
1 bulan berlalu, ini saatnya Kabir berangkat bertugas. Kali ini ia di tugaskan di perbatasan negara lain dengan beberapa Perwira, Dokter, dan Perawat dari negara lain juga disana.
"Aku pergi dulu ya Ma, Bi" Pamit Kabir dengan orang tuannya.
"Kamu hati-hati ya nak, jaga kesehatan, sering-sering kirim pesan" Kata Leah.
"Insyaallah Ma" Jawab Kabir.
"Ingat Allah ya, sholat jangan kamu tinggalkan. Pulang bawa jodoh. Ok!" Kata Ruchan.
"Beres Bi" Kata Kabir.
"Aku juga bawain jodoh ya Bir. Perawat juga ndak papa, biar dia bisa merawatku dikala aku sedang bersedih" Kata Jamil.
"Mbah Minem tuh, dia perawat juga" Kata Kabir.
"Kak, kenapa Kak Kabir nggak tinggal aja sih. Aku juga baru pindah sekolah, siapa dong yang anterin aku lagi" Kata Ceasy.
"Kan ada Kak Jamil" Kata Kabir.
__ADS_1
"Haiyo" Kata Jamil.
"Nggak mau! Kak Jamil bau, pembawa aliran sesat!" Kesal Ceasy.
"Tiga tahun lagi Kakak akan pulang kok, santai wae. Assallamualaikum semuannya" Kata Kabir berangkat dengan salah satu teman perwirannya juga.
Ceasy baru sadar bahwa ia menyukai Kabir dengan lebih. Rasa yang ia miliki kepada Kabir berbeda dengan apa yang ia rasakan kepada Syakir dan Akbar. Namun, Kabir sendiri tidak memiliki rasa yang lebih dari sekedar rasa sayang dari seorang Kakak kepada adiknya dengan Ceasy.
Di Jepang, Fatim sudah bisa menguasai beberapa bahasa Jepang yang di gunakan sehari-hari disana. Sering kali Niki dan Oshi mengajari Fatim bahasa Jepang di rumahnya. Kini mereka sudah seperti sahabat yang kemana-mana selalu bertiga.
"Fatim, aku rasa hari ini kamu ada chek up ke rumah sakit kan?" Tanya Niki.
"Menstruasimu berakhir hari ini, ayolah jangan malas. Kuantar kau kesana, Oshi kamu juga ikut kan?" Tanya Niki.
Oshi menunjukka jempolnya.
Kecemasan Fatim terlihat dari wajahanya, Niki dan Oshi menggenggam tangan Fatim dengan lembut. Niki dan Oshi sudah tahu apa yang terjadi dengan Fatim, dan itu bukanlah kesalahan Fatim menurut mereka. Hal itu yang membuat Niki dan Oshi menjadi sahabat di sana.
"Hey, are you ok? Kita akan temani kamu" Kata Oshi masih menggenggam tangan kanan Fatim.
__ADS_1
"Setelah ini, kamu harus mencobanya. Berikan kesempatan kepada Abang, kamu harus bangkit Fatim. Jika itu bukan untuk Abang, setidaknya untuk dirimu sendiri" Kata Niki.
"Aku masih takut" Kata Fatim.
"Kita coba pergi ke psikolog juga ya, kamu nggak bileh egois Fatim, jika kamu sulit hamil. Itu bukan kekuranganmu. Dokter Sandy baru mengatakan sulit hamil bukan? Bukannya tidak bisa" Kata Fatim.
"Semangat Fatim, kita ada di sampingmu" Kata Oshi.
Karena dukungan Niki dan Oshi, akhirnya Fatim pun mau di antar mereka kerumah sakit untuk chek up lagi. Fatim sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Mereka bukan hanya baik kepada Akbar, melainkan kepada Fatim juga seperti itu.
Di rumah sakit, Dara masih saja mengejar cinta Akbar. Semua ia lakukan untuk bisa menakhlukan hati Akbar, namun semuannya hanya sia-sia saja, Akbar bahkan sering menunjukkan penolakannya untuk Dara.
"Dokter, coba deh kamu chek laporanku. Tolong yaaa" Kata Dara manja.
"Maaf ya, aku sedang sibuk dengan pekerjaanku. Kamu bisa minta tolong dengan tim Doktermu Dokter Dara." Kata Akbar.
"Tapi kan sejak awal kita sering bersama. Kenapa sekarang jadi gini sih?" Tanya Dara masih menggunakan logat manjannya.
"Dokter Dara, hanya sekali aku membantu Timmu, dan hanya selaki juga aku menangani pasiennmu. Aku Dokter bedah, bukan Dokter kandungan maupun anak. Aku tahu semua laporan itu, tapi itu bukan bidangku. Jika Dokter masih bisa mengatasi sendiri, kurasa Dokter tidak perlu bantuanku. Atau Dokter bisa mengajukan kepada Direktur agar Dokter Dara bisa masuk ke timku" Kata Akbar langsung pergi.
__ADS_1
Akbar kesal dengan semua keinginan Dara itu.Semenjak malam pembedahan itu, Dara terus saja mendekatinya. Bahkan sempat bilang kepada perawat lain, jika dirinya dan Akbar memiliki hubungan khusus, dan pernah sekali membuat Fatim cemburu.