membalikkan badannya.
"Jangan dong, duduk dulu ya. Itu apa?" Tanya Fatim.
"Buat kamu, dan lagi, tutup mata kamu!" Kata Akbar memebrikan buket bunga mawar kesukaan Fatim itu.
"Sekarang buka mata kamu" Kata Akbar.
Akbar memberikan cincin dengan namanya, entah kapan Akbar memesannya, namun cincin itu sangat indah, lalu Akbar memakaikannya di jari manis Fatim.
"Buat aku?" Tanya Fatim.
__ADS_1
"Ini belum seberapa sih, masih ada cinta yang belum aku tumbahkan aja ke kamu" Goda Akbar.
"Abang ah" Kata Fatim.
"Boleh peluk?" Tanya Akbar.
Fatim mengangguk, dan Akbar pun memeluk Fatim dengan mesra.
"Tunggu, ini bau apa ya? Kayak bau acem gitu deh" Goda Akbar menciumi leher Fatim yang masih tertutub dengan hijab warna maroon nya itu.
"Ihh cemberut, mau mandi bareng?" Tanya Akbar.
"Nggak mau" Fatim langsung lari ke kamar mandi.
"Kak, kenapa sih kamu berangkat lagi? Aku kan jadi sendirian lagi disini" Kata Ceasy menatap foto berdua bersama Kabir.
"Dan tiga tahun pula kakak pulang. Aku saat itu sudah SMA, dan mungkin akan mencintai laki-laki lain juga" Sambung Ceasy.
Sebenarnya tidak ada salahnya jika Ceasy menyukai Kabir, walau bagaimanapun juga, ia bukan adik kandung dari Kabir. Pertemuan singkatnya dengan Kabir juga membuat Ceasy merasakan hal berbeda, Ceasy mungkin baru saja menginjak masa remaja, namun di usia segitu, ia sudah bisa merasakan ketertarikan kepada lawan jenisnya.
__ADS_1
Malam yang indah di rasakan Akbar dan Fatim, setelah makan malam, mereka melanjutkan sholat isyak berjama'ah.
"Sayang...." Bisik Akbar.
"Nggak nunggu nanti aja Bang? Takutnya Papa pulang dengan tiba-tiba nanti" Kata Fatim malu.
"Papa nggak akan pulang untuk beberapa hari, aku jamin dah" Kata Akbar.
"Kok gitu? Memangnya Papa kemana?" Tanya Fatim.
"Noh nglayap sama tante Irene, udah Kakek Nenek juga gayanya kek anak baru gede" Kata Akbar.
"Hatchuuu" Bersin Sandy.
"Ih nggak boleh ngomong gitu Abang" Kata Fatim.
"Jadi gimana?" Tanya Akbar menggerakkan alisnya naik turun.
"Jangan peluk-peluk gini dong, aku kan masih pakai mukena, nggak boleh tau" Kata Fatim melepaskan pelukan Akbar.
__ADS_1
Tidak menunggu lama lagi, setelah Fatim melepaskan mukenanya, Akbar langsung menggendong Fatim dan merebahkannya di atas kasur. Karena sebelum itu Akbar sudah belajar doa sebelum melakukan hubungan intim dengan Syakir, ia pun memejamkan mata dan berdoa terlebih dahulu.
Tangan Akbar menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka hingga keseluruh tubuh. Jantung mereka berdetak sangat kencang, ini kali pertama untuk Akbar, walaupun Fatim juga pernah melakukan dengan di paksa, namun kali ini ia bisa lebih rileks karena ia akan melakukannya dengan Akbar.