
Akhir lagu, Jamil memberikan uang kepada gadis cilik itu lima puluh ribu. Dan itu menggunakan uang Kabir. Fatim pun tertawa melihat tingkah Jamil tersebut.
"Wah, duitku Mil. Koplak kok, kalau mau ngasih mbok ya uang mu sendiri lah." Kesal Kabir.
"Sodaqoh Bir, Sedekah, jangan pelit-pelit. Nanti kuburanmu sempit lho" Kata Jamil santai.
"Sedekah itu, urusanku dengan Allah lah. Lagian kalau mau sedekah ya pakai uang sendiri" Kata Kabir menunyuk pipi Jamil.
"Kampret" Kata Jamil.
"Kalian berdua lucu deh, berasa nonton saudara kembar tak seiras" Kata Fatim.
"Cuihh jotek aku di katain kembar sama si Biri-Biri" Kata Jamil.
"Opo se kompor mbleduk, em emm tak uleg koe" Kata Kabir mengunyek-unyek Jamil.
"Kampret wah, Bir asyem kok. Nyo-nyo" Kata Jamil membela diri.
__ADS_1
Fatim pun tertawa melihat tingah lucu Kabir dan Jamil. Sayangnya, pertarungan antara mereka harus terhenti karena lampu sudah hijau. Kejahilan Jamil tidak terhenti sampai di situ, ia terus ngoceh tanpa henti. Hingga ocehannya terhenti saat melintasi sekolah Ceasy.
"Wuihhh sekolahane Cesin" Kata Jamil.
"Ceasy woy" Kata Kabir menepuk paha Jamil dengan keras.
"Lha aku nyebut dengan pangillan kesayangan kon Cesin hahaha ku tandai dia. Tiga tahun lagi sudah gadis si Cesin" Kata Jamil.
"Jangan macam-macam Mil, aku nggak mau punya ipar sepertimu" Kata Kabir.
"Itu Ceasy bukan sih? Iya bener itu Ceasy sedang di bully. Kabir berhenti!" Kata Fatim.
Di sisi Ceasy,
"Heh, dasar pelakor! Dasar plastik nggak tau diri" Kata teman Ceasy yang membulinya.
"Aku bukan pelakor, aku nggak ngganggu hubungan kalian kok. Dia cuma sekedar bertanya saja" Jawab Ceasy.
__ADS_1
Plakkkk... Tamparan itu menegenai pipi putih Ceasy. Sebenarnya Ceasy bisa saja melawan, tapi dia takut jika dirinya melawan, akan menjadi masalah yang akan membuat Mama dan Abinya sedih.
"Hey!" Teriak Fatim, Fatim menahan tangan teman Ceasy yang ingin menamparnya lagi.
"Enteng banget sih tangannya, jangan gini dong. Kalian iti seorang muslimah, patut kah jika bersikap ssperti ini?" Kata Fatim memeluk Ceasy.
"Kalau kakak mau ceramah tuh di mushola sana!" Teriak teman Ceasy itu.
"Haduhh congoreee" Kata Jamil.
"Mil! Dek, kamu nggak boleh ya ngomong seperti itu lagi kepada orang yang lebih tua darimu" Kata Kabir.
"Nggak usah sok deh kak, lagian ini kan sudah waktunya pulang sekolah. Kalau si plastik ini nggak nyari gara-gara, aku juga nggak akan nglabrak dia" Kata Teman Ceasy ketus.
Karena kejadiannya maaih di lingkungan sekolah, Kabir dan Jamil membawa paksa siswi-siswi itu masuk ke sekolah lagi dan membawa mereka ke ruang guru. Ternyata masih banyak guru yang ada di ruang itu. Kabir menceritakan semuannya yang terjadi, ia hanya ingin keadilan bagi adiknya, dan yakin bahwa Ceasy bukanlah satu-satunya korban bullynya.
"Dia itu ngrebut pacar aku Buk, dia itu pelakor!" Teriak siswi itu.
__ADS_1
"Pelakor? Kamu dari mana tau kata itu? Dan merebut pacar? Kamu masih kecil udah pacaran?" Tanya Kabir.
Guru di sana kurang tegas dalam bertindak, Kabir geram sendiri, dan akan secepatnya mengurus surat pindah Ceasy, agar terhindar dari bullying itu. Kabir akan berbicara dengan kedua orang tuannya untuk menyetujui Ceasy masuk sekolah Negri.