Suara Hati

Suara Hati
Bab. 94


__ADS_3

Di sisi lain, di rumah sakit di Jepang.


Hari itu, Akbar tidak terlalu sibuk. Hanya saja pekerjaan Yasha kali ini membebani dirinya, yang Akbar ketahui dari Oshi dan Niki, Yasha mabuk karena cinta nya tidak di restui oleh orang tuannya.


Ya, mau bagaimana lagi? Yasha juga terlahir dari keluarga yang agamanya kuat. Orang tua mana yang mengizinkan anak lelakinya menikah dengan wanita yang tidak seiman dengannya. Begitu juga dengan keluarga Jesicca. Jesicca yang keturunan Amerika-Jepang juga terlahir dari keluarga yang sangat taat kepada Tuhannya.


Lagi-lagi kisah Akbar dan Niki terulang kembali, Yasha tidak mungkin menukar agama demi cinta. Begitupun Jesicca, ia memilih untuk pergi jauh ke Amerika sana untuk menghindari Yasha. Itu yang membuat Yasha mabuk hingga melupakan pekerjaan muliannya.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Fatim lagi apa ya? Aku telfon atau enggak ya? Jam segini pasti ganggu. Aku kirim pesan saja lah" Kata Akbar sambil mencuci wajahnya.


"Assallamualaikum, lagi apa kamu? Hubungi aku dulu ya, hari ini aku mau berbicara dengan Dokter baru dari Indonesia juga. Namanya Dara, aku nggak tau apa yang ingin dia katakan. Aku minta izin ya. Wassallamualaikum"


Karena Fatim tidak kunjung membalas pesan dari Akbar, ia tetap akan menemui Dara di kantin. Fikirnya, pasti obrolan yang akan Dara dan dirinya obrolkan tidak jauh-jauh dari pasien pagi tadi.


Saat di kantin, Akbar tak kunjung jua menemui Dara. Ia duduk dan memesan makanan dan kembali memeriksa ponselnya. Dengan harap dapat balasan dari Fatim.


"Yah belum juga di balas, di baca aja belum. Sibuk kali ya" Kata Akbar.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, Dara sudah datang dan menebar senyuman kepada Akbar. Akbar masih biasa saja kepada Dara, ia lanjut menyantap sup nya dengan lahap.


"Kamu lapar Dok?" Tanya Dara.


"Hahaha iya nih, belum sempat makan siang nanti. Udah selesai kok. Alhamdulillah" Kata Akbar.


"Langsung saja, ada hal apa kamu mengajak ngobrol kayak gini" Tanya Akbar.


"Kenalan dulu dong, kan kita baru saja tau satu sama lain" Kata Dara.


"Heh, siapa? Aku tau dia juga dari para perawat." Kata Akbar dalam hati.


"Wah kamu hebat ya, lulusan London. Tapi kenapa kerjanya di Jepang?" Tanya Akbar.


"Sudah tugasku mungkin. Oh iya, kenalin dulu dong dirimu" Kata Dara dengan nada manja.


"Semua terdekatku sih manggil aku dengan sebutan Abang. Aku lahir di rumah sakit ini, tapi besar di Jogja. Dan tinggal lagi di sini hampir tujuh tahun ini" Kata Akbar.

__ADS_1


"Lalu?" Tanya Dara.


"Lalu apa?" Tanya Akbar kembali.


"Setatus kamu? Single, Suami orang, atau malah sudah Duda?" Tanya Dara.


Akbar tersenyum dan mencari foto Fatim, dan memperkenalkan siapa Fatim dalam hidupnya, kepada Dara.


"Calon istriku, tidak lama lagi kami akan menikah. Aku sangat menyayanginya" Kata Akbar.


Seketika, senyuman manja Dara menjadi pudar. Ia kecewa, Akbar ternyata sudah di miliki wanita lain. Namun, yang namanya sifat buruk tetaplah buruk. Dara memiliki rencana untuk bisa mendapatkan cinta Akbar.


"Cantik ya? Hanya sayang aja nih? Nggak cinta juga?" Tanya Dara.


"Cinta itu pasti. Tapi yang tahu cinta itu adalah aku, calonku dan Tuhanku. Eh aku ada panggilan nih. Duluan ya" Kata Akbar pergi.


"Hahhh aku jadi pengen rakus deh melihat kamu begitu Akbar. Aku yakin, aku bisa memilikimu, dan kamu akan tunduk kepadaku. Mengemis dan meminta dengan lembut akan cintaku. Tunggu saja waktu itu, baru calon juga kan? Nggak salah dong" Gumam Dara.

__ADS_1


Sebenarnya, Akbar tidak ada panggilan pembedahan sore itu. Melainkan memang sengaja menghindari Dara, karena ia mulai merasakan tidak nyaman jika berada di dekat Dara.


__ADS_2