
Mengejar Masa Depan!
Langit senja berwarna orange, udara sejuk setelah hujan, membuat semua orang ingin jalan-jalan menikmati pemandangan desa. Sebelum Akbar berpamitan pulang ke rumah Ruchan, ia terlebih dulu mengantar Aisyah dan anak-anaknya ke resto. Karena, mobil Aisyah akan di pakai oleh Akbar pulang kerumah Mama dan Abinya.
"Awas kamu Kir, aku akan mengerjai makananmu sore ini. Haha nasi goreng kesukaanmu ini, aku membelinya dengan level paling hot hot, hahahha" Kata Akbar yang di landa kekesalan.
Dirumah Ruchan,
"Assallamualaikum" Salam Akbar.
"Waalikum sallam, Baru pulang Bang? Kak Ais gak ikut?" Tanya Leah yang sudah menyambutnya dengan hangat.
"Kak Ais ke resto Ma, sama anak-anak pastinya, ini baru saja Abang antar. Masuk yuk, nih Abang bawain kalian makanan, ya dari Kak Rifky sih" Kata Akbar.
Akbar membagikan jajanan yang dibawanya kepada semua orang rumah. Gurame bakar untuk Leah dan Ruchan, Bakso keju untuk Ceasy dan nasi goreng super pedas untuk Syakir. Dengan sedikit tumbuh tanduk di kepalanya, serta senyuman jahat yang terpampang jelas di wajahnya.
"Wah, Alhamdulillah, makan enak nih?" Kata Syakir.
"Kamu berangkat lagi gak sih Kir, udah gitu aja belajar di Kaironya? Naggung banget deh ah" Tanya Akbar.
"Tergantung" Jawab Syakir.
__ADS_1
"Innalillahi dong" Receh Akbar.
"Gak lucu! Emm ada seorang cewek aja gitu, yang bikin berat mau berangkat lagi" Kata Syakir.
"Bodo amat, mamam tuh nasi goreng setannya hahahha siapa suruh jalan berdua sama Fatim. Rasakan akibatnya Syakir Al Jazeera" Kata Akbar dalam hati.
"Dah ya, aku mau ke kamar ah. Sholat Maghrib nungguin Isyak, terus bobok cepat deh. Besok mau mengejar masa depan. Assallamualaikum" Salam Akbar.
"Waalaikum sallam, gak minta ini Bang?" Tanya Syakir.
"Aku dah makan, habiskan kamu aja!! Jangan di sisain ya. Mubadzir namanya, buang-buang rezeki" Kata Akbar dari dalam kamar sambil tertawa tawa dalan hati.
"Abang!!!!!" Teriak Syakir.
"Abang sengaja? Mubadzir ini, buang-buang uang. Siapa coba yang mau menghabiskan?" Kesal Syakir.
"Noh, ayam si Ceasy laper, mumpung masih jam segini" Kata Akbar.
"Abang!! Sudah sejak dahulu, mubadzir itu ialah hal yang sangat di benci Allah dan di sebut sebagai teman Setan.
"Sesungguhnya Allah membenci kalian dalam 3 hal : Kata-katanya (berdusta), Menyia-nyiakan harta dan banyak meminta" (HR.Bukhari)"
__ADS_1
"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, janganlah kamu menghabur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudaranya Syitan, dan Syaitan itu suka ingkar kepada Tuhannya. (QS Al-Isra', ayat 26-27)" kata Syakir.
Abang temennya Syaitan? Pantes. Jahat!!" Kata Syakir.
"Mana ada! Itu Nasi masih bisa di makan, tambahin nasi aja agak banyak, dan tambahi bumbu. Kamu kan pinter masak," Kata Akbar.
"Oh iya nding, aku masak aja ah, setelah ini langsung ke pesantren" Kata Syakir semangat.
Setelah Syakir pergi ke pesantren, dan memastikan semua orang sudah tak ada di rumah. Akbar pun berusaha menelfon Fatim dan mengajaknya bertemu besok. Namun Fatim tidak menjawab telfon Akbar. Dia hanya memberinya pesan.
"Assallamualaikum, maaf ya gak bisa jawab. Lagi sama sepupu, takut heboh. Kenapa?"
"Waalaikum sallam, besok bisa bertemu?" Tanya Akbar.
"Abang di Indonesia?"
"Iya, Abang cuma cuti satu minggu, bisa kan ketemu? Ada hal yang harus Abang katakan penting!" Kata Akbar.
"Emm boleh Bang, tapi jemput di rumah ya. Besok Ayah ada di rumah, sekalian izin sama Ayah!"
"Alhamdulillah, sampai bertemu besok ya. Assallamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikum sallam Bang, selamat malam."
Akbar sangat bahagia ketika Fatim mau di ajak bertemu. Itu menandakan masih ada harapan lagi, dan Akbar tak ingin menyia-yiakan kesempatan itu. Rasa rindu telah ada, berarti rasa cinta akan segera datang. Begitupun dengan Fatim, yang bahagia ketika Akbar mengajaknya bertemu. Namun Fatim tidak sebahagia itu, mengingat Akbar juga ada wanita yang di sukainya di Jepang.