Suara Hati

Suara Hati
Bab. 89


__ADS_3

Akbar dan Kabir mencoba menghibur Ceasy dan membuatnya berhenti menangis. Segala upaya telah dilakukan oleh Akbar, namun Ceasy tidak juga berhenti menangis.


"Sy udah dong. Kamu kenapa? Cerita dong sama kita? Nangis itu gak akan menyelesaikan masalah. Usah kelas 7 juga" Kata Akbar.


"Abang! Kok nanya nya gitu sih?" Kata Kabir menepis tangan Akbar.


"Mama tinggal dulu ya kalian" Kata Leah, ia berharap kakak-kakak nya bisa mengatasi masalah Ceasy.


"Sy, kamu kenapa sih nangis gini? Cerita dong sama kita, kalau gak mau sama Abang ya sama Kak Kabir saja" Kata Kabir lembut.


Ceasy mengusap air matanya, ia pun menenagkan diri dulu dan mulai bercerita tentang apa yang ia alami.


"Aku di bully Kak" Kata Ceasy dengan suara gemetar.


"Astagfirullah hal'adzim" Ucap Akbar dan Kabir bersamaan.


"Siapa yang bully kamu? Bilang sama Abang, besok Abang bully balik dia. Macem-macem aja, mereka yang bulky gak tau apa kalau kamu punya kakak? Huftt" Kata Akbar.


"Biasa aja kale ah, dia udah besar gini. Masih di kek gituin. Dan sana pergi, biar aku yang menghibur Kabir, ini senasib dulu sama aku" Kata Kabir dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Yakin kamu bisa? Kamu kan juga korban bully dulu!" Kata Akbar meremehkan.


"Justru karena aku korban bully, jadi aku tau cara ngadapinnya. Eh maksutku menghadapinya" Kata Kabir.


"Wohh mosok!" Jawab Akbar meragukan.


Malah mereka berdua jadi saling adu mulut dan main tepuk-tepukan bahu. Setiap Akbar bicara, ia menepuk lengan Kabir, begitu juga dengan Kabir.


"Astaghfirullah hal'adzim, cukup!" Teriak Ceasy.


"Ceasy ini udah kelas 7, aku cuma butuh saran kalian agar aku gak di bully lagi, kalian malah berantem di kamarku. Out!" Kesal Ceasy.


"Kamu lah, noh mulai?" Kata Akbar membalas.


"Cukup! Kalau gak berhenti, kalian aku pukul pakai raket nyamuk ini. Mau?" Kesal Ceasy.


"Dia lebih galak dari Kak Ais Bang, sana pergi. Biar aku yang menjinakkan adik singa ini" Bisik Kabir.


"Assallamualaikum" Akbar langsung kabur begitu saja, ia melanjutkan tidur siangnya dengan nyenyak saat ini. Karena Ceasy sudah berhenti menangis.

__ADS_1


Kabir mulai mendekati Ceasy dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat ia menangis seperti itu. Ini juga kesempatan Kabir untuk mengenal secara lebih dekat lagi dengan Ceasy.


"Kakak kenapa masih di sini?" Tanya Ceasy sinis.


"Mau lebih kenal aja, sama adik singaku ini" Kata Kabir mengusap kepala Ceasy.


"Kakak kan tentara, mana tau permasalahan seperti ini. Yang buat aku nyaman cerita cuma Kak Syakir. Tapi Kak Syakir sudah menikah. Mana mungkin aku datang begitu aja ke rumah Kak Syakir" Kata Ceasy murung.


"Kak Kabir kan ada disini, wajah kita juga hampir mirip. Kenapa kamu nggak ganti ceritannya ke kakak saja. Yah, siapa tau dengan ini, kita bisa akrab seperti yang lainnya. Sejak kamu datang kesini kan memang kakak gak tau" Kata Kabir mencoba memberi menjadi sahabat adiknya itu.


"Aku bahagia tinggal disini. Aku memiliki keluarga, memiliki orang tua, saudara dan nama. Walapun aku hanhalah anak ang........." Ketika Ceasy ingin mengatakan bahwa dirinya anak angkat, Kabir langsung memotong perkataannya.


"Stt, jangan bilang anak angkat lagi. Gak ada ya istilah anak angkat di keluarga kita" Kata Kabir.


"Tapi memang kenyataannya begitu kan kak? Wajar mereka bully aku, karena aku anak angkat di keluarga ini. Aku bukan putri bungsu pesantren Kak" Kata Ceasy mulai menangis lagi.


Kabir menengkan Ceasy agar tidak menangis lagi, dan ia juga memberikan pengertian, apa arti dirinya di keluarga besar itu.


Dimana-mana jika setatus bukan anak kandung memang sering jadi pembicaraan orang. Apalagi Anak Angkat, Anak Adopsi atau Anak Tiri. Istilah itu sering membuat bahan bully an anak di sekolah dan di masyarakat. Tanpa tau apa yang sebenarnya mereka telah mereka alami, hingga memiliki setatus itu. Hatinya pasti sudah terluka karena memiliki setatus itu. Entah itu memang anak yatim piatu, atau anak korban broken home dan banyak lagi kasusnya. mereka perlu kasih sayang, bukan bully an atau semacamnya.

__ADS_1


__ADS_2