Suara Hati

Suara Hati
Bab. 143


__ADS_3

Balqis minta pamit untuk mengantar Aminah untuk bertemu dengan Abinya dulu, sementara itu Ceasy juga enggan menjadi obat nyamuk, karena Jamil sudah pamit ingin pulang.


"Kabir lihat deh, gimana menurut kamu?" Tanya Bonna memeperlihat kan foto seorang pria.


"Tampan, apa pekerjaannya?" Tanya Kabir.


"Dia CEO di salah satu perusahaan ternama di Korea, aku sudah mengenalnya selama empat tahun, minggu lalu dia melamarku. Bagaimana pendapatmu?" Tanya Bonna.


Seperti yang kita ketahui, hubungan Kabir dengan Bonna tidaklah sepesial layaknya sepasang kekasih, mereka hanya murni bersahabat. Karena bagaimana pun juga, Kabir dan Bonna memiliki keyakinan agama masing-masing yang sangat kuat. Jadi mereka sadar, mereka tidak akan mungkin bersama dalam sebuah ikatan, bahkan tidak ada cinta yang tumbuh di hati mereka juga tentunya.


"Jika kamu merasa cocok dengannya, ya apa salahnya jika kamu manerimannya, apa lagi kau sudah mengenalnya sejak lama. Pasti kau juga sudah mengenal keluarganya bukan?" Tanya Kabir.


"Iya sih, aku juga sangat menyukainnya, aku juga mencintainya, setelah aku kembali ke Korea, aku akan memberikan jawabanku. Karena sebelum aku kemari, dia juga mengantarku sampai Bandara, dan ia akan menunggu jawabanku Kabir" Kata Bonna manja.

__ADS_1


"Terbukti, apa lagi yang kau tunggu" Kata Kabir.


Bonna tersenyum manis kepada Kabir, sudah hampir memasuki waktu dzhuhur, Akbar ingun Bonna masuk dulu dan menunggunya di dalam rumah karena ia ingin jama'ah di masjid bersama yang lain.


Adzan telah berkumandang, semua lelaki termasuk Raihan bergegas ke masjid untuk shilat jama'ah, sedangkan yang perempuan sedang menyelesaikan memasak untuk makan siang. Mereka akan sholat bergantian.


Setelah sholat dzuhur, Kabir langsung pulang, karena ia sudah sangat lapar, ia tidak menunggu dulu yang lainnya. Kabir melihat Ceasy yang sendirian di taman depan rumah Papanya, ia sedang duduk di ayunan dengan kepala yang menunduk. Kabir pun mendekatinya.


"Assallamualaikum, boleh aku duduk?" Salam Kabir.


"Kok gugup gitu sih? Kenapa? Lagi sakit, atau lagi galau. Pasti udah punya pacar kan?" Kata Kabir.


Ceasy menggelengkan kepalanya, ia masih berharap cintanya terbalas oleh Kabir. Tapi seperti yang Ceasy lihat, Kabir mungkin tindak memiliki perasaan apapun terhadap Ceasy, di lihat ia begitu santai bertemu dengannya, padahal ini sudah lebih dari 3 tahun. Dan perubahaan fisik Ceasy juga sudah banyak.

__ADS_1


"Kok diam gitu sih? Kamu nggak suka aku pulang? Aku lihat sejak tadi pagi, kamu tidak mengatakan sepetah katapun kepadaku, jangankan bercanda, tersenyum untukku saja tidak. Aku salah apa?" Tanya Kabir.


"Cinta" Kata Ceasy.


"Cinta? Maksud kamu? Kamu jatuh cinta gitu? Widihhh sama siapa? Cerita dongg" Kata Kabir.


"E itu, itu loh Kak. Mmm aku kan punya sahabat, dia itu anak tiri, jadi ibunya dulu nikah lagi gitu sama duda beranak satu. Tapi teman aku itu jatuh cinta sama Kakak tirinya, apa itu salah ya? Kemarin dia tanya aku seperti itu, tapi aku nggak bisa jawab" Alasan Ceasy.


"Ya kalau mereka nggak ada ikatan darah atau se air susu, nggak papa dong. Kan mereka bukan mahram juga. Cuma segi pandang orang lain, mungkin kurang tepat aja cinta mereka. Karena setatus kakak adik, masa iya punya hubungan spesial yang kayak sepasang kekasih gitu sih" Kata Kabir dengan senyuman.


"Kak Kabir nggak peka ternyata, tapi ada benarnya juga kata Kak Kabir, aku dan Kakak tidak mungkin bersama" Batin Ceasy.


"Aku bantu yang lain dulu kak, Assallamualaikum" Kata Ceasy langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


"Waalaikum sallam warrahmatullahi wabbarokatuh. Pergi gitu aja nih?" Tanya Kabir.


Bukan Kabir tidak peka, itu semua karena Kabir sudah mendengarnya dari Jamil, kalau Ceasy menaruh rasa padanya. Sedangkan Kabir tetap selalu menganggap Ceasy itu adalah adiknya.


__ADS_2