
Hari itu juga, Syakir dan Ika melihat rumah baru yang sudah Syakir bangun untuk mereka tinggali. Rumah itu sebenarnya sudah siap dihuni, karena perlengkapan dan peralatan rumah tangga belum lengkap, jadi mereka harus belanja terlebih dahulu.
"Dek, tolong dong sekalian bawain dompetku. Ada di samping buku materiku ya. Aku tunggu di luar" Kata Syakir.
"Ya Ustad" Jawab Ika.
Syakir pergi ke garasi, di sana ia bingung mau naik apa. Karena kendaraan tersisa hanyalah sepeda motor tua milik Ruchan dan sepeda ontel miliknya.
"Ini Ustad dompetnya. Ustad kenapa kok diam saja sih?" Tanya Ika.
"Hari ini kita mau naik apa? Mobil semua di bawa, motor juga tinggal itu aja. Mana suratnya juga aku gak tau dimana lagi. Gimana dong, masa iya kita ngontel sih, pasar jauh banget loh" Kata Syakir.
__ADS_1
"Ngontel juga gak papa Ustad, nanti kita gantian mboncengnya, gimana? Dari pada nunda-nunda lagi, malah nanti Ustad gak ada waktunya" Kata Ika dengan senyuman.
"Masya Allah senyumu Dek, marai adyemm pol sak pol e. Ya udah kita ngontel gak papa lah, nanti biar barang yang kita beli, biar di ambil sama santri yang biasanya pakai mobil pic up nya" Kata Syakir.
Mau tidak mau mereka pun akhirnya naik sepeda ontel, walaupun cuaca sedang terik, tidak membuat Syakir mengulurkan waktu lagi agar bisa hidup mandiri di rumah sendiri. Dan tidak ingin membuat istrinya kecewa, sudah rapi-rapi malah tidak jadi pergi itu menyakitkan bagi wanita. Sakit tidak berdarah, dan semuannya nantinya akan serba salah.
Walaupun ngontel, namun Syakir tetap tersenyum. Mereka malah menjadi pusat perhatian di jalanan. Semua menatap pasangan pengantin baru ini, bahkan ada juga yang mengambil foto mereka.
"Sebentar lagi kita viral Dek" Kata Syakir menambah lanju sepedanya.
Sore menjelang maghrib, Akbar, Keny dan Kabir masih berada Alun-alun Kota Jogja. Mereka menikmati suasana sore hari itu. Banyak juga pasangan muda mudi, penjual dan keluarga yang berada di Alun-alun.
__ADS_1
"Pulang yuk, dah mau maghrib nih" Ajak Keny.
"Ntaran deh. Masing pengen disini" Kata Akbar.
"Kamu mau menghindari Kak Ais ya? Jangan gitu dong Bang. Berani berbuat, harus berani juga bertanggung jawab. Siapa suruh kamu menuruti kata-kata Mama dan Jamil" Kata Kabir.
"Santai aja, nanti juga Kabir bakal bantu kamu kok ngomong ke Kak Ais. Dia marahnya cuma sebentar kan? Kita juga tau sifat Kak Ais kan?" Kata Keny menghibur Akbar, agar mau di ajak pulang.
Ketika mereka sedang berdiskusi tentang bagaimana cara menghadapi Aisyah nanti di rumah. Ada dua orang anak kecil yang duduk di dekat mereka membawa dagangan.
"Mbak, ayo pulang" Kata anak laki-laki kecil itu.
__ADS_1
"Sabar dong Dek, kita harus jual gorengan ini sampai habis. Kalau tidak, nanti Bu dhe akan marah sama kita. Mbak gak mau kamu di pukul lagi" Jawab gadis cilik, yang di duga kakak dari anak laki-laki itu.
Akbar, Keny dan Kabir terus mengamati dan mendengarkan apa yang di katakan dua anak itu. Yang mereka dengar adalah, sang kakak tidak ingin melihat adiknya di pukul lagi oleh Bu dhe nya jika dagangannya belum habis.