Suara Hati

Suara Hati
Bab. 135


__ADS_3

"Balqis ki ayu ya, hemm anggun, body nya juga wahh" Kata Jamil.


"Jaga pandanganmu Mil, dia itu udah mau istiqomah, dukung dia, bukan malah menambah beban berat nasabnya" Kata Syakir.


"Cemburu po? Jare rep setia" Kata Jamil.


"Itu bukan masalah cemburu atau tidak. Jika kamu mau serius ya langsung lamar, jangan cuma mengagumi. Di tikung yang lain sakit hati, aku nggak ada obat" Kata Syakir masuk kerumah.


"Obate oskadon Kir, opo Bygon. Yakin langsung mari" Kata Jamil.


"Ngoceh mulu, sana cuci piring dulu. Udah numpang ya harusnya tau diri dong" Kesal Syakir melihat meja dan Westafel berantakan.


"Halah aku tau kalau kamu ini mengharapkan Balqis to, baiklah aku bantu memeprsatukan kalian hahahha" Kata Jamil dengan keluar tanduk dikepalannya.


Syakir menidurkan Aminah di tempat tidurnya, sambil memandangi foto pernikahannya yang tergeletak di samping tempat tidur. Ia sangat merindukan sosok Ika, Ika gadis yang lemah lembut, penyayang dan pendiam.

__ADS_1


Sekilas melihat lagi ke arah Aminah, dalam hatinya ia ingin setia. Namun bagaimana dengan Aminah? Dilihat dulu, Sandy juga tidak bisa merawat Akbar sendirian. Syakir yakin bahwa dirinya bisa menjadi orang tua tunggal untuk Aminah sampai Aminah besar nanti.


Di Jepang, bayi Akbar dan Fatim langsung di beri nama oleh mereka, karena akan mengadakan aqiqahan juga akan sulit disana. Jadi aqiqah akan dilakukan di pesantren, namun Akbar dan Fatim tidak pulang dulu, sampai anaknya berusia satu tahun nanti.


"Namanya siapa Bir cucu Papa ini?" Tanya Sandy.


"Muhammad Falih Aqmar, yang artinya. Anak laki-laki yang dilahirkan dari sebuah doa dan memiliki kecerdasan dengan penuh kesuksesan." Kata Akbar.


"Amin-amin".


Semua keluarga sedang dalam suasana bahagia. Begitupun dengan Kabir yang mendengar bahwa ia tambah satu keponakan lagi. Dan dia sebentar lagi akan pulang ke Indonesia, walaupun tidak pulang ke rumah, namun komunikasi akan lancar lagi dengan keluarga.


"Aku tahu ini bakal tidak akan digunakan olehmu, tapi terimalah ini sebagai kenang-kenangan dariku" Kata Kabir memberikan tasbih berwarna putih itu.


"Aku pernah melihat yang seperti ini, milik sahabatku. Aku sangat menyukai agamamu. Oh iya ini aku juga memiliki boneka kecil, buatmu. Kabari aku jika kau sudah sampai di Negaramu" Kata Bonna dengan senyuman.

__ADS_1


Kabir juga tersenyum, mereka pun masuk di pesawat mereka masing-masing. Kabir juga akan kembali ke rumah dalam dua setengah tahun lagi.


Di pesantren, Balqis sedang bersama dengan teman sekamarnya, dan tiba-tiba ada seorang perempuan, santri juga di sana yang mengaku-ngaku akan menikah dengan Syakir menggantikan Ika.


"Kamu Balqis kan?" Tanya Febri, nama gadis itu.


"Assallamualaikum" Salam Balqis.


"Waalaikum sallam, aku peringati kamu ya Balqis, mungkin tubuhmu bagus, kamu juga pintar. Tapi aku lebih cantik darimu" Kata Febri.


"Ngomong yang jelas!" Kata Balqis.


"Febri, kamu kenapa sih? Datang-datang kok marah-marah gitu. Kayak nggak punya akhlak aja" Kata Kuni, sahabat baru Balqis.


"Eh Kuning-kuning ngambang, diam kamu! Pokokknya ya Qis, kamu harus jauhi Ustad Syakir, dia dan aku akan dijodohkan. Jadi kamu harus tau diri, jangan jadi pelakor!" Kata Febri ngotot, sampai muncrat.

__ADS_1


"Bodo" Kata Balqis langsung pergi.


Febri dibuat kesal oleh Balqis, Febri ini juga anak seorang Ustad yang pernah nyantri juga di pesantren itu, kalau Almarhum buyutnya Syakir masih hidup.


__ADS_2