
Tiga bulan berlalu, semua berjalan dengan lancar. Komunikasi Akbar dan Fatim juga begitu lancar. Di rumah sakit pun juga pekerjaan Akbar bksa terkendali. Kabar Yasha juga semakin membaik sejak Jesicca pergi ke Amerika.
Namun, Akbar masih saja berusaha menjauhi Dara. Karena satu bulan terakhir, Akbar tidak sengaja mendengar percakapan Dara dengan seseorang di telfon, bahwa dirinya menyukai Akbar, dan ingin merebutnya dari Fatim.
Kabar buruk terdengar dari keluarganya dan keluarga Fatim di telinga Akbar. Musibah menimpannya. Tanpa basa basi lagi, Akbar langsung memesan tiket pesawat dan terbang ke Jogja.
Gemetar tangan Akbar mendengar semua kenyataan itu. Amarah, emosi, sedih menjadi satu. Dalam perjalanannya ia terus saja beristighfar tiada henti. Apa yang Fatim alami membuatnya sangat sedih, bagaimana jika itu terjadi kepada salah satu wanita di hidupnya. Yakni Mama, Kakak dan adiknya.
Sampai di bandara, Akbar langsung kerumah Fatim. Disana sudah ada Syakir, Ruchan dan Kabir. Pak Fikri juga sedang di sana dengan tatapan kosong. Yang menimpa Fatim itu bukanlah masalah sepele, karena harus menanggung malu seumur hidup.
"Assallamualaikum" Salam Akbar dengan wajah serius.
"Waalaikum sallam, Abang"
"Dimana Fatim?" Tanya Akbar sambil menahan emosi.
"Dia ada di kamar Bang, kata Pak Fikri sudah dua puluh empat jam tidak mau keluar kamar, dan makan" Jawab Syakir.
"Bagaimana dengan Arfan?" Tanya Akbar.
"Semua sudah di urus dengan Kak Clara kak" Kata Akbar.
__ADS_1
"Pastikan laki-laki brengsek seperti dia harus di hukum yang seberat-beratnya. Aku yang akan menemui Fatim" Kata Akbar memakai sarung tangannya.
Syakir dan Kabir mencegah Akbar, namun semua itu sia-sia. Karena tenaga Akbar tiba-tiba menjadi kuat , emosilah yang membuat orang menjadi kuat.
"Assallamualaikum, Fatim! Buka, ini aku Akbar" Kata Akbar.
"Bang udahlah, biarkan dia sendiri dulu" Kata Syakir.
"Sampai kapan? Masalah ini harus du usut sampai tuntas. Fatim harus berani melawan kenyataan" Kata Akbar.
"Tapi Bang......" Kata Kabir.
"Fatim buka Tim. Ini aku Akbar, tolong buka pintunya" Kata Akbar sambil mengetuk pintu kamar Fatim.
Akbar tidak memiliki hati yang sabar seperti Syakir. Ia mendobrak pintu kamar Fatim, dan akhirnya terbuka. Ia melihat Fatim sedang duduk menangis di lantai di samping tempat tidurnya.
"Pak Fikri tolong siapkan makan buat Fatim ya, Kabir panggil Kak Ais dan Kak Rifky. Syakir, kamu panggil Mas Ilham dan Pak Dhe kesini, cepat!" Kata Akbar.
"Abi harus apa?" Tanya Ruchan.
"Abi bawa Mama kesini" Kata Akbar.
__ADS_1
"Buat apa Bang?" Tanya Kabir.
"Lakukan saja!" Kata Akbar tegas.
Semuanya menjalani tugas masing-masing. Akbar menutup pintu kamar Fatim dan mulai mendekatinya. Mencoba berbicara dengan Fatim.
"Assallamualaikum" Salam Akbar menyentuh kepala Fatim, dengan memakai sarung tangan tentunya.
"Jangan sentuh aku, aku nggak pantas Abang sentuh. Aku ini sudah kotor Bang hiks hiks" Kata Fatim sambil menangis.
"Kita bicara baik-baik ya, bagaimana keadaan kamu. Aku tetap akan menerima kamu apa adanya Tim" Kata Akbar.
"Nggak, aku nggak pantas buat kamu. Aku ini sudah di nodai oleh laki-laki brengsek itu Bang. Abang pergi dari sini, jangan melihatku!" Teriak Fatim.
"Istighfar Tim. Astaghfirullah hal'adzim, lihat aku. Aku benar-benar sangat mencintaimu, aku akan menerima mu apa adanya. Aku melamarmu di depan semua orang, dan aku tiba-tiba aku akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Aku tidak sejahat itu Fatim, sekarang kamu mandi lalu makan ya. Aku akan menemanimu di sini" Kata Akbar.
"Nggak! Kamu pergi saja, kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku ini kotor Akbar!" Kata Fatim terus menangis.
Akbar menggenggam tangan Fatim, meyakinkan tujuannya datang ke rumah Fatim. Hanya Fatim yang ingin Akbar nikahi, bagaimanapun keadaannya, itu semua bukan salah Fatim.
Fatim mengalami pelecehan seksual, yang di lakukan oleh Arfan kepadanya saat pulang dari mengajar. Ia di bius dan di setubuhi di rumah kosong di daerah yang sepi.
__ADS_1
Pulang-pulang Fatim terus saja menangis langsung masuk ke kamar. Lalu mengatakan semuannya kepada Ayahnya. Karena tidak ingin membuat malu keluarga Akbar, akhirnya Pak Fikri menceritakan semuannya kepada Ruchan. Dan Ruchan pun memberi kabar tidak menyenangkan itu kepada Akbar.
Tanpa memikirkan apapun, Akbar langsung terbang dari Jepang ke Jogja untuk memberi dukungan kepada Fatim. Karena saat ini Fatim sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya. Apalagi, malam sebelumnya, mereka berdua sama-sama mengungkapkan perasaannya masing-masing. Karena pernikahan mereka juga tinggal dua bulan lagi.