Suara Hati

Suara Hati
Bab. 123


__ADS_3

Jamil dan Ceasy duduk termenung di kursi taman. Sambil memakan ciloknya, Ceasy mulai menceritkan tentang perasaannya kepada Kabir.


"Udah lah Cesin. Kamu santai aja, jodoh itu ndak akan kemana, kamu ini masih SMP, nikmati dulu masa remajamu. Kalau udah besar, terus udah bekerja nanti, baru deh kamu fikirin soal jodoh" Kata Jamil.


"Ceasy C E A S Y, Ceasy! Bukan Cesin, emang bak cai? Dasar jomblo" Kesal Ceasy.


"Sesama jomblo jangan saling menghina, dah makan nih pop mie nya" Kata Jamil memberikan pop mie yang sudah ia seduhkan.


"Jalan sama Kak Jamil mah nggak kenyang. Masa iya cuma di ajak makan moe doang sih. Sekali-kali kek ngajak makan di cafe. Atau gratisin satenya milik Bapaknya Kak Jamil. Yang ada bisa magh aku ini" Kata Ceasy.


"Bocah iki loh! Hihsss tak puitess. Bersyukur to yo yo, kita masih bisa makan. Banyak loh orang-orang diluaran sana yang ndak bisa makan" Kata Jamil menjitak kepala Ceasy.


Setelah beberapa hari Akbar dan Fatim, mereka akhirnya berpamitan akan pulang ke Jepang lagi. Karena pekerjaan Akbar yang sudah tidak bisa di tunda lagi.

__ADS_1


Kali ini hanya Jamil dan Ceasy yang mengantar Akbar dan Fatim ke bandara. Syakir bersama Ruchan sedang ada jadwal tausiyah di desa sebelah, sedangkan Ilham maupun Rifky sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Langsung pulang ya" Kata Akbar.


"Iya Bang" Jawab Ceasy seraya mencium tangan Akbar.


"Akbar iki loh, kalau sama adeknya mbokya jangan galak-galak. Calon ayah itu harus sek baqoh, jembar dodone. Sabar gitu, cangkem wong lanang kok lemes" Kata Jamil sambil memakan cilok yang dibawanya.


"Jamil gemblung, rene! Awas koe!" Kata Akbar menyumpal mulut Jamil menggunakan kain.


"Assallamualaikum" Salam Ceasy.


"Assallamualaikum Fatim yang manis, Akbar yang lemes mulutnya. Kabor Ces!" Kata Jamil langsung lari terbirit-birit.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, penerbangan Akbar akan segera berangkat. Sejak mengetahui bahwa Fatim hamil, Akbar menjadi lebih perhatian kepada Fatim, bahkan tas jinjing Fatim saja, Akbar mau membawakannya.


Sampai juga di Jepang, setelah mengantar Fatim pulang kerumah, Akbar langsung menuju rumah sakit. Karena bersamaan tibanya Akbar di Jepang, rumah sakit juga sudah menghubunginnya.


"Sayang aku langsung berangkat ya. Ini nggak usah di bawa masuk, biar aku saja yang bawa masuk. Aku nggak lama kok, Papa juga pasti sedang pergi entah kemana kan?" Kata Akbar.


"Abang ah, dia kan Papa kamu." Kata Fatim.


"Ya kali dia kek anak baru gede aja, udah kek layang-layang yang putus tali benang. Pamit ya, Assallamualaikum kesayangan" Salam Akbar.


"Waalaikum sallam, hati-hati ya. Cepat kembali!" Kata Fatim melambaikan tangannya.


Sebenarnya Akbar sangat capek saat itu, tapi yang menghubunginya adalah timnya. Pasti akan ada operasi bedah besar yang siap menanti disana. Walau awalnya ia curiga dengan Dara, sering kali panggilan mendadak itu hanyalah ulah Dara yang ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


Akbar sampai tepat waktu, disana ia langsung menemui Tim nya dan segera bergabung dengan mereka. Pembedahan itu ternyata di lakukan oleh senior di rumah sakit itu. Waktu yang di butuhkan ternyata sangatlah lama, saking capeknya, setelah selesai operasi bedah itu, Akbar tertidur di di ruangannya.


__ADS_2