Suara Hati

Suara Hati
Bab. 88


__ADS_3

"Harus ya pake berantem segala?" Tanya Kabir yang tengah mengobati luka Akbar.


"Dia menyentuh Fatim Bir. Aku memiliki lima wanita hebat dalam kehidupanku. Mama, Kak Ais, Kak Clara, Delia dan Ceasy. Dan sekarang tambah Fatim, aku gak bisa diam saja saat cowok tadi menyentuh Fatim. Itu sama saja menghinanya, menghinaku. Begitupun jika itu terjadi diantara kelima wanita hebatku, naudzubillah" Kesal Akbar.


Jamil dan Kabir tidak bisa berkata apa-apa lagi, memang benar jika wanita itu harus dilindungi. Apa lagi jika wanita itu sudah berhijab, harus bisa menghormati hijab dan orangya, dengan tidak bersentuhan langsung dengannya. Memandang terlalu lama juga tidak di perbolehkan.


Air mata Fatim mengalir, ia tidak menyangka kalau Akbar bisa mengatakan hal yang membuatnya terharu seperti itu.


"Terima kasih ya" Ucap Fatim.


"Tarima kasih atas apa yang Abang lakukan, aku sangat tersentuh ketika Abang mengataka kehormatan wanita" Kata Fatim.


Karena suasana hati sedang tidak karuan, akhirnya mereka semuannya pulang ke rumah. Sebelumnya mengantar Fatim dulu pulang ke rumahnya.


Akbar, Kabir dan Jamil langsung pulang begitu saja. Tidak ada sepatah katapun dari Akbar untuk Fatim. Sampai di rumah, Akbar langaung istirahat ke kamar, agar Leah tidak melihat luka di bibirnya.


"Bir, lihat nih, aku kenalin kamu kepada fans-fans cewekku. Cantik-cantik loh" Kata Jamil mulai meracuni otak Kabir.

__ADS_1


"Mana coba lihat?" Tanya Kabir.


Foto itu berisikan foto cewek sexy dan memiliki bentuk tubuh yang sangat indah. Sontak membuat Kabir memukul Jamil menggunakan majalah yang sedang dibacanya, karena mereka sedang berada di ruang tamu.


"Opo sih Bir? Kamu kan cowok normal to? Hayooo opo dirimu.....?" Kata Jamil.


"Opo?" Tanya Kabir dengan raut datar.


"Kamu gay? Suka colai?" Kata Jamil menebak-nebak.


"Astaghfirullah hal'adzim. Pulang sana, dasar pembawa ajaran sesat, dah sana pulang. Nih bawa belanjaanmu, benar kata Syakir kalau kamu ini perampok. Bangkrut aku lah" Kesal Kabir.


"Lima ratus doang? Doang? Doang gundulmu atos? Uang segitu mending aku kasih ke Mama buat belanja, bisa buat setengah bulan, itupun sudah makan enak. Pulang sana" Kata Kabir.


Karena di usir (bercanda), Jamil pun pulang dengan hati bahagia dan wajah sumringah sambil berdendang.


"Senangnya hatiku, turun panas demam, kini aku bermain main dengan riang. Terima kasih Kabir sudah mentraktir diriku, kini aku senang hahahha" Jamil bersenandung.

__ADS_1


Ketika Kabir ingin merebahkan badannya di sofa, Ceasy pulang sekolah dengan keadaan kesal, hingga mengucapkan salam dengan nada kesal.


"Assallamualaikum" Salam Ceasy.


"Waalaikum sallam, Ceasy?" Jawab Kabir.


"Ceasy udah pulang? Kok tumben gak salim dulu sama Mama?" Tanya Leah yang langsung muncul dari arah dapur.


"Gak tau deh, Kabir aja di lewati begitu saja" Kata Kabir.


Leah langsung masuk ke kamar Ceasy dan menanyainya. Lalu Kabir juga mengikutinya dari belakang.


Melihat Ceasy yang sedang menangis, membuat hati Leah sakit. Leah mungkin tidak mengandung dan melahirkan Ceasy, namun ikatan batinnya sudah melekat dan menyatu dalam hati mereka.


"Ceasy, anak sipit Mama. Kamu kenapa pulang-pulang kok nangis sih?" Tanya Leah.


"Mama" Kata Ceasy langsung memeluk Leah sangat erat. Menangis sekeras-kerasnya hingga membuat Akbar terbangun dari istirahatnya.

__ADS_1


Akbar dan Kabir juga memeluk Ceasy dengan erat. Berharap Ceasy mau bercerita tentang masalahnya. Karena beberapa hari ini, Ceasy menjadi gadis pendiam saat mulai masuk sekolah menengah.


__ADS_2