
"Masa iya pipis disini, jorok kali Bang. Kita cari aja pom dulu atau minimarket yang nyediain kamar kecil" Kata Fatim.
"Hufft, aku yang nggak sabar Sayang, ya udah kita cari kamar kecil dulu ya" Kata Akbar mengemudikan mobilnya dengan pelan.
"Pelan-pelan lah Bang, aku tuh lagi pusing ini. Mana perut tiba-tiba nggak enak gini" Kesal Fatim.
Beberapa menit kemudian Pom sudah dekat, Akbar memakirkannya persis di depan kamar kecil pom itu. Lalu menyuruh Fatim untuk segera tes menggunakan alat kehamilan itu.
"Pakai apa?" Tanya Fatim.
Akbar memberikan potongan botol yang baru saja ia potong. Memberikannya kepada Fatim, dan Fatim pun masuk ke kamar kecil. Lama sekali Fatim tidak keluar-keluar, saat Fatim keluar ia memasang wajah yang terlihat sangay sedih.
"Gimana hasilnya?" Tanya Akbar.
Fatim hanya menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah sedihnya. Akbar tidak bertanya lagi. Ia merasa ada sesuatu yang janggal pada detak jantungnya, mana mungkin ia ssalah periksa.
"Ya udah kita lanjut aja pulang. Kamj juga sudah capek kan?" Kata Akbar.
"Bang," Kata Fatim.
"Iya sayang, hey murung gitu sih. Sabar ya, belum rezeki. Nanti kalau sudah waktunya pasti Allah ngasih yang terbaik. Santai aja, kita menikah juga baru mau delapan bulan kan?" Tanya Akbar dengan membelai kepala Fatim.
__ADS_1
"Sorry, Abang will soon be a Daddy" Kata Fatim dengan lirih.
"Apa?" Kata Akbar meminta hasil tesnya.
Fatim tersenyum, saat Akbar melihat garis dua di alat tes itu. Ia sangat senang sekali, bahkan ia terus saja menciumi istrinya. Menangis dan terharu, karena sembilan bulan kedepan ia akan menjadi seorang Ayah.
"Kita harus segera kerumah sakit, kita harus periksa. Ok!" Kata Fatim.
"Jangan dulu, kita pulang aja dulu. Aku capek mau rebahan" Kata Fatim menggenggam tangan Akbar.
"Siap nyonya" Kata Akbar semangat.
Perjalanan memang sangat jauh, tapi tidak Akbar rasakan dikarenakan ia sedang dalam mood yang baik. Tidak terasa sudah sampai di rumah Ruchan, mereka segera turun dan membagikan kabar gembira itu.
"Waalaikum sallam, Abang, Kak Fatim" Jawab Ceasy.
"Ceasy, Abi sama Mama kemana?" Tanya Akbar.
"Masuk dulu Bang, Mama dan Abi sedang pergi kerumah Kak Ais. Airy sama Raihan dirumah sendiri, Kak Ais dan Kak Rifky lagi pergi katanya" Kata Ceasy sambil mengambilkan air minum.
"Oh gitu, kamu rapi gini mau kemana?" Tanya Akbar.
__ADS_1
"Ada deh" Jawab Ceasy sambil meletakkan bolu buatannya.
"Ini buatan kamu bolunya? Enak loh" Kata Fatim.
"Iya dong, aku belajar sama Kak Ais" Kata Ceasy.
Obrolan mereka hanya sebatas itu saja, tidak lama setelah itu Jamil pun datang. Ternyata Ceasy akan pergi dengan Jamil. Itu membuat Akbar tidak menyukainya, bukan karena Akbar tidak menyukau Jamil, tapi Kakak mana yang senang begitu saja melihat adik perempuannya jalan dengan laki-laki lain.
"Assallamualaikum!" Salam Jamil.
"Waalaikum sallam" Jawab Akbar sinis.
"Astaghfirullah hal'adzim, Lahaulla walla quwataillah billah....." Ucap Jamil.
"Duduk Kak Jamil, aku mau ambil tas dulu ya ke kamar" Kata Ceasy semangat.
Jamil pun duduk dengan wajah tanpa dosanya. Ia juga menyapa Fatim dengan santai. Sebaliknya dengan tatapan sinis Akbar yang membuatnya tidak nyaman.
"Opo se Bar. Iya percaya aku ngganteng, tapi mbok ya jangan memandangku seperti itu to" Kata Jamil menggoda Akbar.
"Mau ajak kemana Ceasy? Jangan macam-macam kamu ya Mil" Kata Akbar.
__ADS_1
Jamil mengerutkan dahinya, jika Jamil bicara jujur kemana tujuan mereka, pasti tidak akan di izinkan pergi oleh Akbar. Jamil pun terpaksa berbohong, dengan mengatakan 'kepo' kepada Akbar.