
Keputusan sudah di ambil oleh Syakir, ia sudah mantap untuk menjemput Balqis ke Singapura. Tentu saja mengajak kedua orangtuannya dan saudaranya, yakni Kabir, Ceasy dan Aminah, tanpa mengajak Aisyah dan Rifky. Karena mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sedangkan Ceasy ikut karena ia ingin berlibur sebelum melakukan Ujian Nasional, Ia juga akan memanfaatkan waktu agar bisa dekat dengan Kabir sebelum ia berangkat ke Korea dan Kabir menikah dengan Nisa.
Sebelumnya, mereka tidak memberi tahu Balqis terlebih dahulu, karena Syakir belum siap untuk bertemu dengan Balqis saat itu, namun Ruchan dan Leah sudah mengatakan kepada Arifin jika mereka akan datang untuk melamar Balqis. Sesampainya disana, Balqis memang tidak ada di rumah, kata Papa
nya, ia sedang menghadiri acara bakti social di tempat yang lumayan agak jauh,
sejak kemarin.
“Assallamulaikum” Salam Ruchan.
“Waalaikum sallam, eh udah sampai ya, mari silahkan masuk. Duduk sini dulu” Kata Arifin memepersilahkan Ruchan sekeluarga untuk duduk.
Cuaca siang itu sangat panas, Ceasy mengajak Kabir untuk jalan-jalan di sekitar apartemen mlik Arifin, namun karena Kabir tidak nyaman untuk berduaan, ia pun mengajak Aminah dan Syakir untuk menemani mereka. Leah pun melarang Syakir untuk pergi, karena ini acara lamarannya.
“Eh ya jangan dong, kan ini lamarannya Syakir, masa iya mau jalan-jalan. Sebentar lagi juga kan Balqis pulang, kalian nggak mau bikin kejutan untuk dia?” Kata Leah mencoba untuk menahan Kabir dan Ceasy untuk keluar.
__ADS_1
Karena memang Balqis sudah mau pulang, Ceasy pun mengurungakan rencananya untuk jalan-jalan. Tidak lama setelah itu, Balqis punpulang. Tak seperti perasaannya kepada Zulaikha dulu, Syakir tidak merasakankehadiran Balqis, atau yang bisa membuat jantungnya bedebar.
“Assallamulaikum” Salam Balqis dengan raut wajah yang kaget, tas blanjaannya juga terjatuh.
“Aminah?” Kata Balqis langsung berlari menggendong Aminah, terlihat kebahagiaan di wajah keduannya. Aminah juga memeluk Balqis dengan
sangat erat, Aminah juga terus saja memandang Balqis dan menyebutnya ‘Mama’. Entah Balqis atau Syakir yang beruntung mendapatkan Balqis, atau sebaliknya pun semua tak tahu.
“Tante, Om, Ustad kalian….. Maaf, Assallamualaikum” Kata Balqis gugup.
Kabir sedang duduk di ruang tengah dengan Ceasy, mereka duduk berjauhan. Dan sejak berangkat Ceasy memasang wajah jutek kepada Kabir, hingga membuat Kabir kesal merasa di acuhkan. Ruchan pun memulai pembicaraannya, ia menyampaikan jika pertama ia akan menyambung silaturahmi yang selama ini terputus karena jarak yang jauh, ia juga menyampaikan niatnya datang ke Singapura untuk melamar Balqis menjadi pendamping hidup Syakir dan menjadi Ibu sambung bagi Aminah.
“Bagiaman Balqis?” Tanya Arifin.
“Apa Ustad yakin dengan kekuranganku? Apakah semua keluarga Ustad juga tahu tentang kekuranganku? Aku tidak ingin karena kekuranganku
__ADS_1
membuat masalah di kehidupan di masa yang akan datang” Kata Balqis.
“Kami semua sudah tau, dan kami tidak pernah
mempermasalahkan itu Balqis” Kata Ruchan.
“Lalu bagaimana denganmu Le? Anakku tidak bisa memberimu cucu, apakah kau menerima kekuranganynya?” Tanya Intan.
“Insya Allah, kami mencari pendamping hidup untuk Syakir dan Mama untuk Aminah Intan. Bukan manusia pencetak anak, Insya Allah kami akan siap menerima segala cobaan Balqis” Jawab Leah.
“Cobaan?” Tanya Intan.
“Iya Tante, cobaan! Kita lebih suka menyebut kekurangan menjadi sebuah cobaan” Kata Syakir.
Karena Balqis dan Syakir telah setuju, kaluarga juga sudah menyepakati. Mereka tidak akan melangsungkan pertunangan, namun akan langsung
__ADS_1
ke jenjang pernikahan, karena mereka menikah juga bukan untuk saling kenal lagi, namun karena Aminah dan masa depannya.