
Malam semakin larut, semua orang berpamitan akan pulang. Akbar juga sudah memesan tiket untuk besok pagi pulang ke Jepang karena tidak mungkin untuk meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Setelah dua bulan, Akbar akan pulang dan segera melangsungkan resepsi seperti yang sudah di rencanakan. Kyai Ikhsan, Ilham, Ruchan dan Leah sudah pulang terlebih dahulu.
"Pak Fikri, kami pamit dulu ya. Kasihan anak-anak sudah sangat lelah. Lihat sampai ketiduran begini" Kata Rifky.
"Ndak menginap saja to Mas Rifky?" Tanya Pak Fikri
"Ah, malah ngrepotin nanti. Kami pamit dulu ya. Assallamualaikum" Salam Aisyah.
"Waalaikum sallam" Jawab Pak Fikri.
Setelah Pak Fikri mengantar Aisyah dan Rifky sampai depan rumah, ia pun masuk dan kembali menanyakn tentan bagaimana Akbar malam ini, apakah akan pulang bersama Syakir dan Kabir, atau tidur dengan Fatim.
"Lalu Akbar bagaimana?" Tanya Pak Fikri.
"Saya ngikut aja bagaimana enaknya. Kalau pulang ya, bisa bareng Syakir dan Kabir. Kalau tetap di sini...." Kata Akbar.
"Pulang aja dulu, beri Fatim waktu ok. Ayo Bang! Besok pagi kamu harus berangkat juga kan?" Kata Syakir.
__ADS_1
"Iya deh, kalau gitu aku pamit pulang aja dulu. Pak Fikri, Fatim" Kata Akbar dengan senyuman.
"Akbar nggak menginap saja? Kan sudah suami istri walau siri udH bisa tidur sekamar kan?" Tanya Fikri.
"Hah?" Kata Fatim dengan suara lirih.
"Emang boleh Kir?" Tanya Akbar kepada Syakir.
"Pernikahan siri itukan sah di mata agama namun tidak sah di mata negara karena tidak tercatat di KUA. Tapi ya kalian nggak papa sih kalau tidur sekamar. Ijab siri kalian kan udah sah, ada wali sama banyak saksi kan tadi? Sampai tetangga juga datang" Kata Syakir.
"Tapi lebih baiknya lagi, alangkah baiknya lagi loh. Maaf ya Fatim, lebih baik Fatim besok periksa aja, menghindari beberapa penyakit maaf ****. Dan Fatim juga bisa mencegah kehamilan" Kata Kabir.
"Aku akan tunda penerbangan, aku temani kamu ya. Kalian pulang aja dulu. Besok antar aku sekitar jam 10 an aja ya, aku tak kabari dulu Kak Ais buat nyuruh dia buat janji temu sama Dokter nya disana" Kata Akbar.
Syakir dan Kabir pun berpamitan kepada Pak Fikri dan Fatim. Tidak lupa juga salim dan mencium tangan Akbar, karena itu sudah kebiasaannya.
Dinperjalanan, mereka saling berdiam diri. Tidak ada topik bagus lagi yang membuat mereka saling mengobrol. Apalagi, Abangnya juga sedang mengalami nasib buruk yang menimnya.
Tuuuuuuuut....
__ADS_1
Bunyi kentut Kabir memecah keheningan di mobil.
"Wah Astaghfirullah! Kentut sembarangan to Bir!" Kata Syakir.
"Ya maaf, namanya roket terbang ya lossss, begitu pun juga kentutku hahahaha maaf ya adikku" Kata Kabir dengan wajah tanpa dosa.
"Wah! Ambune (Baunya)..... Bir wah, kamu makan apa sih? Gini amat bau kentutmu!" Kata Syakir menutup hidung menggunakan sorbannya.
"Mungkin keluar ampasnya dikit Kir. Tak chek sek" Kata Kabir menghentikan mobilnya.
"Idih, jorok banget. Berhenti di Pom bensin lah. Tuh depan sana ada Pom. Astaghfirullah hal'adzim gini nih yang bikin kamu jomblo terus" Kata Syakir.
"Ck, apa hubungannya kentut sama jomblo? Lagian cuma bau sedikit gini" Kata Kabir dengan wajah sumringah.
"Alah, jalan lah! Jalan buruan, di buka tuh kaca mobil! Matiin Ac nya!" Kesal Syakir.
Setelah beberapa meter, Kabir berhenti di Pom dan memeriksanya. Ternyata hanya kentut biasa, ia pun kembali ke mobil dan tertawa-tawa. Syakir yang melihat Kabir seperti itu merasa kesal.
Mereka berdua sudah mulai akrab lagi, karena sejak bertemu dan Syakir menikah, mereka berdua jadi kurang kebersamaannya.
__ADS_1