Suara Hati

Suara Hati
Bab. 117


__ADS_3

"Bagaimana? Kalian sudah mengetahui masa lalu tentang Fatim?" Tanya Dara di telfon.


"Maaf Dar, kita belum mengetahui dimana ia tinggal. Kamu mengirimkan alamat yang salah, alamat yang kamu kirim itu adalah pesantren"


"Bodoh! Kalian punya mulut kan? Pakai untuk bertanya! Di pesantren itu Akbar di besarkan, pasti salah satu santri ada yang tahu alamat istri Akbar!" Kata Dara kesal.


"Kami sudah bertanya, tidak ada satu orang pun yang menjawab dengan jujur pertanyaan kita"


"Bodoh! Sangat bodoh!" Kata Dara mematikan telfonnya.


"Baiklah, aku sendiri yang akan membuat Akbar dan Istrinya itu pisah! Jangan sebut aku Dara kalau aku tidak bisa mendapatkan laki-laki yang aku mau." Kata Dara.


Mau dapat informasi dari mana pun tetap Dara tidak bisa membongkar aib Fatim. Kasus Fatim di rahasiakan oleh Clara dan keluarga, bahkan satu desa Fatim juga disuruh diam agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.


Disisi lain, Syakir dan Ika sedang sarapan bersama. Ika merasa mual dan ingin muntah. Ia juga tidak mau melihat wajah Syakir, hingga membuat Syakir kebingungan.


"Huek, huek"


"Ika, kamu kenapa?" Tanya Syakir.


"Ustad bisa minggir dulu nggak? Aku nggak suka Ustad deket-deket aku! Dan parfum ini, aku nggak suka! Bau tau!" Kata Ika sedikit nge gas.

__ADS_1


"Hah? Parfum ini kan kamu yang membelikan Ika" Kata Syakir masih bingung.


Tiba-tiba Ika pingsan, karena panik Syakir langsung menelfon Keny dan Aisyah bersamaan. Pagi-pagi Syakir juga sudah membuat geger orang tuannya. Tanpa basa-basi Ruchan dan Leah juga menuju rumah Syakir yang masih ada dilingkungan pesantren.


"Assalamualaikum!" Salam Aisyah.


"Kak, kamu kesini juga?" Tanya Keny.


"Syakir panggil kamu juga?" Tanya Aisyah.


"Iya, katanya istrinya pingsan, belum selesai sarapan aku langsung kesini" Jawab Keny.


"Assalamualaikum " Salam Leah dan Ruchan.


"Syakir yang telfon" Kata Leah.


"Ada apa sih memangnya, Abi lagi sakit pinggang ini" Kata Ruchan.


Syakir mendengar suara mereka, ia pun langsung keluar dari kamar.


"Malah konferensi di situ pada. Cepat masuk, Ika pingsan ini! Eits jangan semua dong, Kak Ais sama Keny saja" Kata Syakir.

__ADS_1


Keny dan Aisyah masuk ke kamar Ika dan memeriksanya. Beberapa menit kemudian mereka berdua pun keluar.


"Selamat bapak Syakir, 8 bulan kedepan anda akan segera dipanggil Abi, dan aku akan dipanggil Bu Dhe" Kata Aisyah dengan wajah datar.


"Saya sarankan untuk membawa ibu hamil ini check ke rumah sakit, agar bisa mengetahui lebih lanjut" Kata Keny,.


Syakir, Leah dan Ruchan hanya melongo saja, mereka tidak percaya jika akan ada bayi lagi yang akan lahir, setelah kelahiran anak pertama Ilham dan anak kedua Aisyah.


"Maksud Dokter? Istri saya hamil?" Tanya Syakir.


"Heh, masih aja becanda kalian! Itu beneran Ika hamil?" Tanya Leah menepuk p*ntat Syakir.


"Adu sakit Ma" Kata Syakir.


"Syakir, parfummu bau banget sih. Kek gini amat baunya, jauh-jauh dari kakak!" Kata Aisyah ingin muntah.


"Tadi Ika juga bilang gitu, bahkan sebelum pingsan dia juga bilang kalau sebel lihat muka ku" Kata Syakir.


"Udah sana masuk, temui istrimu. Sudah sadar dia, aku mau pamit dulu ya" Kata Keny.


"Kok terburu-buru Ken?" Tanya Ruchan.

__ADS_1


"Pamit mau kedapur, Keny lapar Om. Hehehe, permisi" Kata Keny.


Kebahagiaan itu juga terdengar oleh Akbar dan Fatim di Jepang. Syakir juga bergegas membawa Ika untuk periksa lebih lanjut lagi, Fatim juga ingin hamil dan memiliki anak sendiri. Ia sangat bahagia mendengar bahwa Ika sudah hamil.


__ADS_2