
Akbar masih ingat ketika ia hendak berangkat ke Jepang, dimana hari yang sangat berat bagi Akbar untuk meninggalkan keluarga disana.
Pagi itu, ketika semua berpamitan.
"Jadi berangkat hari ini kalian bertiga? Barengan?" Tanya Leah.
"Iya Ma, Abang udah janji hari ini, tiket juga udah kebeli" Kata Akbar.
"Kabir sih bisa besok, tapi maunya sekarang aja deh" Kata Kabir.
"Syakir sama Seto juga?" Tanya Leah.
"Titet udah kebeli" Jawab Syakir menunjukkan tiketnya.
"Mama sendiri ini di rumah mulai hari ini" Kata Leah murung.
"Ck, kan masih ada Abi Ma. Mama bisa mesra-mesraan lagi, siapa tau kita bisa punya adek lagi" Kata Ruchan menepuk bahu Leah.
"Abi ah, kan malu ngomongnya di depan anak-anak.Mereka cepet banget sih besarnya" Kata Leah.
"Udah ya Ma, sesekali Abang pasti jenguk Mama kok kesini. Atau Abi sama Mama kan juga bisa liburan ke sana" Kata Akbar memeluk Leah.
"Kalian berdua kenapa juga hari ini sih? Mama kan jadi kesepian" Kata Leah.
"Kan nanti ada Kak Ais yang nemenin Mama, ada Airy sama Raihan juga kan? Anggap aja si kembar itu kita" Kata Syakir.
Leah sedih ketika anak-anaknya akan pergi belajar keluar dan jauh darinya. Ruchan berusaha menenangkan Leah dan memberinya pengertian.
Aisyah dan Rifky pun sudah datang untuk menjemput dan mengantar Akbar ke bandara, kali ini Kabir akan di antar oleh Farhan, dan Syakir, Seto akan di anatar oleh Ruchan.
"Tuh Kakak kalian dah datang, Kabir, Syakir sama Seto pamitan dulu sama Kak Ais" Kata Ruchan.
"Iya Bi" Jawab Syakir.
"Assallamualaikum calon orang orang sukses!" Salam Aisyah.
"Waalaikum sallam warrahmatullahi wabbarokatuh"
"Dah siap semua nih?" Tanya Aisyah menggendong Airy, dan Raihan di gendong Rifky.
__ADS_1
"Kak" Kata Kabir, Syair dan Seto memeluk Aisyah.
Aisyah memeluk balik ketiga adiknya itu, termasuk Akbar yang berada di sampingnya, Aisyah berhasil membujuk Akbar agar pergi ke Jepang, dan menyakinkan Kabir tentang dirinya masuk ke militer.
"Makasih ya, Kak Ais emang Kakak paling top, doa doa kakak, ajaran-ajaran kakak, kasih sayang Kakak. Kita akan selalu mengigatnya ketika kita jauh dari Kak Ais." Kata Syakir menangis.
"Hey, laki-laki gak boleh nangis dong. Itu semua udah kwajiban kakak sebagai Kakak kalian. Jika kalian salah ya kakak tegur, jika kalian benar ya Kakak sanjung dong. Syakir dan Seto belajar yang rajin ya di sana, jangan lupa sholat lima waktunya, jaga makanannya, kesehatannya. Dan terpenting lagi, selalu ingat Allah ya." Kata Aisyah.
"Siap Kak, kita akan selalu ingat dengan pesan Kak Ais." Jawab Syakir.
"Ya udah yuk, dah keburu siang nanti. Kabir, Abang semangat ya! Jangan lupa kabari Abi jika kalian sudah sampai" Kata Ruchan.
"Assallamualaikum"
"Waalaikum sallam"
Tak lama Ruchan, Syakir dan Seto berangkat. Farhan dan Kabirpun juga siap berangkat. Kini Akbar, Aisyah dan Rifky pun juga berpamitan dengan Leah akan berangkat ke Bandara.
Rifky, Aisyah dan Akbar sampai di bandara, barang- barang Akbar juga di bantu bawa oleh Rifky sambil menggendong Airy.
"Sampai sini kak, makasih ya kak udah nganterin Abang." Kata Akbar.
Akbar tiba-tiba memeluk Aisyah, hatinya sangat berat untuk pergi jauh dari Kakak kesayangannya itu. Padahal mereka pernah terpisah selama enam tahun, saat Aisyah nyantri di Jawa Timur.
"Akbar jangan gitu dong, kamu itu harus semangat, buat Kakak dan orang tuamu di sini bangga. Besok kamu pulang jadi orang sukses" Kata Rifkky.
Akbar melepas pelukannya. Dan mencium tangan Aisyah dan Rfiky.
"Abang pamit Kak, doa kan Abang betah disana! Lalu Kakak sama Kak Rifky jadi ke Korea?" Tanya Akbar.
"Emm itu masih Kakak fikirkan nanti" Jawab Aisyah.
"Kabar-kabar aja ya kak, dadah keponakan Om yang ganteng dan cantik. Jaga Mama dan Ayah kalian baik-baik ya, jangan sampai Ayahmu hilang lagi Ok! Dadah Raihan, bye-bye Airy. Assallamualaikum Kak" Kata Akbar mundur alon-alon dengan tangan melambai.
"Waalaikum sallam"
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sesampainya di Jepang, Akbar langsung pulang kerumah Papanya, saat itu Papanya masih di rumah sakit, dan hanya meninggalkan pesan di meja makan.
__ADS_1
"Ah, sunyi banget, jadi kangen Airy sama Raihan. Sebaiknya aku kabari mereka sekarang. Ganti nomor dulu ah" Kata Akbar sambil merebahkan badanny ke sofa.
Namun mereka belum bisa di hubungi, mungkin karena Aisyah sedang bersama dengan Leah. Karena pasti Leah sedang sedih di tinggal ketiga putranya. Akhirnya Akbar hendak mencari udara segar di luar, memutuskan berjalan-jalan sebentar menghilangkan rasa penat.
Saat di jalan, ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat menarik perhatian Akbar, namanya Niki. Niki ini yang masih bersama Akbar sampai saat ini.
"Malam, bisakah aku membantumu?" Kata Akbar.
"Oh, iya Malam juga. Kebetulan sekali, aku ingin membawa semua ini, tapi barangku kebanyakan, jadi aku tak bisa membawanya sekaligus" Kata Niki.
"Biar aku bantu, dimana rumahmu?" Tanya Akbar.
"Tidak jauh dari sini kok. Lalu dimana rumahmu?" Tanya Niki.
"Rumahku juga tidak jauh dari sini. Kalau boleh tau, siapa namamu?" Tanya Akbar.
"Oh iya, perkenalkan, namaku Nikita. Cukup panggil Niki saja, maaf gak bisa bersalaman karena tanganku penuh" Kata Niki.
"Iya gak papa, karena aku juga tidak bisa bersentuhan dengan perempuan mana pun kecuali dengan Kakak dan Ibu Kandungku" Kata Akbar.
"Kamu Muslim?" Tanya Niki.
"Alhamdulillah iya, kamu tau Muslim?" Tanya Akbar.
"Oh, Assallamualaikum, maaf logatku masih kaku. Kakakku seorang muslimah, dia menikah dengan orang timur, Maaf namamu tadi siapa?" Kata Niki.
"Waalaikum sallam, namaku Akbar, aku baru sampai hari ini. Aku dari Indonesia. Mungkin kamu mau jadi temanku?" Kata Akbar.
"Oh tentu saja, setelah sampai rumahku, kau harus makan dirumahku ya, tenang saja. Semenjak kakakku menikahi orang timur, rumahku benar-benar bersih sesuai ajaran kalian" Kata Niki yang terlihat terengah-engah nafasnya karena membawa barang banyak. Begitupun dengan Akbar.
Semenjak saat itu, Akbar dan Niki semakin akrab menjadi sahabat, walaupun Akbar juga sudah menemukan sahabat laki-laki disana, namun tak membuat persahabatnnya dengan Niki pupus.
Bahkan mereka juga satu kampus, tapi beda jurusan. Jika Akbar di Kedokteran, Niki mengambil jurusan Sastra. Sering kali mereka jalan berdua, bahkan sudah seperti pasangan kekasih. Namun kehidupan Jepang tak membuat Akbar melupakan jati dirinya sebagai seorang muslim. Ia tetap menajalankan sholat lima waktu dan bertadarus saat waktu luang.
Hingga akhiranya benih-benih cinta dalam diri mereka tumbuh, namun tetap mereka tahan sampai 6 tahun setelah itu.
Kuatnya mereka memendam rasa selama bertahun-tahun, ibarat anak gaul jaman sekarang menjadi teman rasa pacar.
Mereka juga sering bergantian menunggu dan mengantar kerl rumah ibadah sesuai dengan keyakinan mereka. Kadang jika Akbar sedang sholat, Niki menunggunya di luar Masjid. Begitupun sebaliknya, jika Niki sedang sembahyang di Greja, Akbar menunggunya di luar Greja.
__ADS_1