Suara Hati

Suara Hati
Bab.32


__ADS_3

"Kita gak jadi ke rumah kak Ais nih?" Tanya Syakir.


"Besok lagi aja. Ada si Jamil sih tadi." Kata Akbar.


Akbar dan Syakir pun pulang kerumah san beristirahat, kali ini Akbar dan Syakir tetap tidur terpisah, Syakir malah memilih tidur di sofa ruang tengah dan menikmati lantunan sholawatnya, dari pada tidur dengan Akbar.


"Bang, kamu masih di Indo?" Pesan dari Niki.


"Iya Nik, kenapa?" Tanya Akbar.


"Oh tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya. Apakah Abang benar-benar akan mengejar Fatim?"

__ADS_1


"Ku percayakan semua dengan Tuhanku Niki, namun Fatim pantas untuk di perjuangkan, maafkan aku jika aku menyakitimu. Namun, sejauh yang aku rasakan, perasaanku kepadamu ini hanyalah kekaguman yang seharusnya tidak pernah aku katakan, dan harus aku rahasiakan. Maafkan aku, bisakah kita menjadi sahabat seperti sebelumnya?" Balas Akbar.


"Aku tidak janji, tapi akan aku usahakan menjadi sahabat yang kau ingin. Selamat Istirahat Abang"


Akbar hanya memiliki 4 hari di kesempatan untuk menyakinkan perasaannya kepada Fatim, kini hari itu hanya tinggal 2 hari lagi. Ia akan menggunakan waktu itu dengan baik-baik.


Memikirkan masa depan memang membuat semua orang akan mengalamai stres dan drop, karena pendewasaan itu bukan masalah umur, namun bagaimana cara kita memikirkan segala sesuatunya dengan fikiran tenang, tidak dengan emosi maupun hal yang akan menyusahkan diri sendiri.


"Allah tidak tidur Bang, jika memang dia untukmu, banyak hal yang telah Allah tunjukkan kepadamu, jika.di la benar-benar milikmu, jangan ragu lagi dengan jodoh yang telah Allah berikan, Fatim selalu di dekatkan kepadamu, dia gadis yang baik, memang setelah kita mengenalnya, dia sedikit lucu. Namun kepribadiannya cocok dengamu? Tak merasakah Allah selalu memberimu petunjuk bahwa Fatim itu di takdirkan untukmu Bang?" Lag- lagi pesan dari Syakir.


"Apa yang kamu ketahui Kir? Sini masuklah dan tidur denganku, aku masih butuh pencerahan darimu" Balas Akbar.

__ADS_1


Tak selang berapa lama Syakir pun masuk ke kamr membawa selimut dan bantalnya, ia tidur di sebelah Akbar, dan Akbar pun mulai bertanya dan meminta pencerahan dari adiknya.


"Apa aku terlalu buta dengan petunjuk Allah itu Kir? Aku benar-benar jauh dari rasa bersykurku kepada Allah, aku merasa aku ini sangat buruk Kir. Apakah aku pantas untuk dia?" Tanya Akbar.


"Pantas atau tidaknya hanya kau dan dia yang tau Bang, menurutku dia cocok untukmu" Kata Syakir.


"Kadang aku berfikir bahwa aku ini hidup sendirian Kir, kehidupan indahku dulu sudah dirampas oleh kedewasaan, Papa sering sibuk dan tidak pernah mendengarkan keluh kesah ku. Membebani Abi dan Mama pun aku juga tidak bisa, aku sejak kecil sudah terlalu merepotkan. Tiang hatiku hanya ada empat orang Kir. Papa, Abi, Mama dan Kak Ais, Kak Ais pun kini sudah memiliki kehidupannya sendiri, mana mungkin aku akan tambahi dengan masalahku" Kata Akbar.


"Ketika kamu berada pada titik yang sangat rapuh, maka mintalah kekuatan hanya pada Nya. Jangan pernah merasa sepi atau bahkan sendiri, karena sejatinya kita tidak benar–benar sendiri. Masih ada Allah Subhanahu Wata'ala yang menemani kita, masih ada aku juga Bang, jadi semangat ya. Jadikan aku ini tempat curhat ternyamanmu, karena suatu saat pasti aku juga membutuhkanmu. Kita ini saudara bukan?" Kata Syakir memberi semangat kepada Akbar.


Mereka pun memutuskan untuk main game bersama malam itu, karena bermain game mereka melupakan sejenak beban hidupnya yang kini ia panggul sendiri. Hingga kejadian lucu-lucu banyak yang terjadi malam itu.

__ADS_1


__ADS_2