Suara Hati

Suara Hati
Bab. 76


__ADS_3

"Abang itu mau menghindar dari Kak Ais. Makanya gelisah gitu" Kata Kabir.


"Menghindar? Kenapa?" Tanya Ruchan.


"Ini semua karena Mama, Jamil dan Abang." Kata Kabir.


"Comel banget mulutnya" Bisik Akbar.


"Kok Mama sih? Mama masih polos, gak tau apa yang kalian bicarakan. Mama panggil Ceasy dan Syakir dulu ya" Kata Leah langsung kabur.


"Tuh kan? Belum apa-apa aja Mama udah kabur, bagaimana nanti kalau Kaka Ais datang. Siap-siap deh di unyek-unyek" Batin Akbar.


Ika langsung menyusul Leah untuk memanggil Syakir sarapan, karena ia sangat canggung jika menunggu di dapur bersama Ayah mertua dan saudara Syakir disana.


"Buk, biar Ika aja yang panggil Ustad" Kata Ika.

__ADS_1


"Kok panggilnya Ibuk sih? Mama dong, kayak anak-anak Mama yang lain. Lagian kamu juga udah nikah, masih aja panggil Syakir Ustad. Panggil sayang gitu" Goda Leah.


"Assallamualaikum" Salam Ika dengan pipi memerah.


"Waalaikum sallam, pfft kembarannya si Syakir, pemalu tapi lucu. Tapi kenapa dulu aku gak gitu ya? Malah pas malam pertama langsung aku yang gas pol, sampai si Abi gugup. Kalau mereka gimana ya?" Kata Leah sambil menghayal.


Ika langsung masuk kamar tanpa mengetuk pintu, ia juga langsung menutup pintu dan memgang kedua pipinya yang merona karena godaan Leah. Hingga tidak menyadari kalau Syakir belum memakai baju setelah mandi.


"Assallamualaikum, kenapa pipinya di pegangi gitu?" Tanya Syakir santai.


"Aaaaaaaaa" Teriak Ika langsung membalikkan badan ke arah pintu.


"Malu kenapa coba? Kita kan udah suami istri, boleh dong saling melihat" Bisik Syakir di telinga Ika.


"I-i-itu sarapan udah siap, aku tunggu di dapur ya. Semua su-su-sudah menunggu" Kata Ika gugup dan hendak keluar dari kamar.

__ADS_1


Syakir menahan tangannya, niat hanya menggoda Ika, namun Ika malah menangis karena masih takut di sentuh Syakir.


"Hiks, hiks" Rintih Ika.


"Loh kok nangis. Aku cuma bercanda Dek, jangan nangis dong" Kata Syakir menyeka air mata Ika.


"A-a-aku m-m-masih belum bi-bisa Ustad" Kata Ika.


"Sttt, aku cuma bercanda. Gak mungkin dong aku maksa kamu. Lihat aku, aku minta maaf ya" Kata Syakir.


Permintaan maaf Syakir malah membuat Ika semakin menangis, Syakir yang tidak bisa melihat Ika menangis pun langsung memeluknya. Ia tau jika Ika bukan wanita seperti Leah dan Aisyah. Ika sangat pemalu dan belum pernah berdekatan langsung dengan laki-laki yang belum menjadi mahromnya.


"Udah ya, aku kan belum pakai baju nih, kamu kalau mau nunggu di meja makan sama yang lain gak papa. Aku pakai baju dulu ya, tunggu di sana. Ok!" Kata Syakir dengan lembut.


Ika mengangguk tanda setuju. Dengan penuh keberanian, Ika mencium pipi Syakir dengan cepat dan langsung keluar dari kamar. Tidak hanya Syakir, Ika pun merasakan jantungnya ingin lepas dari dadanya.

__ADS_1


"Barusan dia cium aki? Kayak gini rasanya di cium istri?" Kata Syakir memegusap-usap pipinya yang baru saja Ika cium.


Saking senangnya, Syakir hingga lupa berpakaian dan langsung keluar. Melihat Ika yang tersenyum-senyum sendiri, Leah merasa ada sesuatu yang terjadi di antara anak dan menantunya itu.


__ADS_2