Suara Hati

Suara Hati
Bab. 131


__ADS_3

Rifky tersadar, ia langsung menyebut nama Aisyah.


"Aisyah Putri Abu Bakar, eh bukan Putri Handika. Peluk aku!!" Kata Rifky.


Sedih, haru bahagia menjadi satu di hati Aisyah. Ia langsung memeluk tubuh Rifky yang baru saja selesai operasi itu.


"Aw, kamu akan menyakitiku sayang" Kata Rifky kesakitan.


"Agresif! Sabar ngapa!" Kata Akbar.


"Kalian juga disini. Ganggu aja, keluar sana. Eh iya bagaiamana keadaan Ika?" Tanya Rifky.


"Ika meninggal Kak," Jawab Akbar dengan menundukkan kepalanya.


"Innalillahi wainnalillahi roji'un"


Aisyah pun menceritakan semuannya yang telah terjadi, ia mengetahui itu dari Akbar. Sedangkan Akbar dan Keny harus segera pulang membantu orang dirumah.


Betapa beruntungnya Rifky bisa selamat lagi dari mautnya, Aisyah tidak bisa membayangkan jika sampai Rifky juga pergi meninggalkannya.


"Kok nangis sih, kan akunya sudah baik-baik saja. Pulang dulu sana, kasihan kan Yusuf di tinggal" Pinta Rifky sambil membelai wajah Aisyah.

__ADS_1


"Lha terus kamu disini sama siapa? Aku nggak tega ninggalin kamu disini" Kata Aisyah.


"Siapa bilang aku sendiri, masih ada suster yang cantik-cantik disini, yang dengan suka rela merawatku. Kamu pulang saja, rawat anak-anak kita. Tenang saja, aku tau arah jalan pulang kok" Goda Rifky.


"Ya udah aku pulang" Kata Aisyah.


"Jangan ngambek dong sayang, pengen peluk lagi" Kata Rifky.


Aisyah memeluk Rifky dengan penuh kasih sayang. Sementara di rumah, setelah selesai pemakaman, Syakir duduk termenung sendiri di kursi samping tenda. Melihat kesedihannya, Akbar dan Keny berusaha menghibur saudaranya itu.


"Assallamualaikum" Salam Akbar.


"Kalian tenang saja, aku baik-baik saja kok. Jangan salahkan dirimu sendiri juga Bang, ini sudah kehendak yang maha kuasa." Kata Syakir dengan senyuman.


"Tapi Balqis tadi hebat loh, wajahnya sampai memar-memar gitu. Kasihan, pasti rasanya sangat sakit" Kata Jamil ikut nimbrung.


"Setelah ini aku akan berterima kasih padanya. Niatnya mau nyantri disini, malah dapat masalah" Kata Syakir.


"Oh ya, bagaiamna keadaan Kak Rifky?" Tanya Syakir.


"Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan Kak Rifky untuk berkumpul dengan keluarga" Jawab Keny.

__ADS_1


Suasana itu masih sangat sunyi. Banyak peziarah yang datang, namun seperti tidak ada satu orang pun disana, menurut pandangan Syakir.


Kabir ingin sekali pulang, tapi apalah daya, dirinya juga sedang ada tugas diluar negri. Masih ada 3 bulan lagi baru ia bisa kembali ke Indonesia. Sedih juga campur aduk dalah hati Kabir. Saudara kembar biasanya akan merasakan hal yang sama dengan apa yang terjadi di antara mereka berdua.


"Ada apa Komandan? Aku melihat ada air mata di matamu" Tanya Bonna.


"Istri dari kembaranku meninggal dunia siang tadi" Jawab Kabir.


"Kau memiliki kembaran? Apakah kau seakrab itu dengan saudaramu?" Tanya Bonna.


"Aku memiliki banyak saudara, kembaranku, ketiga kakakku juga selalu ada bersamaku" Jawab Kabir.


"Bagaimana rasanya memiliki saudara?" Tanya Bonna.


"Apa kau anak tunggal?" Tanya Kabir kembali.


"Aku memiliki satu kakak laki-laki. Tapi aki tidak pernah bisa akrab dengannya. Orangtua kami selalu membanding-bandingan kami berdua, bahkan mungkin orangtuaku tidak pernah menyukaiku" Jawab Bonna.


"Aku pernah memiliki seorang sahabat, dia dari Indonesia. Ia sangat akrab dengan adik-adiknya. Aku menyukai cara mereka saling menyayangi, berharab suatu saat nanti, aku akan mendapatkan kebahagiaan dengan memiliki Kakak ipar yang baik seperti sahabatku itu" Kata Bonna.


Kabir belum mengetahui bahwa sahabat yang Bonna maksut itu adalah kakaknya sendiri, Aisyah. Karena setiap Bonna bercerita tentang Aisyah, ia tidak pernah menyebutkan namanya di depan Kabir.

__ADS_1


__ADS_2