Suara Hati

Suara Hati
Bab.24


__ADS_3

Mulai Cemburu.


Akbar kesal karena tidak bisa mengambil cuti dalam waktu dekat. Ia pun meminta Aisyah untuk meyakinkan Fatim agar hatinya tetap untuk Akbar. Aisyah pun menyanggupi permintaan Akbar dengan syarat, kali ini Akbar harus berjuang sendiri memperbaiki dan menyembuhkan luka hati Fatim, yang tidak sengaja terluka karena sikap Akbar.


Karena sampai sekarang orang rumah belum tau menahu dengan apa yang terjadi antara Fatim dan Akbar di Jepang.


Aisyah pun pamit kepada Akbar dan Sandy untuk pulang waktu itu. Karena tugasnya di rumah sakit sudah selesai, dan juga berpesan kepada Akbar kalau sudah dapat cuti harus segera memperbaiki semua kesalahannya.


Cuti itu akhirnya di dapatkan selang satu setengah bulan, Akbar baru bisa pulang. Namun Akbar pulang kerumah Aisyah dan Rifky terlebih dahulu, saat di perjalanan pulang, Akbar tidak sengaja melihat Syakir dan Fatim sedang jalan berdua.


Sebenarnya tidak berdua saja, dibelakang juga banyak santri yang baru pulang dari sebuah acara. Berdua itu hanya sudut pandang Akbar yang memang sudah timbul rasa cemburu.


"Wooo kurang ajar Syakir. Masa depanku ameh di rampok! awas aja nanti kamu Kir. Aku pites kamu kek kutu, tunggu aja!" Kesal Akbar.


Akhirnya sampai juga Akbar di rumah Aisyah. Disana juga ada Airy, Raihan dan Naira anak Clara dengan Keny. Mereka sangat bahagia dengan kedatangan Akbar kala itu. Karena sejak dulu mereka dekat dengan Akbar, walaupun hanya dekat di hati dan jauh di mata.

__ADS_1


"Assallamualaikum keponakan Om Abang yang cantik-cantik dan ganteng" Salam Akbar.


"Waalaikum sallam, Om Abang datang, ayo masuk Om. Pantesan Mama masak banyak, karena Om Abang datang ya?" Kata Airy ceria.


"Oh ya? Eh Naira juga di sini? Biasanya di rumah Nenek sama Kakek kan?" Tanya Akbar.


"Om Abang baru tau ya, kan Naira sudah jadi anak Ami sama Bubu. Ya harus tinggal disini lah, kan udah kewajibannya Ami dan Bubu, gimana sih Oma Abang" Kata Raihan.


"Oh ya? Lama-lama kamu kayak Kakung sama Bubu mu. Awas! Dewasa sebelumnya hehehe, Om gak tau tuh" Kata Akbar sambil menggendong Naira masuk.


Naira ini wajahnya mirip sekali dengan Keny, namun sifatnya sama seperti Clara. Sering kali setiap bermain dengan Naira, Akbar kena pukulan tangan mungilnya itu.


Karena anak-anak sudah tidur, kini waktunya untuk bicara serius dengan Aisyah tentang apa yang dilihatnya tadi. Ternyata Aisyah telah sekongkol dengan Syakir untuk memberi pelajaran cemburu kepada Akbar. Hahaha pelajaran cemburu, siang tadi sengaja Syakir ngajak Fatim ikut acara dan pulang dengan berjalan kaki, karena perkiraan Aisyah, Akbar akan lewat di jam tertentu.


"Kak, Kak Rifky kemana sih?" Tanya Akbar.

__ADS_1


"Masih di resto lah, kenapa? Mau nyusul?" Tanya Aisyah.


"Heheh gak juga sih, mau nanya aja. Tapi ini tentang Syakir dan Fatim" Kata Akbar.


"Kalau soal Fatim mah Kakak gak heran, kenapa nanya tentang Syakir? Kangen?" Tanya Aisyah.


"Emm ya gak sih, kangen sama dia mau apa? Ngeselin iya! Cuma tadi Abang lihat mereka jalan berdua aja, huh kesel" Kata Akbar.


"Jalan berdua? Syakir bilang ada santri lain loh, dan gak mungkin mereka jalan berdua romantis" Kata Aisyah menahan tawa.


"Ah bodo, yang ku lihat tadi berdua kok. Abang mau tidur dulu. Nanti sorean aja ke rumah Abinya, males ketemu tukang tikung" Kata Akbar, ngedumel tidak jelas.


Aisyah mengabari Syakir jika Akbar masuk keperangkap, dan Aisyah tetap memberi peringatan agar Syakir tidak melakukan hal di luar rencana (jatuh cinta kepada Fatim).


Namum Syakir tetap dalam pendirian. Di mata hatinya, Fatim tetaplah calon kakak iparnya. Karena dia sendiri sudah memiliki pendirian, hanya akan menikah ketika Akbar dan Kabir menikah lebih dulu, namun tidak kecuali jika Allah sudah mendekatkan jodohnya dalam waktu dekat ini. Itu sudah lain lagi ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2