Suara Hati

Suara Hati
Bab. 74


__ADS_3

Syakir berusaha agar Ika tidak merasa tak nyaman akan kedekatannya dengan Ika. Syakir tegaskan sekali lagi, jika dirinya tidak akan memaksa Ika untuk langsung menerimanya.


"Sebentar lagi kan subuh, kayaknya aku gak bakal tidur lagi deh. Jika kamu mau tidur lagi gak papa kok Dek" Kata Syakir.


Mendengar Syakir memanggilnya dengan sebutan "Dek", Ika langsung menatap Syakir dengan wajah penuh tanda tanya.


"Kenapa? Gak mau aku panggil Dek? Atau sayang?" Goda Syakir.


"Hah?"


"Kamu lucu gitu sih kalau bilang hah, kenapa sih? Aku jadi tidak tau malu gini gara-gara Abang ini" Kata Syakir.


"Gak papa kok Ustad, aku malah suka di panggil Dek" Kata Ika.


Tiba-tiba sepertiga malam itu turun hujan, Syakir khawatir jika Akbar, Kabir dan Jamil kehujanan di luar. Ia pun memutuskan untuk melihat Akbar dulu.

__ADS_1


"Tiba-tiba hujan ya, pantesan aja semalam hawa-hawanya panas gebrah gak enak. Aku khawatir deh sama Abang dan Kabir di luar, pasti mereka repot karena kehujanan. Aku chek dulu ya" Kata Syakir.


"Iya Ustad" Kata Ika.


"Assallamualaikum" Syakir mengucapkan salam dengan menyentuh kepala Ika.


Jantung Ika semakin tidak karuan di kala Syakir menyentuhnya. Ingin sekali Ika melakukan kwajibannya, karena pasti Syakir juga membutuhkan itu. Ika akan menguatkan diri, setelah Syakir kembali, ia akan minta duluan, walau menahan rasa malu.


Ketika Syakir hendak keluar, ia melihat Akbar dan Jamil tidur di sofa ruang tamu. Mereka terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya. Syakir masih mencari-cari Kabir, karena Kabir tidak ada bersama mereka.


Saat Syakir ingin kembali ke kamar, ia melihat Jamil yang sedang tidur mangap pun tertawa. Ia pun mengikat kaki Jamil dengan kaki meja menggunakan tali rafia. Syakir pun kembali ke kamar dengan menahan tawa dan keluar tanduknya di kepala.


"Kok Ustad kayak nahan tawa gitu sih? Ada apa?" Tanya Ika juga ikut tersenyum.


"Tau gak, si Jamil sama Abang itu tidur di sofa ruang tamu. Kaki nya Jamil aku iket pakai tali sama kaki meja hahaha." Kata Syakir.

__ADS_1


"Jahil ih" Kata Ika tidak sengaja menepuk lengan Syakir. Dan tangannya masih memegang lengan Syakir.


"Kamu sejak tadi gak sengaja nyentuh aku kayak gini. Itu membuat tubuhku tidak nyaman Dek, ada rasa gimana gitu, sedangkan kamu belum siap melakukannya denganku" Kata Syakir gugup.


"Astaghfirullah hal'adzim. Aku... Maaf aku gak sengaja" Kata Ika melepaskan tangannya dari lengan Syakir perlahan.


"Hey, kok jadi sedih sih. Aku gak papa kok, minta maaf buat apa juga? Santai aja, pasti ada waktunya saat kamu sudah siap nanti. Aku sabar kok menanti hari itu. Aku ke kamar mandi dulu ya" Kata Syakir lagi-lagi hanya menyentuh kepala Ika.


Ika langsung merebahkan dirinya di ranjang. Dalam hatinya, ia takut berdosa juka menunda-nunda melakukan itu. Namun batinnya belum siap jika ia harus bersentuhan dengan Syakir.


Di dalam kamar mandi, Syakir membasuh muka dan berdiam diri sejenak.


"Hah, aku ini laki-laki normal, manusia biasa yang bisa memiliki hawa nafsu terhadap lawan jenis. Aku takut jika perkataanku tadi membuat Ika merasa terbebani, aku harus lebih sabar dan hati-hati lagi dalam berbicara" Kata Syakir menyandarkan tubuhnya di dindin.


Yang katanya tidak akan tidur lagi setelah sholat malam, Syakir pun bisa melanjutkan tidur lagi. Hujan semakin deras di sertai dengan petir. Harusnya cocok untuk pasangan pengantin seperti Syakir dan Ika. Karena mereka melakukan pernikahan melalui perjodohan dan perkenalan yang singkat. Akhirnya mereka belum siap satu sama lain untuk melakukannya malam itu. Jangankan bersentuhan, saling memandang saja mereka masih malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2