
Kabir merasa di peras oleh Jamil, benar apa yang dikatakan Syakir. Jika mengajak Jamil pergi pasti akan bangkrut, karena ia selalu memanfaatkan keadaan. Namun tidak ada Jamil tidaklah seru. Jamil sudah seperti keluarga sendiri di keluarga Kabir. Sebenarnya ia sangat baik, selalu membantu di kala keluarga Kabir membutuhkannya. Ia bekerja kala dimalam hari, memiliki usaha kecil-kecilan seperti orang tuannya.
"Ajur jum, Ajur... Ya Allah Ya Rabbi" Kata Kabir.
"Sing sabar, jangan ngeluh dong. Ikhlasin aja, loss ke bosku.
"Ya Allah, paringi sabar aku punya temen bentuknya seperti Jamil" Kata Kabir.
"Emang kak Jamil bentuknya gimana Kak?" Tanya Ceasy.
"Itu emotion di hp yang berwarna coklat tiga tingkat" Kata Kabir.
"Yang penting happy" Kata Jamil mengelus-elus tas kreseknya.
Setelah selesai berbelanja, Kabir mengangar Jamil pulang terlebih dahulu. Karena hari sudah sore, ia harus siap-siap buka lapaknya. Dijalan, Kabir dan Ceasy hanya diam saja. Kabir memang selalu diam kalau tidak di ajak bicara dulu.
__ADS_1
"Kak, sini in ponselku" Pinta Ceasy.
"Nggak, anak kecil itu nggak boleh pacaran, sekolah dulu yang rajin, ngejar cita-cita. Punya penghasilan sendiri, baru mikirin jodoh, lagian pacaran itu juga nggak boleh tau" Kata Kabir.
"Ya aku bosen, aku pengen mainan ponsel Kakak. Ponselku juga, kenapa aku yang harus repot sih" Kesal Ceasy.
"Dasar bocil" Kata Kabir.
Lalu Kabir memberikan ponsel miliknya kepada Ceasy, awalnya Ceasy menolak. Namun penasaran dengan isi chat antara Kabir dan cewek-ceweknya. Ceasy pun menerimanya dengan tanduk yang mulai muncul.
"Maunya, kalau mau main boleh. Tapi kalau mau tukeran. No!" Kata Kabir.
"Astaghfirullah Kak Kabir, kok chat nya sama cewek-cewek gini sih. Itu sama aja kakak itu zina mata dan fikiran tau. Pokoknya kita tukeran ya" Modus Ceasy.
"Kamu mau main atau tidak, kalau tidak siniin ponsel aku. Dan jangan sembarangan buka chat kayaj gitu dong. Nggak sopan tau" Kata Kabir.
__ADS_1
"Bodo, pokoknya aku aduin ke Abi dan Mama, kalau Kak Kabir nakal, main-main sama cewek yang bukan mahram" Kata Ceasy.
Kabir memberhentikan mobilnya, dan menyuruh Ceasy turun untuk pulang sendiri. Ponsel Kabir ia ambil kembali, dan ponsel Ceasy ia berikan kepada Ceasy sendiri. Bukan Kabir tega, tapi karena sudah dekat dengan pesantren, dan menghukum Ceasy karena sudah membuka isi chat nya dengan orang lain.
"Aku benci sama Kak Kabir, asyem, tempe bacem, tahu petis, bakwan malang. Sebel sama Kak Kabir" Teriak Ceasy.
"Bodo amat, jalan noh, tinggal 10 meter lagi sampai pesantren, siapa suruh buka privasi orang lain" Kata Kabir.
Di rumah Syakir, Aminah sedang demam karena kecapekan bermain siang tadi. Ia sangat bingung karena yang dipanggil adalah Balqis, bukan Abinya sendiri.
"Mama Qis, Mama Qis" Rengek Aminah.
"Aduh, Aminah sama Abi dulu ya, Mama Balqisnya lagi ngaji, besok ya sama Mamanya" Kata Syakir menenangkan Aminah.
Semalaman Aminah rewel terus menerus. Bahkan Syakir tidak bisa tidur karena Aminah terus saja memanggil Balqis, suhu badannya juga tidak kunjung turun hingga 40 derajat. Saking paniknya, Syakir menelfon Aisyah dan Akbar untuk segera datang merumahnya padahal waktu sudah menunjukkan dua dini hari.
__ADS_1