Suara Hati

Suara Hati
Bab. 132


__ADS_3

7 hari berlalu, ini tahlilan terakhir di kediaman rumah Syakir. Sepertinya memang Syakir memiliki kekuatan untuk tetap tabah. Ia masih bisa tersenyum di saat menyambut para peziarah yang datang.


Malam ketujuh Syakir tidur hanya bersama Aminah. Aminah juga bayi yang sangat pintar, dia jarang sekali rewel. Bahkan kalau tidur suka pules, karena Aminah masih membutuhkan Asi, dengan suka rela Sera dan Aisyah memberikan separuh asinya kepada Aminah. Ini artinya mereka bertiga se susu, jadi juka besar nanti, Aminah dan Yusuf tetap menjadi mahrom, bersentuhan tidak akan membatalkan wudhunya. Namun jika memiliki hubungan spesial akan menjadi haram bagi mereka.


Pagi itu Clara dan Syakir ke penjara untuk melanjutkan kasus Dara itu. Akbar dan Fatim sudah kembali ke Jepang sejak dua hari lalu, sedangkan Rifky kondisi nya sudah mulai membaik, dan sebentar lagi akan di perbolehkan pulang.


"Kalian siapa?" Tanya Dara.


"Perkenalkan, saya pengacara dari klien Akbar Putra Handika. Saya akan membuatmu bertanggung jawab atas perbuatan yang telah jamu lakukan" Kata Clara.


"Betol" Kata Jamil.


"Lu ngapain ikut masuk sih, keluar sono. Ganggu orang kerja aja lu" Kata Clara.


"Aku hanya melukai Kakak Ipar Akbar saja kan? Aku juga bakal tidak akan lama disini. Lagian Kakak Ipar Akbar juga selamat dari racunku kan?" Kata Dara menyombongkan diri.

__ADS_1


"Kamu telah membuat bayi berusia 1 minggu menjadi seorang piatu, dan hampir saja kamu akan membuat anak kembar berusia 9 tahun dan bayi 2 minggu juga menjadi yatim. Apakah itu bukan kesalahan yang fatal?" Tanya Clara masih santai.


"Maksud kamu?" Kata Dara.


"Ika, istri dari Syakir meninggal dunia di tangan anak buahmu" Kata Clara.


"Itu bukan urusanku, begini saja. Aku akan membayarmu dengan mahal, kalau kamu mau mengalah dalam kasus ini. Aku janji, tolong bekerja samalah denganku" Kata Dara yakin.


Clara tersenyum sinis, Dara belum tahu jika Akbar adalah adik dari Clara. Clara pun mengeluarkan tangannya, seolah-olah setuju dengan apa yang di katakan oleh Dara. Dara pun menjabat tangan Clara dengan wajah girang.


"Siapa bilang saya setuju denganmu" Kata Clara.


"Lah ini jabat tangan?" Tanya Dara.


"Mil, jelasin Mil. Yang jelas biar dia ngerti dan paham" Kata Clara.

__ADS_1


"Ngerti dan paham apa bedanya yak" Kata Jamil sok berfikir.


"Jamil!" Kesal Clara.


"Ah iya, iya, iya. Jangan nge gas dong. Jadi gini mbak Dara yang seperti burung Dara. Mana mau pengacara yang cantik nan anggun ini bekerja sama denganmu. Ka......" Kata Jamil. Belum juga Jamil menjelaskannya ,Dara sudah memotong perkataan Jamil.


"Memangnya berapa sih yang kamu minta" Kata Dara sinis.


"Dengerin dulu ngapa. Mbak Clara ini adalah Kakak dari saudara Akbar, Kakak ipar dari laki-laki yang kamu tusuk kemarin. Lalu Kakak ipar dari salah target kamu, ulerrr!" Kesal Jamil.


"Maksud kamu......." Tanya Dara mulai gugup.


"Kurang jelas? Biar saya perjelas lagi. Saya adalah Clara Putri Handika, dan Akbar adalah. Akbar Putra Hadika, dan suami Aisyah yang kamu tusuk itu adalah adik ipar saya, nama adik saya Aisyah Putri Handika. Lalu, perempuan yang kamu culik itu, istri dari adiknya Aisyah. Syakir Al Jazeera nama belakang mengikuti keluarga Ayahnya" Jelas Clara.


"J-j-jadi, mereka semua bersaudara?" Tanya Dara mulai ketakutan.

__ADS_1


Clara menunjukkan foto kelauarga besar Handika dan Pesantren, dimana semua da di foto itu. Dara mulai panik, karena Clara akan memastikan Dara akan dihukum seumur hidup dengan tuduhan perencanaan pembunuhan, penculikan dan sampai kasus penusukan.


__ADS_2