Suara Hati

Suara Hati
Bab. 64


__ADS_3

"Lalu bagaimana dengan Niki Bang" Tanya Fatim.


"Aku dan Niki hanyalah sahabat, kita sudah selesai dengan hal yang kemaren. Gimana? Siap aku lamar kerumah? Atau langsung nikah?" Goda Akbar.


Fatim tersenyum malu-malu, ingin sekali Fatim langsung mengatakan "Iya". Karena sebenarnya dirinya sudah sangat menantikan hal itu.


"Mungkin cinta itu masih kek biji segini, tapi aku mantap untuk menikah denganmu Tim, aku yakin bahwa kita ini memang di takdirkan bersama" Kata Akbar.


"Kapan Abang mau melamar ke rumah?" Tanya Fatim.


"Secepatnya, sesiapnya kamu aja. Aku kembali ke Jepang tiga hari lagi. Aku gak bisa ambil cuti lama-lama" Kata Akbar.


"Kenapa?" Tanya Fatim.


"Ya gak bisa aja, gak ada yang bisa di ajak bergantian shift soalnya" Kata Akbar.


Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya mereka memutuskan untuk mengadan lamaran dua hari lagi, itu tidak masalah bagi Akbar, karena dirinya sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelumnya.


Langit sore yang indah, cerah seperti hati dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu. Pasangan yang di persatukan oleh yang maha kuasa. Pasangan yang sudah terbentuk dari kecil itu akhirnya bersatu.

__ADS_1


Setelah Akbar mengantar Fatim pulang, Akbar meminta izin dan meminta restu agar Ruchan dan Leah mau melamarkan Fatim untuk menjadikannya pendamping hidup.


"Abang udah mantap?" Tanya Ruchan.


"Bismillahhirrohmanirrohim, Insyaallah Abang sudah mantap Bi" Kata Akbar yakin.


"Kapan kamu mau Abi lamarin?" Tanya Ruchan.


"Lusa bisa?" Tanya Akbar.


"Secepat itu?"Tanya Leah dan Sandy bersamaan.


"Kenapa gitu? Mama masih kangen sama Abang loh" Kata Leah terlihat murung.


Leah sangat menyayangi Akbar, mendengar Akbar hanya pulang sebentar saja, ia langsung merasakan kecewa. Walaupun Akbar tidak lahir dari kandungannya, namun Leah merawat dan mencurahkan kasih sayangnya seperti kepada anaknya sendiri.


"Mama mau masuk kamar dulu, Abang bicaranya sama Papa dan Abi saja ya" Kata Leah segera masuk kamar.


"Ma!" Kata Akbar.

__ADS_1


"Akbar, biarkan Mama mu sendiri dulu, kita berdua akan mengurus semua keperluan lamaranmu lusa. Ok!" Kata Sandy.


Akbar mengangguk, ia sedih melihat Leah seperti itu. Sebenarnya Akbar juga ingin kembali menetap di pesantren dan mencari pekerjaan di sana juga. Namun, ia belum bisa meninggalkan Papanya yang masih hidup sendirian sampai saat ini.


Setelah sholat Isya' di masjid pesantren, Akbar tertunduk lesu di sudut masjid itu. Memikirkan bagaimana caranya membujuk Leah agar tidak bersedih lagi. Kabir yang melihat Akbar seperti itu, ia langsung mendekatinya.


"Assallamualaikum Bang" Sapa Kabir.


"Waalaikum sallam" Jawab Akbar.


"Kenapa sih Bang murung aja, senyum kek buat aku! Kita udah lama gak ketemu, minimal ajak jalan-jalan gitu" Kata Kabir berusaha menghibur Akbar dan dirinya sendiri.


"Mama Bir, dia ingin aku lebih lama lagi di sini. Syakir udah punya rumah sendiri, Kak Ais juga udah punya kehidupan sendiri. Siapa di antara kita yang mau menemani orang tua Bir" Kata Akbar.


"Ternyata Abang sudah memikirkan itu ya? Abang gak mungkin kan ninggalin pekerjaan dan ninggalin Om Sandy sendirian di sana? Maka biarkan aku yang menemani Abi dan Mama disini bersama Ceasy. Walau bagaimanapun, Ceasy ini kan perempuan, suatu saat nanti pasti akan menikah dan ikut suaminya juga" Kata Kabir.


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu, aku lihat di jadwalmu, kau harus kembali kesana lagi kan? Dan di perkirakan akan pulang setahun setelahnya" Tanya Akbar.


Itu yang membuat Kabir bingung, dalam hatinya ia ingin menemani dan bersama dengan keluarganya di pesantren. Namun bagaimana dengan pekerjaan, tidak mungkin berhenti begitu saja di tengah jalan. Mengingat usahanya dulu masuk militer sangatlah sulit bagi Kabir.

__ADS_1


__ADS_2