Suara Hati

Suara Hati
Bab. 120


__ADS_3

6 bulan berlalu, Fatim sudah hampir frustasi dengan keinginannya menimang buah hati. Apa lagi semakin hari, Dara semakin memperlihatkan perasaannya kepada Akbar. Fatim pun sudah tahu niatan Dara sejak awal.


Hari ini hari pernikahan Oshi dengan Yasha. Karena keluarga Yasha tidak bisa ke Jepang, maka acara itu di lakukan di kota asal Yasha. Niki juga sudah memiliki kekasih, itu yang membuat Fatim merasa cemas. Oshi dan Niki sudah jarang menemaninya lagi karena sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Sayang, kamu kenapa sih? Kok dari tadi cemberut aja, kita mau mampir juga loh kerumah Abi dan Ayah, mumpung kita sedang di tanah air" Kata Akbar.


"Aku belum siap bertemu dengan Kak Ais, Ika dan Mbak Sera Bang. Pasti perut mereka sudah membesar" Kata Fatim dengan lemah.


"Jadi mau langsung pulang ke Jepang nih?" Tanya Akbar.


"Tapi aku kangen sama Ayah, kangen juga dengan Airy dan Raihan" Kata Fatim.


"Ya terus mau bagaimana dong? Aku nurut aja deh sama kamu. Baiknya aja bagaimana, menurut kamu nyaman aja" Kata Akbar membelai kepala Fatim.


"Tapi aku nggak boleh egois kan ya? Kita pulang dulu deh ke rumah Abi, setelah itu baru ke rumah Ayah. Tapi sebentar aja ya, aku kayak nggak enak gini badannya, pusing dan lemes banget. Mungkin kecapekan aja" Kata Fatim menyandarkan kepalanya di kursi mobil.

__ADS_1


"Aku periksa aja ya, chek up yang dua minggu lalu belum kamu lakukan juga kan? Aku takut kamu malah sakit, jadi makin lama kita pulang ke Jepangnya" Kata Akbar menyentuh kening Fatim.


"Aku nggak papa kok Bang, paling istirahat sebentar juga nanti sembuh" Kata Fatim memejamkan matanya.


Ketika Akbar kembali mengemudikan mobilnya, Dara menelfonnya. Fatim meminta Akbar untuk mengangkatnya, karena takutnya ada hal penting yang akan ia sampaikan.


"Assallamualaikum, ada apa!" Tanya Akbar sinis.


"Ih sinis amat sih, kamu dimana? Setelah acara selesai kok langsung pergi sih?"


"Aku pulang kerumah orang tuaku. Kenapa? Ada hal penting apa sehingga kau menelfonku?" Tanya Akbar masih ketus.


"Maaf aku nggak bisa. Jika sudah selesai aku akan tutup telfonnya" Kata Akbar.


"Abang I Love You, aku sudah lama mencintaimu. Di sampingmu nggak ada istrimu kan? Kalau saat telfon denganku, kamu menjauh dulu dengan istrimu. Takut dia nggak kuat, dan malah akan membuatnya kambuh penyakitnya"

__ADS_1


"Aku tegaskan sekali lagi Dokter Dara yang terhormat, istriku sehat-sehat saja. Aku hanya mencintainya, dan terima kasih atas cintamu padaku itu. Tapi maaf, aku tidak bisa membalasnya. Wassallamualaikum" Akbar langsung menutup telfonnya.


Fatim juga mendengar hal itu, sedih iya. Fatim ini hatinya gampang sekali rapuh, mulut Dara telah melukai hati Fatim dengan menyebutnya penyakitan. Fatim pun mulai menangis.


"Sayang, kamu jangan nangis dong. Bentar aku pinggirin dulu mobilnya" Kata Akbar.


Akbar dan Fatim pulang dengan meminjam mobil milik Yasha yang di kampungnya. Mobil itu akan di kembalikan nanti oleh salah seorang santri di pesantren.


"Sayang, aku sudah bilang kan. Aku tadi nggak mau angkat telfon dari Dokter Dara, tapi kamu maksa aja sih. Jangan nangia dong, nanti jeleknya nambah" Goda Akbar.


"Apa aku ini bisa di sebut penyakitan ya? Aku hanya sulit hamil saja kan? Hoek, hoekk..." Fatim tiba-tiba muntah.


"Kamu sakit Yang? Atau salah makan tadi? Coba sini aku priksa dulu, bentar aku ambil tas aku" Kata Akbar mengambil tas medisnya di kursi belakang.


Akbar kembali memeriksa Fatim berkali-kali. Ia menemukan kejanggalan di detak jantung Fatim. Ia kembali memeriksanya lagi, wajahnya nampak seperti orang yang sedang heran atau tidak percaya begitu saja.

__ADS_1


"Itu ada apotek, aku kesana dulu ya" Kata Akbar keluar dari mobil.


Beberapa saat kemudian Akbar kembali membawa barang yang di simpan di saku hoodie nya. Saat masuk, ia mengeluarkan sebuah alat tes kehamilan. Dan meminta Fatim untuk mengetesnya saat itu juga.


__ADS_2