
Karena Fatim akan pulang dengan Akbar, maka Sandy membawa rombongannya meneruskan keliling sebentar di kota.
"Aku duluan ya Dokter" Kata Teman Akbar.
"Hati-hati" Kata Akbar.
Akbar masih saja menggenggam tangan Fatim saat itu. Saat teman Akbar sudah pergi, Akbar kembalu memeluk Fatim dengan erat.
"Jangan kayak gini dong, malu tau. Aku kan pakai hijab" Kata Fatim menepuk lengan Akbar.
"Oh iya, habisnya kamu ngagetin aku. Kamu sama siapa kesininya sayang?" Tanya Akbar.
"Sama rombongan sih, di jemput sama Om Sandy, dan mungkin mereka melanjutkan tournya" Kata Fatim.
"Kok masih Om sih? Dia kan Papa kamu juga, panggil Papa dong" Kata Akbar.
"Tapi aku seneng banget kamu datang, jangan katakan apapun. Berhubung sahabatku masih di kantin, ayo aku kenalkan kepada mereka" Kata Akbar menggenggam tangan Fatim.
Sepanjang jalan menuju kantin, Akbar sama sekali tidak melepaskan gegamannya, bahkan wajahnya sangat bahagia, terpancar aura kebahagiaan di wajahnya itu.
__ADS_1
"Ini kali pertama, Dokter Akbar menggenggan tangan wanita. Siapa wanita itu? Apakah dia istrinya?" Bisik perawat lain.
"Yaahhh jangan dong" Kata perawat lain.
Sesampainya di kantin Rumah Sakit, sahabatnya Akbar sudah menunggunya di sana. ini kali pertama Fatim bertemu dengan para sahabatnya Akbar. Yasha, Niki, dan Oshi menyambut dengan hangat kedatangan Fatim.
"Akbar!" Teriak Yasha.
"Itu mereka, yuk" Kata Akbar masih menggenggam tangan Fatim.
"Nggak usah pamer deh, mentang-mentang pengantin baru. Gandengan terus gitu" Kata Oshi.
"Niki?" Tanya Fatim dan memandang Akbar.
"Santai saja, aku dan Abang sudah berlalu. Kita bjsa menjadi sahabat bukan? Oh ya kenalkan, ini Oshi. Dia paling dewasa pemikirannya di anatara kita. Tapi usiannya lebih muda" Kata Niki.
Layaknya teman baru, Niki, Oshi dan Fatim banyak.bercerita, karena Niki dan Oshi juga bisa berbahasa Indonesia, terkadang juga mereka menggunakan bahasa Inggris.
Setelah bertemu dengan sahabatnya, Akbar mengajak Fatim jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan mereka, karena Fatim akan menetap di Jepang bersama Akbar. Sampai di ujung jalan, Fatim duduk di kursi taman dan ingin duduk sebentar disana.
__ADS_1
"Capek ya? Nanti pulang aku pijitin kamu" Kata Akbar menepuk kaki Fatim.
"Harusnya aku yang pijitin kamu Bang" Kata Fatim bersandar di bahu Akbar.
"Ada apa sih? Kok kayak nggak bahagia gitu, nggak kangen sama aku?" Tanya Akbar membelai kepala Fatim.
"Aku belum menstruasi Bang, aku takut kalau......." Kata Fatim.
"Hamil? Baru dua minggu setelah kejadian itu? Jangan panik ah, semua akan baik-baik saja dengan seiringnya waktu" Kata Akbar.
"Kalau aku hamil bagaimana Bang? Aku nggak mau anak itu" Kata Fatim mulai berkaca-kaca matanya.
"Fatim, aki memang sakit saat ada laki-laki yang menodaimu, tapi aku buktikan cintaku kepadamu. Aku sayang sama kamu, dan aku tetap menikahimu. Aku bahagia menikah denganmu" Kata Akbar mengusap pipi Fatim.
"Andai, andai kamu benar hamil. Insyaallah, aku akan berusaha menerima anak itu, dan menganggapnya. Menggapnya, bukan seperti, tapi menganggapnya anak aku sendiri. Tapi aku akan berdoa yang buruk saat ini, aku nggak ingin kamu hamil, karena aku tau, itu pasti akan menyakitimu" Sambung Fatim.
"Aku nggak mau hamil Bang, buat aku menstruasi, atau aku harus makan nanas muda" Kata Fatim dengan tangisannya yang pecah.
"Stt, kok gitu sih. Itu malah akan menyakiti dirimu sendiri sayang, ada aku disini. Ok! Kamu hamil atau enggak, aku selalu ada buat kamu. Dua minggu lagi kita priksa jika kamu belum datang bulan. Dan selama itu juga, aku menahan diriku untuk tidak menyentuhmu" Kata Akbar.
__ADS_1
Fatim langsung memeluk Akbar, begitu besar hati Akbar. Akbar benar-benar mencintai Fatim, rasa sakit yang Fatim alami juga bisa ia rasakan. Akbar hanya pasrah kepada yang kuasa, karena Akbar tidak mungkin akan menggugurkan janin jika Fatim benar-benar hamil.