Suara Hati

Suara Hati
Bab. 56


__ADS_3

Malam setelah sholat Isya'. Syakir dan Akbar sedang duduk berdua di ayunan taman kecil mereka. Mereka berdua sedang membicaran tentang kepulangan Kabir, yang belum juga pulang.


"Kabir ini, jadi pulang gak sih!!" Kesal Syakir.


"Sabar lah Kir, emang segampang itu dia bisa pulang, mungkin ya nanti, atau bisa besok pagi-pagi sekali" Kata Akbar.


"Dia ini gak pernah pulang sejak berangkat, komunikasi juga jarang, itupun kadang hanya kirim surat tanpa kasih foto. Lha kita aja bisa pulang kapan aja. Aku juga setelah selesai belajar langsung pulang" Kata Syakir.


"Kalian bicarain apa sih?" Tanya Keny tiba-tiba muncul dan duduk di depan Akbar.


"Ehh kapan pulang? Dah lama banget nih gak ketemu" Kata Akbar menyalami Keny.


"Sore tadi, mau langsung kesini capek banget, jadi istirahat dulu di rumah" Kata Keny.


"Bisa gak sih biasain salam dulu, masih muslim kan?" Tanya Syakir.


"Oh iya deh Ustad, Assallamualaikum" Salam Keny.

__ADS_1


"Waalaikum sallam, telat" Kata Syakir.


"Kak Clara gak ikut?" Tanya Akbar.


"Clara ada di Swiss, gak inget bagaimana Clara ngotot pengen nerusin karirnya disana" Kata Keny.


Hubungan antara Keny dan Clara juga merenggang, karena keegoisan mereka yang mementingkan karirnya masing-masing, mereka harus berpisah dan menitipkan anaknya keoada Aisyah dan Rifky.


Bukan berpisah bercerai, hubungan mereka hanya menggantung. Yang Keny ada di Jogja, sedangkan Clara ada di Swiss, kembali ke pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan.


"Dia sekolah tinggi-tinggi dan sampai ke Swiss, dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Dia bilang tidak bisa, dia tidak mau pendidikannya terbuang sia-sia" Kata Keny.


"Tidak ada istilah pendidikan terbuang sia-sia. Kalau di fikir-fikir, aku menempuh pendidikan sampai jauh ke Kairo, dan kembali lagi hanya menjadi guru di rumah sendiri." Kata Syakir.


"Beda lah Kir, kamu dengan ilmu mu yang kau tempuh di Kairo, masih kamu tularkan dan sebarkan kepada anak didikmu, sedangkan kita para Dokter, kita mengabdi kepada masyarakat. Tapi itu sih resiko kita telah mengambil jalan ini. Yang aku sayangkan adalah sifat Kak Clara, seperti dia mempermainkan arti pernikahan" Kata Akbar.


"Emang gak bisa ya Kak Clara ikut Keny aja, mengurus Naira bersama-sama, banyak juga kan pengacara sukses di negara sendiri" Kata Syakir.

__ADS_1


"Aku inginnya seperti itu, tapi dia bersikeras harus tinggal di Swiss, dan itu pun juga tidak pernah komunikasi dengan Naira, hanya menanyakan keadaannya saja" Kata Keny.


"Lalu, kenapa kamu titipkan Naira kepada Kak Ais dan Kak Rifky?" Tanya Akbar.


"Aku belum mampu mendidiknya. Maksudku, dengan kesibukanku ini, Naira malah gak akan keurus. Jika dia di rawat oleh Kak Rifky, aku yakin pendidikan dari Kak Rifky dan Aisyah akan membuat Naira bisa jadi anak yang solihah" Kata Keny.


Seketika Akbar mengingat akan nasibnya, ia juga bernasib seperti Naira yang harus di rawat oleh saudara dari orang tuanya.


Bedanya, Ibu Naira masih ada dan masih sehat, sedangkan Ibu Akbar sudah pergi jauh ketika melahirkannya. Sama-sama memiliki Ayah seorang Dokter yang sibuk, pasti cepat atau lambat Naira akan menjadi bahan bullying di sekolahnya nanti.


"Aku tidak ingin Naira sepertiku, aku harap kamu dan Kak Clara memikirkannya lagi. Aku ke dalam dulu, mau bikin minum. Kalian mau minum apa?" Tanya Akbar.


"Aku kopi aja ya, Syakir susu hangat" Kata Keny.


"Emang aku bayi, kopi juga ya Bang," Kata Syakir.


Tidak terasa air mata Akbar menetes mengingat masa kecilnya, namun ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, bukan salah Papanya, bukan juga salah diri ya. Namun itu semua sudah takdir, takdir yang sudah tertulis sejak pertama ruh di hembuskan ketika kita berusia 3 bulan dalam kandungan.

__ADS_1


__ADS_2