
Melewati ketegangan dan kekecewaan, akhirnya mereka sampai di taman. Karena keburu hujan dan tidak membawa jas hujan, mereka pun meneduh sambil makan di warung bakso. Hujan semakin lebat, mereka berdua hanya bisa pasrah menunggu hujan reda.
"Kenapa? Masih lapar? Gih sana pesen bakso lagi" Kata Kabir.
"Enggak kok. Cuma lagi mikir aja" Kata Ceasy.
"Mikir apa? Emang anak sekecil kamu bisa mikir gitu" Kata Kabir sewot.
"Aku mau kuliah di Korea, seperti Kak Ais dulu" Kata Ceasy tiba-tiba.
Kabir melihat Ceasy, wajahnya sangat dekat dengan wajah Ceasy. Jantung Ceasy berdetak sangat cepat, ia terbawa perasaan, bahkan ia berharap lebih dari itu. Lamunanya terhenti karena Kabir tertawa.
"Hahaha kamu mau ke Korea? Banyak kapis disini, kenapa sampai kesana segala?" Tanya Kabir sambil tertawa.
"Karena aku ingin fokus mengejar cita-citaku. Dibandingkan harus mengejar cintaku" Kata Ceasy.
"Cinta?" Tanya Kabir.
__ADS_1
"Aku mencintamu Kak, tolong kasih aku kesempatan" Kata Ceasy menarik jaket Kabir.
Kabir hanya diam saja, wajahnya menunduk. Sesekali ia menatap Ceasy, menghela nafas panjangnya. Kabir hanya tidak ingin Ceasy terhambat belajarnya jika jatuh cinta lebih dini.
"Hujan nggak reda-reda juga. Kita sebaiknya nekat pulang, karena waktu juga sudah mau maghrib, aku nggak mau nanti Mama marah denganku. Ayo," Kata Kabir.
"Kak!" Kata Ceasy penuh harap.
"Maaf Ceasy, aku sudah ada perempuan lain yang ingin aku nikahi. Kau masih muda, jalanmu masih panjang, dan aku ini Kakakmu, cukup sayangi aku layaknya Kakakmu" Kata Kabir mematahkan hati Ceasy.
Kabir tidak menyusul, ia hanya mengendarai mototnya dari belakang Ceasy. Tidak sengaja lewat di depan warung usaha milik keluarga Jamil, dan disana Jamil.melihat Ceasy yang sedang menangis. Ia pun menghampirinya menggunakan payung.
"Assallamualaikum, Cesin" Kata Jamil.
"Kak Jamil" Kata Ceasy menangis tersendu-sendu ketika Jamil menghampirinya.
"Kamu kenapa? Kok ba........" Kata Jamil terhenti ketika melihat Kabir melintas.
__ADS_1
Bukan karena Kabir laki-laki yang tega hati. Ia hanya ingin Ceasy melupakan perasaannya kepadanya. Kabir memberi kode kepada Jamil untuk mengurus Ceasy. Tanpa bertanya lagi, Ceasy pun dibawa masuk ke warung oleh Jamil.
"Maafkan aku Ceasy, ini yang terbaik di antara kita. Bukan maksudku untuk menyakitimu seperti ini. Hanya Allah dan hatiku yang tau alasanku menolak cintamu. Kau adalah adikku, dan selamanya akan menjadi adikku. Aku sudah memiliki orang yang aku ingin nikahi nanti"
Ceasy terus menangis, ia mencurahkan isi hatinya kepada Jamil, karena Jamil juga belum pernah jatuh cinta, ia tidak bisa merasakan apa yang Ceasy rasakan. Jamil pun memberinya saran untuk menjauh dari Kabir. Dan menceritakan gadis mana yang Kabir dambakan.
"Cesin udah dong, yang namanya cinta itu nggak harus memiliki bukan? Kau harus kuat, jalanmu masih panjang Cesin" Kata Jamil memberi Ceasy jeruk hangat.
"Kak Jamil nggak pernah jatuh cinta sih, jadi nggak tau rasanya ngampet tresno karo ngampet loro" Kata Ceasy.
"Ku kasih tau kamu ya, Kabir itu sudah ingun serius dengan seseorang. Namanya Nisa, sahabatnya saat di SMA dulu. Jika kamu bertanya dengan Abangmu, si Akbar dia tahu siapa Nisa. Dia adalah putri dari Gus tetangga kota kita, mereka sudah di jodohkan sejak saat mereka masuk SMA, dan mereka berdua sudah menerima satu sama lain, jadi stop berharap, Ok!" Kata Jamil.
"Aaaaaa Kak Jamil, aku cidro" Kata Ceasy menangis tambah keras.
"Aduh biyung alah, cup, menengo. Nangise kok tambah banter loh ini" Kata Jamil.
Sore itu, Jamil mengantar Ceasy pulang kerumah. Keadaan Ceasy kacau, Leah memarahi Jamil karena baru mengantar Ceasy pulang ba'da maghrib. Lagi-lagi Jamil yang kena omelan Leah. Di saat Ceasy pulang, ia melihat Kabir yang tengah duduk santai di depan laptopnya sambil minum teh hangat, tanpa melirik Ceasy sedikitpun.
__ADS_1