
Malam itu, membuat perasaan Akbar menjadi sedikit tenang karena hubungannya dengan Fatim sudah membaik.
"Assallamualaikum" Salam Syakir.
"Waalaikum sallam, eh Kir. Belum tidur?" Tanya Akbar.
"Gak bisa tidur Bang, entah kenapa aku kangen sama kebersamaan kita berlima. Mas Ilham, Kak Ais, Kabir dan kita berdua. Waktu itu terus berputarya, semakin dekat menuju ke dewasaan, masa kebersamaan saat kita kanak-kanak hingga remaja, tidak mungkin akan terulang lagi" Kata Syakir tiba-tiba bersedih.
"Sama Kir, jadi dewasa ternyata pusing juga ya. Mikir masa depan, dengan siapa kita menikah nanti, lalu bagaimana kita akan menyikapi masa depan nanti. Aku sangat rindu saat Kak Ais peluk kita bertiga dan berkata 'hey, Allah pun tau kalau kalian adalah adik-adik kesayang Kakak, Kakak janji akan selalu jaga kalian bertiga, karena Kakak akan selalu ada untuk kalia'. Kini Kak Ais udah punya kehidupannya sendiri Kir" Kata Akbar.
"Bahkan memiliki dua anak kembar, dan tambah lagi Naira, anak Kak Keny. Kapan ya kita ngumpul bareng, bermain di taman kecil kita ini lagi?" Kata Syakir duduk di jungkat-jungkit milik Kabir dan miliknya.
Ketika Akbar dan Syakir sedang bernostalgia, Ceasy berlari terburu-buru untuk memberikan Syakir surat, surat itu dari Kabir, ia akan pulang tiga bulan lagi. Di dalam surat itu,
Assallamualaikum,
Dalam ratusan kilometer membentang jauh selalu ku titipkan rindu pada hembusan angin, selalu ku bincangkan disela doa untukmu Abi, Mama, Kak Ais, Abang dan Syakir.
Sejauh apa pun kaki melangkah. Rindu selalu mendekatkanku kepada kalian semua.
__ADS_1
Aku meninggalkan rumah ternyamanku, sandaran terbaikku untuk belajar menjadi lebih baik di sini. Tanpa melupakan dari mana aku berasal.
Aroma kue buatan Kak Ais, Nasi goreng spesial buatan Mama, berebut makanan bersama Abang, aku sangat merindukan itu semua, tunggu aku tiga bulan lagi ya, Wassallamualaikum
Berikut surat yang Kabir tulis dengan rapi. Akbar dan Syakir merasa tersentuh. Mereka tidak menduga, Kabir adalah anak yang bandel, gembul suka makan, sedikit penakut dengan hewan serangga, kini telah menjadi perwira yang jauh disana.
"Aku harus foto dan beri tahu Kak Ais ini, tiga bulan lagi si pembuat onar itu mau pulang" Kata Syakir.
"Siapa si pembuat onar?" Tanya Ceasy.
"Huh, Ceasy masuk aja sana, udah malam. Cepat tidur, besok sekolah kan?" Kata Akbar.
"Eh, Abang banyak stiker lucu Jin sama Jung-Kook, kau mau?" Tanya Akbar.
"Wah, mana? Mana? Mana?" Kata Ceasy langsung semangat.
"Dia bahkan tidak mengidolakan Kakaknya sendiri" Bisik Syakir kesal.
"Hah, namanya juga bocah, kita turuti aja" Kata Akbar.
__ADS_1
"Abang, mana? Mana stiker nya, Ceasy mau!"Kata Ceasy.
"Masih di tokonya. Assallamualaikum!"Kata Akbar menghindari Ceasy dan berlari sangat cepat.
"Abang!!! Mana Jin ku!!! " Teriak Ceasy.
"Kak Syakir?" Kata Ceasy memelas.
"Noh minta si Jamil, kamu kan suka main sama si Mas Jamilmu itu" Kata Syakir.
"Ah gak mau, maunya stiker lucu punya Kak Akbar. Mintain!!" Rengek Ceasy.
Syakir membohongi Ceasy kalau ia akan memintanya dari Akbar, bukan memintanya tapi malah ia tinggal, karena Akbar dan Syakir pergi ke rumah Aisyah.
"Hahah tuh Ceasy gak akan ngadu kan ke Abi sama Mama, tentang aku bohongi dia?" Tanya Akbar.
"Biarin aja lah, dia udah banyak juga memiliki stiker-stiker itu. Mama terlalu manjain dia tau Bang, tapi aku akui, si Ceasy udah mulai baca Al-Qur'an, menurut aku itu sudah sangat hebat, kan baru 3 tahun di sini, di usianya agak susah loh ngajarinnya" Kata Syakir.
"Iya lah, cara bicaranya aja masih pakai logat Korea, eh si Jamil tuh. Kita buat perkedel dia, macem-macem ngenalin Ceasy dengan Kakek Sugiono" Kata Akbar menunjuk ke arah luar mobil.
__ADS_1
Akbar dan Syakir tidak sengaja bertemu dengan Jamil di jalan, Jamil itu adalah sahabat Ilham, karena sering datang ke pesantren dan sering ikut acara pesantren juga, Jamil menjadi sangat akrab dengan Akbar dan Syakir, bahkan dengan Ceasy. Karena entah darimana Jamil bisa sedikit berbahasa Korea, karena dia juga Army, macam Ceasy.