Suara Hati

Suara Hati
Bab. 124


__ADS_3

Munculah Dara yang membawakannya makanan untuk Akbar. Dara membangunkannya dengan sangat lembut dan manja, hingga membuat Akbar risih dengannya.


"Dokter, Dokter Akbar. Bangun yuk, aku bawain makanan untuk kamu. Kasihannya kamu, pasti kecapekkan kan?" Kata Dara.


Akbar pun terbangun, saking terkejutnya ia hampir saja terjatuh. Dara lagi-lagi merayu Akbar, ia juga menyatakan perasaanya kepada Akbar. Akbar juga tidak akan goyah, cintanya hanya untuk Fatim, sebentar lagi juga akan menjadi seorang ayah. Akbar akan berusaha untuk menjauhi Dara, sejauh mungkin agar tidak menimbulkan fitnah diantara mereka.


Penolakam yang dikatakan Akbar membuat Dara terluka saat itu, Akbar ingin tegas dengan dengan Dara supaya ia berhenti mengganggu Akbar.


"Tolong Dokter Dara keluar dari ruangan saya!" Kata Akbar dengan tenang.


"Akbar jangan gitu lah, aku tahu kamu ini lelaki normal, pasti kamu butuh yang namanya madu di luar kan? Aku siap menjadi kesenanganmu di sini, dan istri kamu itu biar istirahat, biar sehat!" Bisik Dara di telinga Akbar dengan nada menggoda.


"Tolong keluar dari ruanganku!" Kata Akbar masih bersabar.


"Aku tau kamu.. ..." Bisik Dara.


"Keluar!" Kata Akbar membentak Dara.


"Begitu menjijikkan, kamu ini cantik Dara. Tolong jaga harga dirimu itu, apakah dengan semua laki-laki kamu berbuat seperti ini!?" Kata Akbar.

__ADS_1


Akbar berjalan mendekati Dara, ingin sekali berbicara dengan kasar lagi. Melihat air mata Dara membuat Akbar tidak kuasa, akhirnya ia memilih pergi dari ruanganya itu.


"Sekali lagi kamu bersikap begini. Aku tidak akan pernah melihatmu, aku sama sekali tidak tertarik padamu!" Kata Akbar pergi.


Akbar langsung keluar dari ruangannya. Ia menemui Direktur meminta pendapat agar antara Dara dan Akbar bisa pindah tugas, namun Direktur rumah sakit tidak bisa melepas Dokter terbaik disana.


Begitu juga belum memulangkan Dara ke negara asal, dikarenakan Dara masih terikat kontrak dengan rumah sakit itu. Rumah sakit tidak akan membayar biaya pinaltinya.


"Maaf Dokter, aku tidak bisa melakukan itu. Dia belum bisa kembali karena masih terikat kontrak. Kecuali dia yang melanggar kontrak itu sendiri". Kata Direktur rumah sakit.


Dara kesal, marah dan menangis di ruangannya. Ia tidak ingin kehilangan Akbar, dalam hatinya ia harus bisa mendapatkan Akbar apapun yang terjadi. Ada serpihan pecahan kaca di bawah jendela Dara, ia ambil dan menyatkan di tangannya, mengukir ukiran berinisial A. Cinta telah membutakan Dara, hingga ia kehilangan akal karena teropsisanya.


Hari itu salah memelelahkan, Akbar pulang dengan keadaan lesu. Untung saja yang membukakan pintu adalah Fatim. Ia langsung bersandar di bahu Fatim dan memeluknya dengan erat.


"Capek ya?" Tanya Fatim.


Akbar hanya mengangguk.


"Aku siapin air hangat buat mandi dulu ya, Abang duduk dulu" Kata Fatim.

__ADS_1


"Nggak mau, mau kayak gini aja dulu" Akbat enggan melepaskan pelukannya.


Fatim membalas pelukam Akbar, ketenangan yang Akbar cari sudah ia dapatkan. Pelukan hangat dari Fatim sudah membuatnya sangat nyaman.


"Udah sholat maghrib?" Tanya Fatim.


"Belum" Jawab Akbar.


"Sholat dulu yuk, aku siapin air hangat ya" Kata Fatim mencoba melepaskan pelukan Akbar.


Namun akbarvmasih menahan Fatim di pelukannya. Fatim menebak, hati dan fikiran Akbar pasti sedang tidak bagus.


"Ada apa sih Bang, nggak seperti biasanya deh. Kita duduk dulu aja yuk. Ceritalah kepadaku" Kata Fatim.


"Aku mau mandi dan langsung sholat aja. Aku capek.banget, lapar juga. Siapin aku makanan aja ya, nasi dan telur ceplok aja" Kata Akbar dengan senyuman.


"Nggak sama sayur?" Tanya Fatim.


"Maunya disuapin, aku mandi dulu Ok." Kata Akbar mencium kening Fatim dengan lembut.

__ADS_1


Senyuman Akbar membuat Fatim curiga, Fatim merasa pasti ada hal yang sudah terjadi di rumah sakit. Baru kali ini Fatim melihat Akbar seperti orang yang sedang frustasi. Tetapi Fatim tetap berfikiran positif, ia segera menyiapkan makanan sesuai dengan keinginan suaminya itu.


__ADS_2