Suara Hati

Suara Hati
Bab. 142


__ADS_3

Akbar mendekati Airy dan mai memasang tanduk dikepalanya.


"Airy, karena kamu melakukan kesalahan. Seharusnya Ami dan Papamu harus memeberi hukuman dong. Iya kan Ami?" Tanya Akbar.


"Oh tentu, Om Abang yang akan kasih hukuman itu." Kata Aisyah.


"Oh, dapat izin hahaha. Airy harus setor hafalan yaa, disini tapi, biar semua orang yang mengoreksinya. Emmm" Kata Akbar.


"Hafalan apa?" Tanya Airy sambil minum jusnya.


"Surah An-Naba'" Kata Akbar.


"Mau kapan? Sekarang juga? Bentar aku wudhu dulu" Airy langsung turun dari kursi dan masuk ke dalam rumah Ruchan untuk wudhu.


Akbar hanya melongo, semua orang tertawa melihat ekspresi Akbar yang seperti itu. Ia belum tahu saja, bahwa Airy itu sering sekali mendapat hukuman karena kesalahannya, hafalan-hafalan juga sudah ia tuntaskan sejak lama. Bahkan Airy sudah pindah sekolah sampai 7 kali selama di sekolah dasar.


"Apa! Airy baru kelas 6, tapi udah pindah sebanyak 7 kali? Kak itu anakmu?" Tanya Akbar tidak percaya.

__ADS_1


"Kamu nggak tau saat Airy di hukum sama Mas Ilham sih" Kata Sera.


"Emang gimana Ra?" Tanya Akbar.


"Waktu itu dia bolos ngaji dengan lompat tembok. Nah sama Mas Ilham disuruh ulangi lagi tuh perbuatannya, bisa loh dia. Aku nggak habis fikir sama anaknya Aisyah" Kata Sera.


Leah, Ruchan, Ikhsan, Vina, Sandy dan Irene sedang berada di dalam rumah. Sedangkan Bonna, Kabir, Balqis, Jamil dan Ceasy sedang menemani anak-anak bermain.


"Kayaknya Airy ini kayak Mama dulu deh, kata Pak Lhek Farhan kan Mama sebelas dua belas. Malah Airy lebih parah." Kata Syakir.


"Itu pintar-pintarnya kita aja, kita ini harus menjadi teman untuk anak-anak kita. Peran orang tua itu sangat penting. Jika salah satu dari kita ada yang sibuk, maka yang senggang harus selalu ada buat anak gitu." Kata Rifky.


"Terus kalau aku gimana? Jujur ya, aku masih ingin setia dengan Almarhum Zulaikha, tapi Aminah butuh sosok Ibu. Kalau aku masih bisa apa-apa sendiri sih, tapi Aminah, dia selalu ingin dengan Balqis, sedangkan bukan mahram yang harus ketemu setiap waktu" Kata Syakir.


"Kamu nikahin aja si Balqis" Kata Akbar.


"Ngomong enak Bang, Balqis itu kesini mau belajar, masa iya sih aku ajak nikah. Dan... aku sama dia sering aja cek cok, gara-gara si Jamil." Kata Syakir.

__ADS_1


"Gimana kalau sama Febri, anak dari Ustad terdahulu. Nyaranin aja sih Kir" Kata Ilham.


"Udah jem segini, anak-anak pasti lapar, ayo ibu-ibu ikut aku" Kata Aisyah, mengajak Clara, Fatim dan Sera masuk ke dalam rumah.


Akbar masih terus bertanya-tanya. Ia bisa heran kenapa Airy dan Raihan sifatnya bertolak belakang. Airy pun keluar dan sudah berpakaian rapi, lalu duduk disamping Akbar dan segera mulai menghafal surah An-Naba' dengan sangat fasih.


Sementara itu, Bonna dan Kabir sedang bermain di belakang Yusuf saat itu, kedekatan mereka membuat Ceasy semakin cemburu, ingin sekali Ceasy berteriak dan mengehentikan candaan Bonna dan Kabir. Namun, ia tidak bisa, kata-katanya seperti terkunci di bibir saja, rasanya ingin menangis. Begitu perasaan Ceasy.


"Ceasy, kamu kenapa dari tadi diam saja?" Tanya Balqis.


"Nggak papa kok kak, lagi mikirin tugas besok aja. Harusnya kelas dua kan lagi leha-lehanya, ini malah banyak tugas" Kata Ceasy.


"Tugas apa memang?" Tanya Jamil.


"Memadampkan api yang membara, bahkan petugas damkar saja nggak bisa memadamkan" Kata Ceasy.


Sedari tadi, tatapan Ceasy hanya tertuju kepada Kabir dan Bonna, mereka semakin lama semakin akrab saja. Ceasy mencoba untuk melupakan perasaannya yang ia pendam selama tiga tahun itu. Menurutnya, ia tidak bisa di bandingkan dengan Bonna yang cantik itu.

__ADS_1


__ADS_2