
Malam hari, para santri sedang mengaji dan ada juga yang tartilan, hanya Balqis yang malam itu hanya duduk di kamar sendiri. Saat ini ia tidak mengikuti kegiatan pesantren karena sedang tidak enak badan.
"Ini cowok udah selingkuhin gue, sekarang gayanya minta maaf. Enak banget, emang hati ini beton cor-coran apa, tarik ulur sembarangan" Gumam Balqis.
Tiba-tiba Ustadzah masuk dan meminta Balqis untuk tidak bermain ponsel ketika masih di dalam pesantren. Meskipun Balqis anak dari Ustad terdahulu di pesantren itu, namun tidak ada yang harus di khususkan jika di pesantren. Mereka semua sama-sama murid yang masih mencari ilmu.
Balqis pun mengiyakan kata Ustadzah itu, karena memang itu sudah peraturan dari pesantren. Ustadzah itu juga datang untuk menanyakan hafalan Balqis malam itu.
Di Jepang, teman-teman Akbar semuanya datang, ada yang dari tim medis, ada juga teman kuliah Akbar yang datang disana. Bahkan Niki pun juga hadir di tengah-tengah mereka.
"Aku mau menunggu Falih besar aja deh, lalu aku jadikan dia suamiku. Tidak bisa bersatu sama bapaknya, ya harus dapetin anaknya dong hahahaha" Receh Niki.
"Nggak mau, aku tidak mau mempunyai menantu sepertimu" Kata Akbar.
"Abang ah, kalau nggak ada Niki, aku juga nggak mungkin bisa pergi kerumah sakit sendiri saat itu" Kata Fatim mencubit perut Akbar.
"Iya deh, terima kasih ya Tante Niki" Kata Akbar.
"Kakak dong, masa iya Tante hahahaha" Kata Niki sambil tertawa.
__ADS_1
Pagi hari, Balqis mendapat pesan kalau pacarnya sudah sampai di bandara dan memintanya untuk menjemputnya.
Balqis terburu-buru, ia juga tidak sempat izin kepada pengurus pesantren, ia langsung lari begitu saja. Tanpa tidak sengaja ia menabrak motor milik Syakir yang terpakir di samping motornya.
"Aw, sialan. Ini motor siapa sih yang parkir disini. Kampret!" Kesal Balqis.
"Itu motorku!" Kata Syakir.
"Parkir yang bener dong, jangan mentang-mentang Ustad jadi sembarangan gini" Kata Balqis.
"Ok aku minta maaf," Kata Syakir mengalah.
"Kamu mau kemana?" Tanya Syakir.
Tidak lama setelah itu, pengurus santri putri pun keluar. Ia menanyakan Syakir, apakah Syakir melihat Balqis atau tidak, karena Balqis di duga pergi tanpa minta izin dulu kepada pengurus, karena ia juga sedang sakit.
Syakir mengatakan bahwa ia tidak melihat Balqis, setelah pengurus kembali ke asrama putri, Syakir langsung bergegas menyusul Balqis dengan kecepatan penuh.
Karena macet, akhirnya Syakir melihat Balqis yang sedang ribut dengan seorang laki-laki, yang mungkin itu pacar dari Balqis. Pertengkaran itu juga di dengar oleh Syakir.
__ADS_1
"Kamu harusnya dukung aku dong beb" Kata Balqis.
"Kamu udah nggak menarik lagi, lihat! Pakaian apa ini?" Kata laki-laki itu seperti merendahkan.
"Kamu boleh menghinaku! Tapi jangan sekali-kali menghina agamaku!" Kesal Balqis.
"Kamu itu keturunan Chines Balqis, kamu ikut saja agama aku dan kakek nenekmu di Singapura!" Kata Laki-laki itu.
"Ini keyakinanku, urusanku dengan Tuhan. Sebaiknya kita putus saja, jika memang tidak bisa bersama, buat apa kita pertahankan!" Kata Balqis.
Laki-laki itu pergi begitu saja, terlihat Balqis langsung duduk di pinggi jalan dan menundukkan kepalanya. Ia menangis. Syakir pun mendekati Balqis.
"Assallamualaikum" Salam Syakir.
"Waalaikum sallam," Jawab Balqis.
"Ustad? Ngapain Ustad kesini?" Tanya Balqis.
"Pengurus bilang kamu sedang sakit, dan......" Kata Syakir.
__ADS_1
"Balqis, kamu nggak sibuk apa? Setiap hari kamu selalu ngurusin Amimah tanpa libur" Kata Syakir tiba-tiba mengubah topik pembicaraannya.
Ketika Balqis hendak berdiri, kepalanya sangat pusing, wajahnya pucat sekali. Tubuhnya seperti mengigil dan akhirnya Balqis pingsan di depan Syakir. Dengan sigap, Syakir pun langsung menahan tubuh Balqis agar tidak jatuh.