Suara Hati

Suara Hati
Bab. 57


__ADS_3

"Akbar, hih nangis yo" Kata Jamil.


"Opo seh? Minggir ah, ganggu aja" Kata Akbar.


"Healah Bar, Bar. Lha wong wes gede kok iseh gambrengan to. Kayak aku ini loh, superman gak pernah nangis walau aku jomblo" Kata Jamil.


"Jomblo aja sombong" Kata Akbar.


"Aku jomblo karena aku ini bingung mau milih gadis yang bagaimana, mereka yang mengejar-ngejar aku itu semuanya baik-baik semua. Makanya aku masih jomblo karena bingung memilih" Kata Jamil sambil meneguk minuman dinginnya.


"Sak karepmu lah Mil, aku mumet!!" Kata Akbar keluar meninggalkan Jamil.


Malam itu, Akbar, Syakir dan Keny bercerita banyak di sertai canda tawa dengan kekonyolan Kabir dan Keny yang sudah lama tidak berjumpa. Di tambah juga akan kehadiran Farhan yang membuat suasananya semakin hangat.


"Wey, calon oengantin harus tidur lebih awal. Agar besok lebih press bangunnya" Kata Farhan.


"Ih Pak Lhek itu udah berumur, gih sana kumpulnya sama Abi, Pak Dhe, terus sama Pak Lhek Arifin juga, noh juga Papa udah datang. Dah sana ah" Kata Akbar.


"Main usir-usir aja deh, kesel eike" Kata Farhan merapikan pecinya.

__ADS_1


"Wah ku doakan permanen itu, permanen wes yakin Pak Lhek" Kata Keny.


"Kalian gak tau ya, kalau siang dia emang Ustad Farhan, kalau malem gini, dia jadi Sis Farhana tau" Kata Syakir.


"Wooo bocah edyan kabeh, tak dongakke sesok mek gawe moe instan minyake raono" Kata Farhan.


"Kita jarang kali makan mie instan, kan kita gak pengangguran kayak Pak Lhek" Kata Akbar.


"Eh aku ini senajan pengangguran, tapi pengangguran berduit tau" Kata Farhan.


"Wah sombong, astaghfirullah hal'adzim. Sifat sombong itu di benci sama Allah loh Pak Lhek," Kata Keny.


"Wah nantangin nih bocah, ATM aku pegang sendiri, online lagi" Kata Farhan.


"Gak ada bukti berarti hoak, ya kan, ya kan?" Tanya Akbar.


"Wah ra percoyo, banyak uangku" Kata Farhan ngeyel.


"Kalau gitu, coba kirim ke rekening kita masing-masing 1 juta, ya kalau gak bisa, berarti memang Pak Lhek golongannya Abi sama Kak Rifky, suami-suami berada di ketiak istri hahahahha" Kata Akbar tertawa dan bertepuk tangan dengan Syakir dan Keny.

__ADS_1


"Wah iyo, tak kasih bukti. Sini mana nomor rekening kalian masing-masing" Kata Farhan semangat.


Dengan menahan tawa, Akbar, Keny dan Syakir pun memberikan nomor rekeningnya kepada Farhan. Dan benar saja, Farhan mengirim kepada mereka masing-masing sejumlah uang.


"Wah udah masuk, benar juga Pak Lhek, ternyata Pak Lhek bukan kayak Abi sama Kak Rifky ya" Kata Akbar menepuk-nepuk bahu Farhan.


"Punya ku juga dah masuk ini, makasih ya Pak Lhek. Oh ya, aku mau tidur dulu ya, besok biar presss bangunya, seperti kata Pak Lhek. Assallamualaikum warahmatullahi wabbarokatuh" Kata Syakir.


"Punyaku baru aja masuk, kalau gitu aku mau nemuin Naira dulu ya, kangen sama dia. Assallamualaikum" Pamit Keny.


"Eh ada telfon nih, aku angkat bentar ya Pak Lhek, masa depan ku ini soale" Kata Akbar menahan tawa.


"Wah semuanya pergi, udah dapat uang langsung pergi." Kata Farhan mengetuk-ngetuk meja.


"Astaghfirullah hal'adzim, aku dikadali sama mereka. Waah asyem tenan kok" Kesal Farhan.


Farhan bergegas menemui keponakan-keponakan yang nakal itu, namun tidak satu dari mereka yang berhasil ia tagih uangny kembali. Farhan pun mencari Ruchan dan Rifky untuk meminta ganti rugi.


Malam semakin larut, tamu juga sudah tidak ada lagi yang berdatangan, suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an mulai terdengar dari beberapa santri yang menggelar tadarusan dengan Syakir.

__ADS_1


__ADS_2