
Syakir berdiam diri di depan aula, sering kali ia pejamkan mata dan menghela nafas. Memang benar, jika diingat, antara Rifky dan Aisyah, Farhan dan Mala, bahkan Ruchan dan Leahpun menikah dengan jarak usia yang jauh.
"Dia adalah wanita solihah, cara bicaranya sangat sopan dan halus. Terlihat ketika dia berbicara hanya sekejab-sekejab, yang menandakan dia jarang berbicara dengan lawan jenis lama-lama" Syakir bergumam.
"Dia juga gadis berakhlak, wajahnya juga sangat menawan. Aku harus perjuangkan dia, lagi pula aku juga tidak pernah mencintai wanita manapun kecuali Mama sam Kak Ais. Jadi siapa yang ingin ku jadikan perbandingan" Kata Syakir.
"Ya Allah, karuniakanlah kepadaku pendamping yang sholihah. Jadikan dia sahabatku baik untuk urusan dunia maupun akhirat. Jika dialah orangnya, aku akan berusaha untuk memberikan tempatnya di hatiku" Kata Syakir mendahkan kedua tangannya.
"Hai jodohku yang masih dalam genggaman Allah SWT, aku sedang memantaskan diri ini untuk siap menemuimu dengan cara yang halal, dan mencintaimu dengan cara yang halal pula." Bucin Syakir.
Syakir kembali ke rumah dan akan mengatakan "Iya" kepada orang tuanya. Ia juga terlihat sangat gembira, setelah memahami semuanya, hatinya tidak lagi gugup seperti waktu sebelum mendapat pencerahan dari Kakak Iparnya.
"Apa? Kamu menerima perjodohan itu?" Kata Aisyah.
__ADS_1
Semua orang di rumah sangat bahagia siang itu. Aisyah dan Rifky juga ikut bahagia jika adik bungsu mereka telah mendapatkan jodoh yang memang pantas untuknya.
"Abi akan segera mengabari Kyai Syaiful tentang ini, agar mereka juga bahagia mendengarnya, dan kalian bisa mulai ta'aruf secepatnya" Kata Ruchan.
"Secepatnya?" Tanya Syakir.
"Iya, secepatnya lebih baik bukan. Yes akhirnya aku nambah cucu hahahhha" Kata Ruchan dengan memijat ponselnya.
"Haih terserah Abi lah, aku mau ngajar dulu sekarang, Assallamualaikum.." Kata Syakir pamit kepada orang tua dan Kakaknya.
"Ami pulang yuk, Raihan ada PR yang belum di selesaikan" Ajak Raihan.
"Kenapa tadi gak sekalian dibawa sih Kak?" Tanya Aisyah.
__ADS_1
"Lupa hehehe ayok Mi, lagian Airy juga katanya mau pengen pulang" Kata Raihan.
"Mau pengen pulang? Bahasamu nang, yo wis ayo ajak Bubu dulu, terus pamit sama Uti dan Kakung" Kata Aisyah membereskan pekerjaannya.
Setelah menemui Rifky, Aisyah pun membawa anak-anaknya untuk meminta izin kepada Leah dan Ruchan untuk pulang siang itu. Karena sore nanti mereka harus siap-siap pergi ke TPQ juga, Aisyah sudah mempersiapkan bekal ilmu agama sejak dini, seperti didikan Ruchan padanya.
"Ah Ma, senang ya. Hidup itu kalau penuh rasa bersyukur ya gini" Kata Ruchan meletakkan tangannya di bahu Leah.
"Tapi Abi menentukan jodoh gitu, kira-kira anak-anak setuju, ikhlas dari hati gak? Ini jaman modern loh Bi. Kita harus bisa menempatkan posisi kita secara benar, jangan karena mereka itu anak-anak penurut, jangan sampai mereka kehilangan kebebasan karena keputusan yang kita buat" Kata Leah.
"Ah Mama ngomongnya muter-muter deh, kiss Abi dulu dong!! Biar Abi konsen" Kata Ruchan mengusap usap pipinya.
Ciuman hangat untuk Ruchan pun ia dapatkan, namun ketika sedang berciuman mesra, tanpa salam tanpa ketuk pintu. Farhan masuk begitu saja, dan membuat suasana menjadi canggung, bola ata mereka juga sampai berputar ke kanan kekiri.
__ADS_1
Krik... krik.. krik.. krik..