
Hari itu sangat mengangkan, Akbar dan Fatim memutuskan untuk pergi ke tempat wisata lain mumpung masih siang. Membahas hal yang tertuda saat di pantai tadi.
"Kita di mobil aja Bang, lanjutin pembicaraan kita yang tadi" Kata Fatim.
"Gak jadi ke tempat lain gitu? Siapa tau ada yang ingin kamu kunjungi" Kata Akbar.
"Enggak lah, Abang ini serius dengan perjodohan ini gak sih?" Tanya Fatim.
"Serius dong, kan Abang udah menyetujui perjodohan ini, masa iya main-main sih?" Kata Akbar.
"Lalu, bagaimana dengan Niki?" Tanya Fatim.
__ADS_1
"Ya gak gimana-gimana lah, Abang udah jujur sama dia tentang kamu, dan dia mau tidak mau harus menerimanya dengan ikhlas hati" Kata Akbar.
.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan, kapan Abang bilang ya dan membawa orang tua Abang untuk melamar Fatim? Maaf Bang, Fatim terlihat mendesak Abang, tapi....." Kata Fatim.
"Abang tau kok, biar Abang mantapin hati dulu ya. Soal serius Abang sangat serius, tapi kalau menikah, Abang harus benar-benar mantapin hati Abang dulu, kamu gak keberatan kan menunggu?" Tanya Akbar.
"Aku udah nunggu sejak waktu pertama kali kita berpisah saat itu Bang, tapi aku juga gak boleh egois. Apakah Abang yakin tak akan mengecewakanku lagi? Jika aku harus menunggu lagi...." Kata Fatim.
"Bang, jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kamu sebut dalam doamu (masih tanda tanya), mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam doanya(Akbar)?" Tanya Fatim.
__ADS_1
"Katanya karena jika memang jodoh Allah akan semakin mendekatkan, bukan menjauhkan kan Bang. Lha ini Abang mau ke Jepang lagi, bisakahah Abang mengikat aku terlebih dahulu?" Tanya Fatim lagi.
"Jangan menyerah saat doa-doamu belum dijawab. Jika kamu mampu bersabar, Allah mampu memberikan lebih dari apa yang kamu minta. Tunggu aku kembali lagi dan aku akan segera memberi keputusan, tapi aku mohon, saat kita berjauhkan nanti, tolong ingatkan aku agar aku selalu ingat akan wanita yang sedang menungguku ini" Kata Akbar.
"Abang memang pandai berkata manis, buktikan dong Bang, perempuan butuh kepastian, sedangkan usia kita juga sudah tidak remaja lagi, kita ini sudah berusia 27 tahun ini, untuk usia perempuan masih lajang, umur segitu sudah terlalu matang" Kata Fatim.
Bukan Fatim tidak memiliki harga diri meminta kepastian dari Akbar, namun yang sebelumnya, ia sudah sedikit kecewa dengan Akbar yang saat itu berpelukan mesra di hadapannya. Dan mampu melukai hatinya, walau itu hanyalah kesalah pahaman belaka.
Pintanya, jika memang Akbar tidak akan melangkah bersama, ia bisa menerima pinangan orang lain walau akan menyakiti perasaannya, karena sejak perpisahan itu. Fatim selalu ingin, Akbar lah yang menjadi penyempurna imannya kelak nanti.
Akbar berusaha meyakinkan Fatim, jika ia akan segera pulang dan membawanya pergi ke Jepang, agar bisa hidup bersama, sebagaimana menyempurnakan iman dan bersama-sama dalam satu tujuan berjalan di jalan syurga yang Allah janjikan.
__ADS_1
"Kalau gitu, buka dong blokirannya. Masa iya kita mau komunikasi lewat sosial media terus" Kata Akbar.
Fatim pun membuka blokiran nomor Akbar, dan mereka membuat kesepakatan untuk masa depannya. Barang siapa yang ingkar, kesempatan tak akan datang untuk kedua kalinya. Dan segera mungkin, Akbar akan memberi keputusan untuk masa depan Fatim, akan meminangnya, atau akan melepaskannya. Hanya hati dan Allah saja yang tau perasaan mereka masing-masing