
Fatim terkejut, jantungnya berdebar-debar. Ingin sekali ia menjerit dan meronta karena masih teringat jan kejadian dua bula lalu. Namun, ia mengingat apa yang Niki katakan sore tadi.
"Ingat, beri Akbar kesempatan. Ini saatnya kamu mencoba untuk bangkit"
Fatim tersenyum, ia membalas pelukan Fatim dengan menggenggam tangan Akbar yang kini ada pada perut Fatim.
"Tumben? Biasanya aku peluk dia selalu kaget dan menolak" Kata Akbar dalam hati.
Akbar heran dengan Fatim,biasanya akan meniloknya. Namun kini ia membalas pelukan Akbar, bahkan ketika Akbar iseng mencium pipinya, Fatim hanya tersenyum.
"Ada yang beda nih?" Tanya Akbar.
"Nggak suka?" Kata Fatim.
"Suka, suka banget. Aku mencintaimu" Kata Akbar membisikkanya di telinga Fatim.
"Geli Bang, mandi dulu sana" Kata Fatim mencubit perut Akbar.
__ADS_1
"Ih mulai genit, awas aja nanti" Kata Akbar.
Akbar masuk kedalam kamarnya untuk bersih-bersih terlebih dahulu. Sedangkan Fatim melanjutkan memasak dan menyiapkan makan malamnya. Besok Fatim akan mencoba apa yang dikatakan oleh Dokter, Niki dan Oshi.
Makan malam dan tidur malam saat itu sangat berbeda untuk Akbar. Fatim menjadi lebih manja, dan nempel dengannya. Bahkan Akbar makan saja Fatim menyuapinya. Sedikit demi sedikit rasa takut Fatim di sentuh Akbar sudah menghilang. Karena Fatim tahu, Akbar laki-laki yang baik, bukan seperti Arfan yang brengsek itu.
Hari selanjutnya, pagi-pagi sekali Fatim membangunkan Akbar sholat subuh dengan kecuoan lembut di pipinya. Suami mana yang tidak bahagia di bangungkan dengan ciuman mesra di pagi hari.
Setelah sholat subuh berjama'ah, Fatim menyiapkan sarapan dan tas medicalnya di meja makan, tidak lama setelah itu, Akbar keluar dan sarapan.
"Wuiihh apa ini? Kamu masak sebanyak ini pagi-pagi?" Tanya Akbar.
Akbar sangat-sangat bersyukur atas perubahan Fatim tersebut, senyumannya kini kembali lagi. Bahkan sifat jahil dan manjanya juga sudah kembali.
"Sayang, aku suka lihat kamu yang kayak gini" Kata Akbar menggenggam tangan Fatim.
"Alhamdulillah, kemarin aku di temani Niki dan Oshi chek up. Dan lihat, hasilnya membuatku senang" Kata Fatim menunjukkan hasil tesnya.
__ADS_1
"Wah, rahim kamu sudah membaik. Ini artinya, bisa dong kita mencoba? Siapa tahu rezeki kita dan kamu bisa hamil sayang" Kata Akbar membelai pipi Fatim.
Fatim tersipu malu, ia menganggukkan kepalanya tanda ia setuju. Akbar sangat girang dan menciun kening Fatim, lalu memeluknya sangat erat. Beryukur dan terus bersyukur.
"Malam ini aku pulang cepat ok! Aku selesai sarapan, aku berangkat dulu ya. Assallamualaikum, aku mencintaimu Fatim" Kata Akbar sangat bahagia.
"Waalaikum sallam, hati-hati ya" Kata Fatim mencium tangan Akbar.
Ketika Akbar hendak pergi, Fatim memanggilnya, lalu menarik tangan Akbar dan mencium pipi Akbar dengan lembut. Sudah dua kali ciuman pagi ini, Akbar pun membalas ciuman itu dengan ciuman di bibir Fatim.
Akhirnya, ciuman itu Akbar dapatkan juga pagi itu. Namun Akbar masih bisa mengontrol nafsunya, karena pagi ini ia harus segera bergegas ke rumah sakit.
"Ternyata sarapan ini lebih mengenyangkan hatiku daripada perutku. Aku berangkat dulu ya, Assallamulaikum" Kata Akbar menyentuh bibir Fatim menggunakan jari tangannya.
"Waalaikum sallam, ha-hati-hati ya Bang" Kata Fatim gugup.
Jantungnya berdetak kencang, Fatim sampai salah tingkah saat itu. Ingin menyapu lantai malah mengambil kemoceng, ingin menyikat kamar mandi malah mengambil sikat gigi.
__ADS_1
"Aduh, kenapa aku ini?" Kata Fatim dalam hati, sambil memegang dadanya yang berdebar sangat kencang. dan tangan gemetar.