Suara Hati

Suara Hati
Bab. 35


__ADS_3

Ada 5 orang santri jahil yang tertangkap, saat di tanya kenapa mereka menyamar sebagai pocong, pertama katanya uji nyali, sedangkan di pesantren tempatnya tidak seseram itu, alasan kedua karena ingin membuat prank.


"Kalian sadar tidak? Dengan perbuatan kalian ini, banyak santri yang jarang mau ikut tadarus malam lagi di masjid, ini merugikan diri sendiri dan teman-teman kalian! Kalian ngerti gak!!" Kata Ustad Fatkhur.


"Dan soal prank, kalian pasti merekam ini kan? Bawa hp dong? Dan di pesantren ini, hanya boleh menggunakan hp saat hari minggu saja, dan harus di kumpulkan dulu ke wali pesantren kalian, sedangkan ini masih hari rabu, kemarikan hp itu!" Kata Akbar tegas.


Dua santri lain memberikan hpnya, dan Ustad Fatkhur menyimpannya, tadinya akan di hancurkan. Namun mengingat, memebeli hp itu juga menggunakan uang orang tua, mereka bekerja keras untuk bisa beli hp itu, maka Ustad Fatkhur hanya akan memanggil wali atau orang tua ke lima santri itu untuk datang ke pesantren.


"Jangan Ustad, orang tua saya tidak ada, dan saya hanya memiliki seorang nenek, saya takut dia akan sedih melihat ini semua" Kata salah satu santri itu.


Ustad Fatkhur ingin sekali memarahi anak itu, namun di cegah oleh Syakir dan Akbar, kini mereka memerima bimbingan mental dari Syakir dan Akbar.


"Kamu yang ikut nenek, ayo sini duduk di dekat Abang, gak usah takut" Kata Akbar.


Anak itu pun duduk di dekat Akbar dengan rasa takut, nampak jarinya tidak tenang saat Akbar memanggilnya.


"Namamu siapa?" Tanya Akbar.

__ADS_1


"Danu Ustad" Jawab anak itu dengan nada gemetar.


"Panggilnya Abang aja ya" Kata Akbar menggenggam tangan anak tersebut.


"Sekarang jawab jujur, kenapa kamu ikut-ikutan mereka menjahili saudara santri lainnya? Tidak kah kamu kasihan mereka yang ingin menuntut ilmu jadi ketakutan ketika ingin keluar malam? Dan yang Abang lihat darimu, kamu bukanlah anak yang nakal seperti yang lain." Tanya Akbar.


"Saya di paksa ikut Bang, demi Allah saya hanya di paksa ikut. Kata Gani kalau saya gak ikut, saya akan di bully seperti Roni dan jika saya gak bisa di segani dan di takuti orang, saya tidak akan berguna di dunia ini, karena saya anak....." Kata Danu menangis.


"Gani yang mana dan Roni yang mana?" Tanya Akbar.


"Gani yang membawa hp Bang, dia di takuti oleh santri se kamar, sedangkan Roni yang menyamar menjadi pocong tadi" Kata Danu menangis.


"Usia saya 13 tahun, dan baru masuk 3 bulan lalu Bang, saya mohon jangan panggil nenek ya Abang, saya takut buat beliau kecewa" Kata Danu sesenggukan menangis.


"Apakah kamu belum membuatnya kecewa, dengan berbuat seperti ini? Kamu bilang kamu hanya tinggal dengan nenekmu, lalu dimana orang tuamu?" Tanya Akbar.


"Kata Almahrum Ibu, saya anak haram Bang, makanya saya gak ada Ayah, sedangkan Ibu meninggal sudah sejak saya berumur 9 tahu " Kata Danu terus saja menangis.

__ADS_1


"Motivasi kamu masuk pesantren apa? Karena kamu sendiri atau karena nenek, atau karena paksaan orang lain?" Tanya Akbar.


"Kata nenek saya harus jadi orang yang berguna Bang, makanya saya mengusulkan masuk pesantren. Dan dengan susah payah, nenek memasukkan saya ke pesantren ini, tapi saya gak tau kalau menjadi orang berguna harus di segani, kata Gani, tapi saya takut sudah berbuat salah, saya menyesal" Kata Danu polos.


"Jangan takut untuk membuat sebuah kesalahan. Tapi pastikan kamu tidak melakukan kesalahan yang sama untuk ke dua kali. Cobalah untuk tidak menjadi orang yang di takuti dan di segani, melainkan mencoba menjadi orang yang berharga. Buktikan kepada Ayahmu, kalau kamu bukanlah anak yang patut di campakan" Kata Akbar merangkul Danu, sedangkan Danu masih menangis.


"Tapi kamu membuat kesalahan, dan kamu tetap harus di hukum, soal nenekmu, Abang yang akan bantu bicara dengan beliau, sekarang kamu kembali kumpul bersama teman-temanmu itu, dan patuhi apa kata Ustad Fatkhur dan aturan pesantren.


Danu pun berjalan dan duduk di antara teman-temannya, Akbar menghela nafas panjang, ia senasib dengan Danu, tidak memiliki ibu, namun Akbar masih beruntung memiliki Ayah kandung dan Orang tua angkat seperti Ruchan dan Leah.


Tentang anak haram? Seketika ia teringat akan Diaz, nasibnya juga seperti itu, tidak diinginkan oleh Ayah kandungnya, keluarga dari pihak ibunya juga tidak peduli.


"Oh Akbar, nikmat mana yang kau dustakan lagi, masih banyak anak yang tidak seberuntung dirimu" Kata Akbar sendiri.


"Kenapa mereka harus menyebut anak haram?" Kata Akbar meneteskan air matanya.


Anak-anak yang lahir akibat hubungan gelap dan tidak sah inilah yang kemudian dijuluki sebagian masyarakat kita sebagai anak "haram". Sejenak mari kita berpikir, pantaskah anak yang lahir di luar nikah itu disebut sebagai anak haram? Mereka harus menerima hukuman sosial atas perilaku orang tua mereka yang tidak bertanggung jawab. Ini sangat tidak adil, karena mereka tak pernah minta untuk dilahirkan dengan takdir buruk. Secara psikologis sebutan "anak haram" tentu sangat melukai hati mereka. Perkembangan kejiwaannya mungkin saja bisa terganggu. Sementara seharusnya mereka juga layak mendapatkan hidup yang normal tanpa embel-embel gelar itu di belakang nama mereka. Pastilah mereka tidak terima disebut sebagai "anak haram".

__ADS_1


Bisakah kita berhenti menyebut mereka sebagai anak haram?


__ADS_2