
Sekitar 20 menit, Akbar keluar dari kamarnya. Fatim sudah menunggunya di meja makan. Menyiapkan apa yang Akbar inginkan dan mulau menyuapinya.
"Abang" Kata Fatim menyentuh tangan Akbar.
"Iya sayang, aku baik-baik saja kok" Jawab Akbar.
"Kenapa sih? Ada apa, cerita dong" Kata Fatim.
"Pengen pulang ke Indonesia, dan menetap aja disana. Atau aku akan mengurus perkebunan dan peternakan di Bandung" Kata Akbar.
"Hah?" Kata Fatim.
Akbar menceritakan semuannya kepada Fatim masalah Dara, ia merasa terganggu dengan Dara. Perempuan patah hati bisa nekat kapan saja, dan malah bisa membahayakan Fatim dan calon anaknya di kemudian hari.
"Aku percaya kok sama Abang" Kata Fatim.
__ADS_1
"Bukan masalah itu Yang, aku risih aja sama dia. Aku takut kalau kek sinetron gitu, kalau bukan aku yang di kejar, pasangan dari laki-laki itu yang akan di teror" Kata Akbar.
"Abang, insyaallah. Aku nggak papa, dengan Abang bercerita seperti ini, aku kan jadi bisa waspada. Kamu semangat kerjanya ya. Buat anak kita" Kata Fatim memberi semangat kepada Akbar.
"Yang khawatirkan juga, takutnya kedepannya nanti akan ada hal yang tidak-tidak denganku dan dia. Aku tidak ingin kehilanganmu sayang. Aku ingin kita bisa hidup bahagia bersama anak kita nanti" Kata Akbar.
"Aku percaya padamu Bang" Kata Fatim membelai pipi Akbar.
Mereka saling berpelukan, malam itu malam yang menegangkan bagi mereka berdua. Yang sebelumnya Akbar merasa tertekan, kini telah berubah setelah menceritakan semuannya kepada Fatim.
Hari demi hari berlalu, bahkan bulan sudah berganti bulan. Sera, Aisyah dan Ika melahirkan di bulan yang sama, namun berbeda tanggal. Karena anak mereka lahir dibulan yang sama, maka acara aqiqahan akan di adakan secara bersamaan.
Acara aqiqahan akan diadakan satu hari lagi, Akbar dan Fatim bergegas pulang ke kampung halaman untuk menghadiri acara tersebut. Namun, Dara mengikuti mereka berdua sampai ke pesantren, entah apa yang akan ia lakukan kepada Akbar dan Fatim.
Hari itu juga acara pemberian nama.
__ADS_1
"Assallamualaikum warahmatullahi wabbarokatuh, nama anak kami ialah 'Maysita Puspa Jannata Sari' yang akan kami panggil dengan sebutan 'Sita' " Kata Ilham.
"Nama anak kita adalah, 'Yusuf Ali' kita panggil dengan nama Yusuf, singkat jelas padat hehehe" Kata Rifky.
"Nama anak kami, Siti Aminah. Ya kalian tahu sendiri lah nama itu, semoga kelak Aminah bisa menjadi anak yang solihah, begitupun dengan Mbak Sita dan Mas Yusuf amin" Kata Syakir
Dara melihat Akbar dari kejauhan, ia semakin menggila. Bahkan merencanakan hal buruk untuk keluarga Akbar, sekarang bukan untuk mengejar cinta Akbar, melainkan balas dendam dengan keluarga Akbar atas penolakan yang telah Akbar lakukan.
Disana juga ada kehadiran Balqis, putri dari Arifin dan Intan yang sudah menginjak usia 20 tahun, seusia Ika. Tujuan Balqis adalah nyantri di pesantren itu.
"Perkenalkan Han, ini anak gadisku. Namanya Balqis, tujuh tahun lalu dia ikut kesini saat pemberian cucu kembarmu" Kata Arifin.
"Wah sudah besar ya, sebentar lagi punya mantu nih" Kata Ruchan.
"Aku malah ingin dia nyantri beberapa tahun disini, bolehkan? Belum telat juga kan?" Tanya Arifin.
__ADS_1
"Ndak ada yang namanya telat kalau urusan belajar Pin, yo ra Han? Hahahaha eh anak keduaku juga udah lahir loh, udah gede malah, 5 bulan usiannya" Sambung Farhan.
Sekian lama tiga serangkai yang dulu tidak terpisahkan ini akhirnya berkumpup kembali. Farhan juga sedah jarang ke pesantren karena ia sibuk dengan usahanya sendiri. Sedangkan Arifin pulang ketika ada acara besar di pesantren saja.